Menjaga Rasa Percaya

Bermula dari rasa percaya.

Berawal dari rasa percaya bahwa Allah itu ada, maka kemudian iman bersemi di dalam hati. Percaya bahwa amal shalih dapat menghantarkan perjumpaan kita pada Sang Maha Pencipta (1) maka kemudian kita bergiat dalam beribadah kepada-Nya. Percaya bahwa Allah itu Esa dan Yang Maha Kuasa atas segalanya, maka makin kuat akidah kita, makin taat kita kepadanya. (2)

Bermula dari rasa percaya.

Masuknya Abu Bakar ke dalam Islam tentu saja karena hidayah dari Allah SWT. Namun jika ditelusuri, munculnya hidayah selaras dengan besarnya rasa percaya Abu Bakar pada sang sahabat karib, Muhammad bin Abdullah.

Bermula dari rasa percaya.

Begitu banyak kebaikan-kebaikan bersemi dari tumbuhnya rasa saling percaya. Meski rasa-rasanya, stok rasa percaya ini semakin lama semakin berkurang jumlahnya. Ah ya, berkata begini berarti saya juga sedang-kurang-percaya-ya? -.-”

Yah, tentu saja saya tidak sedang pukul rata🙂 Pada beberapa orang saja, yang sedang krisis rasa percaya.

Murid-murid yang mencontek selama ujian. Sedang kurang rasa percayanya pada ikhtiar dan doa.

Para remaja, para anak muda, yang suka merokok atau minum-minuman, suka nongkrong-nongkrong tidak jelas, dengan alasan menghilangkan rasa gundah atau lelah…  sedang terkikis rasa percayanya pada Al-Qur’an sebagai obat paling mujarab bagi hati.

Para orangtua yang berbondong-bondong mengirimkan anaknya pada program pelatihan anak jenius dalam sehari (if you know what I mean ^^), sedang terkikis rasa percayanya akan kemampuan luarbiasa yang Allah titipkan pada buah hatinya.

Padahal dari rasa percaya, bermula berjuta kebaikan lainnya. Dan menurut saya, menjaga kualitas rasa percaya, dapat melahirkan kebaikan berkualitas lainnya.

<Ehm, maksudnya?>

Begini, begini. Kita ambil contoh dari orang yang saling pacaran. Orang yang sedang pacaran, berarti dia sedang kurang percaya pada Allah soal takdir-tentang jodoh yang sepadan yang sudah disiapkan baginya. Maka rusak sudah kualitas percayanya pada Allah karena hal itu. Terlebih jika pacaran ini putus, maka saat akan mulai menjalin hubungan dengan orang lain, bukan tidak mungkin dia akan membutuhkan waktu untuk mulai memberikan rasa percayanya pada pasangannya yang baru. See? Bukankah kualitas rasa percaya yang ia miliki, yang akan ia bagi pada seseorang yang baru, sudah tidak dalam kondisi prima lagi? Sedang diupayakan, setidaknya.

Begitulah.

Semoga kita termasuk orang-orang yang masih kaya dengan rasa percaya.

Percaya bahwa seseorang akan memegang janjinya pada kita, muaranya adalah rasa khusnudzan, dan doa agar orang tersebut tetap setia dengan janji-janjinya.

Menjaga rasa percaya yang dititipkan seseorang melalui amanah-amanah, tugas-tugas yang diberikannya pada kita, muaranya adalah sikap totalitas kita pada kerja-kerja kita.

Menjaga kualitas rasa percaya dengan mempercayai dan menjadi yang dipercaya.

Menjaga kualitas rasa percaya, maka semoga kelak melahirkan amalan-amalan yang berkualitas pula. Amiin.

-yang sedang belajar mempercayai, dan dipercayai-

Referensi:

(1)    Al-Kahfi: 110 >> “Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku ini manusia biasa seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah dia mengerjakan amal shalih dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya.”

(2)    An-Nahl: 51-52>> “Allah berfirman: Janganlah kamu menyembah dua tuhan; sesungguhnya Dialah Tuhan Yang Maha Esa, maka hendaklah kepada-Ku saja kamu takut. Dan kepunyaan-Nya lah segala apa yang ada di langit dan di bumi, dan untuk-Nya lah ketaatan itu selama-lamanya. Maka mengapa kamu bertakwa kepada selain Allah?”

 

4 thoughts on “Menjaga Rasa Percaya

    • dr prtnyaan ini sy mnyadari bhwa postingan sy ini sbnernya sgt dpngaruhi konteks yg trjadi saat sy mnulisnya*formalmode*

      Innallaha yukhibbul muqsithiin,ssungguhnya Allah mncintai org2 yg berbuat adil (al mumtahanah:8). Tntunya bkn krn alasan menjaga rasa percaya lalu mnutup diri dr realita sbnrnya. Qt hrus bersikap adil dan justru brhati- hati jk memang perlu (spy tdk smakin rusak nilai percaya qt sama org tsb). Tp jgn smpai, qt tdk mnyisakan ruang prcaya lg pd sseorang, bsa jd suatu saat sgla ssuatunya berubah. Mnyikapi sgl ssuatu dg adil, singkatnya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s