Mencintai

“Kalau intinya cinta adalah memberi, maka pemberian pertama seorang pencinta sejati adalah perhatian. Kalau kamu mencintai seseorang, kamu harus memberi perhatian penuh kepada orang itu. Perhatian yang lahir dari lubuk hati paling dalam, dari keinginan yang tulus untuk memberikan apa saja yang diperlukan orang yang kamu cintai untuk menjadi lebih baik dan berbahagia karenanya.” (Anis Matta, Serial Cinta).

Maka jika benar perhatian adalah pemberian pertama, sebelum pemberian-pemberian lainnya, saya takut, bahwa ternyata saya belum memberikan apapun. Dan itu juga berarti bahwa saya sebenarnya belum mencintai apa-apa.

Dan jika betul ternyata saya belum benar-benar mencintai, maka saya benar-benar berharap bahwa saya sedang tidak menjadi manusia mekanis. Yang kelihatannya terus bergerak, terus menghasilkan, namun pada akhirnya akan berakhir kelelahan.

Kalaupun akhirnya saya ternyata sudah digolongkan sebagai manusia mekanis, setidaknya di titik ini saya sudah mengakhirinya.

Dan jika benarlah lah bahwa saya sebenarnya belum mencintai, ijinkanlah saya untuk menyebutnya sebagai sebuah usaha. Bahwa saya sedang belajar untuk mencintai. Sehingga nanti akhirnya, bukan cerita tentang kepayahan yang tecipta. Cukup senyuman dan wajah cerah itu sebagai penanda, bahwa saya sudah berhasil memaknai. Dan barulah saya bisa mengaku-ngaku bahwa saya mencintainya. Amat teramat mencintainya.

 

Image

 

_disaat segalanya rindu untuk diberi rasa _

One thought on “Mencintai

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s