Tentang Nabil (part 1)

Tentangnya sangat ingin saya abadikan dalam blog ini. Agar orang-orang bisa belajar darinya. Belajar untuk lebih menghargai hidup dan memaksimalkan seluruh potensi yang dititipkan Allah pada diri kita masing-masing.

Tentang Nabil, seorang anak yang mengajari saya tentang begitu banyak pelajaran. Seorang anak yang menunjukkan saya arti kesabaran, khusnudzan pada Allah, dan makna kesungguhan. Seorang anak yang akhirnya, pada tanggal 10 Januari 2013 yang lalu, menjadi kebersamaan terakhir saya untuk mendampinginya di sekolah. Dan menyisakan rasa rindu yang amat sangat…

Mei 2012

Hari itu, pertama kalinya kudengar cerita tentangnya, dari seorang teman. Lantas teman itu menawarkan, “Berminat, Hus?”.  Entah kenapa langsung kujawab pasti dengan “tentu saja”. Akhirnya Selasa pagi saya kunjungi sekolahnya, dan bertemu dengan kepala sekolah.

“Jadi begitu bu Husni, tidak ada yang bisa bertahan lama menjadi gurunya. Ada sebetulnya GPK (guru pendamping kelas/ dalam bahasa inggris disebut shadow teacher) yang cukup lama bertahan, tapi dengan beberapa catatan yang kurang baik, meski beliau sudah sangat berusaha semaksimal mungkin untuk memahami Nabil, akan tetapi saya tidak ingin  hal itu terjadi pada Nabil pada semester ini. Guru-guru yang gonta-ganti itu bertahan sekitar 3 bulan, malah ada yang 1 bulan.”

Tidak ada yang bertahan lama? Semengerikan itukah kau nak sampai guru-guru itu tak kuat berlama-lama? Saya membatin.

“Jadi memang Nabil masih sangat agresif, di kelas Nabil masih sangat sering menjambak, menendang, atau mencubit teman-temannya, bahkan guru nya sekalipun. Itu waktu masih dalam keadaan emosi baik lho, Bu. Kalau saat sedang tantrum (emosi meningkat dan biasanya sulit dikontrol), Nabil bisa menjambak sangat keras, bahkan menggigit gurunya. GPK-GPK sebelumnya sudah banyak yang kena tanda cintanya Nabil (baca: bekas gigitan). Mungkin itulah sebabnya tidak ada yang bertahan lama.”

Saya masih diam, dan ibu Kepala sekolah melanjutkan.

“Toilet trainingnya belum berjalan baik, Nabil bisa pipis dimana saja sewaktu-waktu, di kelas, di karpet, ngompol. Karena pipisnya yang begitu, dari pihak rumah pernah menggunakan botol untuk tempat pipis Nabil, meski sudah dilarang oleh sekolah agar menggunakan cara lain. Karena dulu itu, botol tempat pipis Nabil itu pernah hampir diminum oleh teman sekelasnya. Dikira teh… Lah kan didalem botol aqua. Akhirnya Nabil sering dipakaikan popok.”

Popok? Usianya sudah 7 tahun dan dia masih diperbolehkan pakai popok? It’s definitely wrong… Saya mengomentari sendiri dalam hati.

“Dalam hal komunikasi Nabil juga belum bisa bicara banyak, kata-kata yang sudah bisa dikeluarkan olehnya seputar a-i-u-o… Selamat pagi misalnya, bunyi suaranya jadi a-i.. , siang menjadi i-a…”

Baik, berarti Nabil memang masih tergolong autism dengan level tinggi. Usia 7 tahun, berada di TK A, toilet training belum berjalan, komunikasi belum muncul, dan tentu saja, PR besar… Nabil masih menyakiti orang sekitar, dalam kondisi emosi yang normal sekalipun.

“Bagaimana Bu Husni setelah saya beritahu profile anaknya? Saya menerangkan apa adanya agar punya gambaran yang lengkap dan bisa memutuskan dengan tepat. Bersedia jadi gurunya Bu?” kepala sekolah menekankan titik pertanyaannya.

“Ya, tentu saja Bu,” jawab saya sembari tersenyum pada kepala sekolah.

Dan akhirnya saya berhenti sejenak dari aktivitas kuliah di sebuah kampus (saya kuliah dua, yang satu sudah lulus, yang satu masih proses ). Dan sungguh tidak sia-sia keputusan saya untuk berhenti sejenak dari dunia perteorian di kampus. Hari-hari penuh pengalaman berharga itu dimulai…

Akhir Mei 2012.

Sudah setengah jam saya duduk di dalam kantor sekolah. Melempar pandang ke jendela, menunggu Nabil. Sudah jam 07.30 dan dia belum datang. Tidak lama saya melihat seorang anak berkulit putih terlihat memasuki sekolah, bersama seorang pria-ayahnya mungkin. Saya berdiri, berusaha melihat lebih jelas anak yang sedang menelengkan (memiringkan kepalanya) itu. Mungkinkah itu… Nabil? Tidak lama kemudian ibu kepala sekolah memanggil saya dan berkata, “bu Husni, itu dia Nabil, sudah datang….”. Deg! Saya mendadak deg-degan, sedikit tegang. Tapi itu semua berubah saat melihatnya lebih dekat. Masya Allah! Inikah anak yang membuat mereka tidak bisa bertahan lama?. Anak dengan wajah putih, bersih lembut, anak laki-laki tampan dengan mata bening, dan… ah, mungkinkah anak seperti itu yang bisa bersikap seperti dalam cerita-cerita itu???

“Assalamu’alaykum Nabil” ujar saya sambil mendekatkan wajah saya ke wajahnya, berusaha mendapatkan kontak matanya. Responnya? Seperti anak autis pada umumnya yang sangat susah melakukan kontak mata degan lawan bicaranya. Tidak memandang saya sama sekali. Seperti tidak ada yang memberi salam. Saya pegangi dagunya dan mengarahkannya perlahan ke arah wajah saya, “Assalamu’alaykum Nabil” saya mengulang, sembari tersenyum lebih lebar. Dan Klik! Sepersekian detik akhirnya tatapan mata kami saling bertemu. Pria disampingnya, yang ternyata memang benar ayahnya kemudian menuntun Nabil membalas salam. Dan dengan isyarat bibir dan bunyi-bunyi yang belum terlalu jelas saya tangkap sebuah jawaban mirip perkataan “wa’alaykumussalam”. Ah ya, ibu mengerti. “Yuk, masuk!” Lalu saya merangkulnya naik tangga. Sang ayah membungkuk, berpamitan, lalu pergi.

My first day with him.

Seperti pesan sekolah, mungkin saya harus mengikuti gaya shadow teacher sebelumnya, agar Nabil tidak kaget dengan adanya guru pendamping yang baru. Yah, karena masih membaca situasi, saya turuti semua saran untuk tetap bertahan pada metode yang digunakan oleh guru sebelumnya pada Nabil. Berharap Nabil tidak kaget.

Hari pertama mengajar Nabil. Hingga sesi opening di kelas Nabil masih bersikap baik, mau duduk dengan baik diantara teman-teman lainnya. Tapi setelah itu, perlahan situasi mulai berubah. Nabil mulai bosan. Tentu saja, dengan catatan hiperaktif dan autis yang ada padanya, sangat amat sulit untuk memintanya duduk 5 menit secara mandiri. Betul saja, Nabil mulai bosan duduk di atas meja kursi itu mendengarkan sesi mendongeng guru kelas. Saya, sesuai instruksi agar meniru metode guru sebelumnya untuk duduk di belakang kursi Nabil, dan memastikan Nabil tetap mengikuti semua kegiatan di kelas, tentu saja menahannya untuk tetap duduk, dan fokus mendengarkan guru kelas. Meskipun saya sendiri merasa metode ini tidak cocok untuk Nabil. Tapi karena takut merusak “keberhasilan” yang sudah bisa didapat oleh GPK sebelumnya untuk menahan Nabil duduk, maka mau tidak mau saya harus mencoba metode itu.

Lalu pergelutan itu dimulai… Nabil mulai mencubit tangan saya (masih belum terasa sakitnya, karena saya pakai deker), mulai lebih keras lagi mencubit, dan memperluas area cubitan menjadi ke kaki, ke punggung tangan, dan akhirnya sampai menarik jilbab saya (guru-guru sebelumnya yang laki-laki/ perempuan tapi tidak berjilbab biasanya dijambak, tapi karena saya berjilbab akhirnya jilbab saya yang ditarik). Tarikannya makin keras. Saya agak was-was juga, bukan karena sakitnya, takut tertarik dan terbuka.

Saya pegangi tangannya supaya tidak bisa mencubit. Seperti tak kehabisa ide, Nabil kemudian mengggigit punggung tangan saya yang menahan tangannya tadi. Au! Saya berjerit, dalam hati tentunya. Sakit ternyata.. Masya Allah. Masih saya berusaha menahannya untuk duduk. Tanpa terduga Nabil mencakar wajah saya. Awalnya kena, cakaran kedua berhasil saya tangkis dengan menangkap tangannya. Nabil yang merasa gagal melampiaskan marahnya mulai berteriak keras, menggigit, dan menangis kencang. Berteriak-teriak, ingin meloncat dari kursi dan mulai akan menendang sekitarnya. Nabil mulai melempari segala macam barang yang ada di meja. Nabil mulai tantrum. Guru kelas yang sudah sedari tadi menyadari hal teresebut segera membantu saya.  Memegangi Nabil supaya tidak menyerang saya, atau teman-temannya. Alih-alih berhasil membantu, guru kelasnya justru kena jambak juga (beliau belum berjilbab). Akhirnya seperti prosedur yang sudah-sudah, Nabil akan dibawa ke ruang isolatif, dan disendirikan terlebih dahulu sampai tenang, baru kemudian kembali ke kelas. Masya Allah… mengajaknya untuk sekedar keluar dari kelas pun butuh tenaga ekstra. Di tengah jalan saat hampir mencapai knop pintu, tiba-tiba lantai basah. Nabil mengompol. Ini sudah mengompolnya yang ketiga sepanjang kelas tadi. Butuh tenaga 3 orang untuk mengganti celananya. Nabil masih saja berteriak, tidak mau mendengar pengertian dari kami untuk tenang sejenak agar bisa mengganti celananya. Tidak memahaminya, Nabil masih terus tantrum, berteriak, menangis, dan berusaha menggigit. Guru kelas yang menyadari celana serep Nabil tinggal satu, bergegas ke kelas dan mengambil simpanan pampers milik sekolah. Saat bersiap akan memakai popok, saya melarangnya. “Jangan bu! Jangan dipakaikan popok. Biar nanti kalau Nabil pipis biar saja dia pakai celana basahnya itu kalau habis. Biar Nabil tahu, ngompol itu salah dan bikin nggak nyaman karena celana basah.”

Heran juga kenapa saya bicara begitu dihadapan orang yang sudah setahun lebih lama bersama Nabil (lebih tahu). Akhirnya Nabil tidak memakai popok. Diiringi dengan rasa deg-degan saya sendiri, kalau nanti ngompol lagi, habis sudah celananya. Tega benar saya ini kayak gitu ke Nabil. Tapi ya sudah, saya berharap semoga saja itu bisa memahamkannya untuk tidak pipis sembarangan. Akhirnya untuk menghindari ngompolnya, saya mengajaknya setiap sekian menit untuk rutin ke kamar mandi. Saya lihat jam tangan, setiap 10 menit saya bawa nabil ke kamar mandi. Pipis atau tidak pipis, pokoknya asal jangan ngompol. Alhamdulillah… waktu beranjak, Nabil mulai tenang karena sudah diberi kesempatan bermain. Nabil terus bermain sendiri hingga kelas usai. Yang terpenting, hari ini Nabil tidak menggunakan popok. Satu hal saya coba tanamkan padanya. Semoga membekas.

(to be continued)

7 thoughts on “Tentang Nabil (part 1)

  1. Mohon maaf belum sempat mengupload kelanjutannyaaa…😀. Memang saya nggak cocok jadi penulis cerbung atau cerita serial, hehe. Kalau sudah ada waktu lebih luang insyaAllah diupload.

    @pak arinal: sudah nggak, saya udah jadi mahasiswa lagi, sinau malih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s