Bicara dan Mendengar

Mari kita bahas dua kakak beradik ini dalam berbagai aspek. Bicara dengan tujuan untuk mengurai sebuah masalah itu harus. Mendengar agar bisa bicara yang sesuai adalah keharusan juga. Tidak jarang, saya mendapati begitu banyak orang memilih diam (dengan berbagai macam kecamuk perasaan yang dipendam). Padahal diamnya itu tidak menambah nilai kebaikan bagi keadaan. Orang lain yang mungkin salah tidak tahu bagaimana yang benar, keadaan tidak kunjung membaik, dan lastly, diri kita sendiri sangat mungkin merasa merana karenanya. Baru-baru ini saya dicurhati pasangan suami isteri yang punya masalah dengan kedua hal ini. Susah kan, kalau kita tidak membiasakan diri kita untuk mengurai sesuatu dengan bicara dan mendengarkan satu sama lain. Gawat, kalau keadaan ini tidak segera diubah. Boleh jadi sekali, dua kali… masalah itu berlalu, lalu lupa.  Tapi bukankah tidak jarang yang sering muncul sebaliknya? Kita justru sering berprasangka… Jadi, mulailah belajar bicara lalu mendengar. Mendengar lalu bicara.

Bicara dan mendengar. Saat naik taksi misalnya, apa yang lebih suka anda lakukan? Dengerin MP3, baca buku, atau ngajak ngobrol drivernya? Yah, liat-liat juga sih kalau supirnya terganggu dengan percakapan, kita tahu diri saja. Tapi sebagian besar dari pengalaman yang saya temui, biasanya bapak-bapak supir ini enjoy2 saja, ngusir ngantuk malah katanya. Tidak ada salahnya kita menyapa beliau dulu, baru melanjutkan aktivitas kita. Bisa saja kita mulai dengan pertanyaan seprti “Habis nganter darimana tadi Pak?” Bla, bla, bla. Sedikit banyak, selalu ada ilmu yang bisa kita peroleh dari percakapan itu. Atau kadang malah bisa menjadi pelepas penat si Bapak karena diselipin curcolan masalah ini itu. Misalnya, saya pernah dapat ilmu, kalau naik angkot di Jakarta, mending milih naik angkot yang kacanya polos, gak dilapis stiker, gak burem. Kenapa? Karena hasil diceritain mamang supir tentang kasus perkosaan di yang terjadi di sebuah daerah di Jakarta, dan itu dilakukan di angkot2 yang burem kacanya. Worthy banget kan ilmunya?

Bicara dan mendengar demi eksistensi diri. Ini perlu juga loh pemirsa…. >.< Kejadian ini saya alami saat di Istanbul dulu. Tertulis di schedule acara malam itu adalah cocktail party (aneh, pesta koktail ko malem, I guess it should b in the morning eh?). Acaranya ngapain? Hmm, rupanya stand up party, minum dan makan snack ringan sambil ngobrol ngalor ngidul. Ini dia pemirsa! Kelihaian anda berbicara diuji. Pertama, saya kalah eksis dengan peserta lainnya karena saat di acara itu semua orang saling bertukar kartu nama. Helloooo? Kalo KTP sih saya ada…-_____-“ Hahaha… Meski bukan kali pertama saya ikut acara semacam itu, tapi saat itu adalah pertama kalinya saya menjadi kaum minoritas. Most of the participants adalah profesor atau doktor dibidangnya. Minimal sedang jalan S3. Kalaupun S1, pasti bareng lecture-nya.Lah saya? Bachelor degree aja belum kelar kala itu, sendirian pula*kesuraman yang sempurna…T.T Jadilah saya berpikir keras, perbincangan macam apa yang bisa membuat saya sedikit eksis? Orang2 berkumpul dalam lingkaran2 tertentu (ada meja tinggi tempat menaruh snack+minum) dan disitu orang2 membicarakan sesuatu. Dimulai dari mengenalkan diri, asal dari mana, dst. Yeaaah, akhirnya malam itu eksistensi saya diselamatkan oleh Indonesia! Di satu lingkaran saya bergabung terdiri atas dosen2 dari belahan Eropa+Amerika. Pas mengenalkan diri, yah beliau2 lurus2. Bilang “saya dari Kanada, saya dari Brazil, saya dari mana… gitu. Pas giliran saya, saya bilang saya dari Indonesia. “Do U know Indonesia?” tanya saya. Seperti yang bisa diperkirakan, “Yes, Bali is in Indonesia”. Tralalalalala… dan dongengpun dimulai. Saya bilang Indonesia tidak hanya Bali. Saya cerita tentang pulau Sumatera, yang banyak kelapa sawit dan perkebunan lainnya (meski tidak disertai cerita kasus korupsi kebon2nya). Saya cerita tentang Kalimantan yang banyak hutannya (meski tidak cerita soal illegal loggingnya), saya cerita taman laut bunaken yang keren luar biasa, karang, tanaman dan hewan laut yang indah2 ada di sana (di bagian ini saya juga cerita ttg kerusakannya). Dan mungkin karena di tempat beliau2 itu jarang melihat sesuatu yang saya ceritakan, mereka sangat antusias. Lalalala….Alhamdulillah, meski saya tidak berkartunama, mereka inget saya. Oh yes you, Husni from Indonesia? Dan saya nyengir kuda aja. Indonesia, u did it!

Yap, intinya adalah, bicara itu  membuka wawasan dan mendengarkan itu melahirkan pemahaman. Jadi belajarlah untuk mau bicara, dan mau mendengar. Asalkan, kita masih bisa bertanggungjawab, bahwa apa yang kita bicarakan itu baik, dan demi sebuah kebaikan. Bukan bicara atau mendengar yang sia-sia.

Seperti kata Rasul,

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْراً أًوْ لِيَصْمُتْ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَاْليَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ جَارَهُ، وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيُكْرِمْ ضَيْفَهُ

[رواه البخاري ومسلم]

Dari Abu Hurairah radhiallahuanhu, sesungguhnya Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia berkata baik atau diam, siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah dia menghormati tetangganya dan barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah dia memuliakan tamunya (Riwayat Bukhori dan Muslim)

4 thoughts on “Bicara dan Mendengar

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s