X vs Y

Dalam proses menghafal, saya belajar banyak untuk menghargai waktu. Benar-benar menghargai waktu. Ustadz Riyadh (Direktur Markaz Al-Qur’an, Jakarta) berkata, “Waktu bagi kita untuk bermujahadah itu terbatas. Belum tentu besok-besok kita mau dan masih bisa menyediakan waktu untuk intensif dalam melakukan suatu hal.”

Ya. Benar sekali.

Hari-hari ini, godaan untuk terus lanjut menghafal bahkan bukan berasal dari hal-hal yang bersifat negatif. Tapi sebuah kebaikan pun menjadi lawan untuk melewati proyek akhirat yang satu ini. Meski bukan berarti saat menghafal kebaikan-kebaikan lain terhenti. Hanya saja… yah, bagi orang macem saya, inilah salah satu hal yang tersusah untuk bisa terus saya jaga keseimbangannya.

Kebiasaan jadi buser (buruh serabutan) yang berusaha professional, membuat hal-hal lain juga selalu terasa penting untuk dikerjakan. Apalagi di kepala saya, sejak dari jaman kapan sudah tertanam konsep, multitasking is cool… #yeaaah. Jadi yah… susah susah mudah untuk menata hati, menolak sesuatu untuk sementara, menghentikan sesuatu untuk sementara. Apalagi saya sudah punya target, bahwa proyek akhirat ini  ingin saya selesaikan lebih cepat, dan kira-kira kalau dihitung, waktu yang tersisa adalah 6 bulan lagi. Dan lagi bukankah kita juga memang diminta Allah bergegas? “Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertaqwa (Ali Imran: 133)”. Meraih surga pun harus bersegera. Tidak berlambat-lambat ria.

Another reason, targetan itu memang saya buat demi memfasilitasi kegiatan buser yang sudah teriak-teriak minta diakomodir. Keinginan untuk melakukan kebaikan bukan suatu hal yang salah sehingga harus dikebiri. Yang salah adalah keterlambatan saya untuk memiliki hafalan Qur’an ini. Di usia 22 tahun, bukankah sudah sewajarnya jika masyarakat menuntutmu bertindak lebih banyak??? Yah setidaknya ini menjadi pelajaran yang mahal bagi saya. Kelak, saya bertekad, bahwa anak-anak saya memiliki hafalan di usia mereka yang masih muda, sehingga tidak perlu merasa galau seperti ibunya ini.. hehe. Apapun yang ingin mereka lakukan, cita-cita yang ingin dicapai, apapun.. silahkan, asalkan pondasi itu sudah betul-betul melekat di hati mereka. Moga-moga anak saya besok nurut sama saya ya? Ahaha.. Amin.

Intinya, sampai kapanpun, porsi kesuksesan bersama Al-Qur’an harus selalu lebih baik, dibandingkan kesuksesan kita pada hal-hal lainnya. Dan saya yakin bahwa Allah selalu memudahkan jalan bagi setiap niatan-niatan kebaikan, tsummas sabiila yassaroh…. Amin🙂

images

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s