DEADLINE

Hari itu, jalanan Jogja terasa panas dan padat sekali meski siang mulai menjelma senja. Dan di sanalah saya, bersama orang-orang yang (mungkin) sedang kesumukan juga. Sumuk sama panas, sumuk sama polusi. Yeah, here we are: lampu merah perempatan Kentungan (Jakal). Lampu merah dimana semua orang tampak buru-buru. Saat pagi jam berangkat kerja, terlebih saat sore hari begini, waktu orang pulang kerja, dan pinggiran jalan kanan kiri penuh dengan kendaraan yang parkir. Di situlah saya, menunggu detik-detik angka penghitung mundur berubah jadi 0.

Yeaaaaah, inilah waktu terbaik untuk melakukan ritual sakral seorang calon psikolog keren. Image Tebar bunga tujuh rupa dan bakar dupa di pinggir jalan….

 

Lol. Bukanlah ya. It’s time for observing! Observing every one. Mulai dari ‘mliriki’ tetangga lampu merah sebelah kiri. Beuh… sedang merokok. Untung saya di sebelah sini, gak kena kebul-nya. Lanjut, ke depannya tetangga kiri saya. Bwahahahah…😀 pekerjaan yang diharamkan sama Pak Polisi –> Sms-an at the traffic light. Kecepatan smsnya mengencang seiring berkurangnya waktu lampu merah…

Geser ke objek sebelah kanan-nya mas2 tadi, yang secara posisi tepat di depan saya. Tampak depan saya nggak tahu sedang apa… Tapi tampak belakang berwujud –> tangan yang sedang garuk-garuk punggung. Dan keliatannya bagian yang gatel belum sukses kena. =.= Selamat berjuang ya mas, dadah….

Lanjut… geser ke sebelah kanan mas-mas yang lagi berjuang tadi, ada mbak-mbak yang sedang ngalamun, eh? Yang begitu biasa jadi korban klakson belakangnya.

Belakang mbak-mbak ngalamun, ada 2 cewek SMA yang sedang membara ngobrolnya sama yang diboncengin.

Sementara semua beraktivitas, penghitung waktu mulai mendekati 0. Tak tik tuk… 5, 4, 3, 2, 1… orang-orang mulai melihat ke depan. Berhenti melakukan macam ragam aktivitas di jeda waktu tadi. Dan… wussssss.

Sepanjang perjalanan selanjutnya, ada hal menari-nari di pikiran saya. Tentang sesuatu yang tampak dan tidak tampak. Meski setiap orang berperilaku berbeda, tapi ada satu hal yang sama. Semua aktivitas.. perlahan berkurang, dan akhirnya terhenti, seiring dengan berkurangnya waktu di lampu merah. Semakin dekat dengan deadline, orang-orang tampak makin mempersiapkan diri.

Haha, benar juga. Bukankah dalam kehidupan sehari-hari orang-orang juga sering begitu? Semakin dekat dengan deadline, semakin matang persiapannya. Yang sudah siap dari jauh-jauh hari, makin dekat deadline, kalem-kalem saja. Paling tinggal poles sana sini kerjaan selesai. Yang suka jadi tukang kebut ya pontang panting kesana kemari, melengkapi puzzle-puzzle yang masi banyak bolongnya.

Semakin dipikir rasanya, semua orang bergerak maju karena ada deadline. Manusia sebegitu perhatiaannya dengan keteraturan, sehingga dibuatlah deadline. Mulai dari masuk TK sekian tahun, SD sekian tahun, SMP, dst hingga kuliah. Lalu tugas kampus misalnya, dikumpul minggu depan, atau lusa, atau esok pagi. Semua berhubungan dengan deadline waktu.

Dalam Islam, deadline ini pun eksis bekerja. Memisahkan mana orang yang berhak, mana yang tidak berhak. Abu Bakar berwasiat kepada Umar ketika Umar akan menggantikannya sebagai khalifah,

“ Ketahuilah, bahwa ada amalan untuk Allah yang dilakukan di siang hari, dan tidak diterima di malam hari. Dan amalan yang dilakukan di malam hari dan tidak diterima di siang hari.” Jadi yang terpenting adalah melakukan ibadah tepat sesuai waktunya.

Dalil lainnya, “…sesungguhnya sholat itu kewajiban bagi orang mukmin yang ditentukan waktunya.”(QS. An-Nisa: 103). Setiap amalan punya porsi waktunya masing-masing. Sepanjang masih dalam range waktu yang tepat dan tidak menabrak deadline, maka sah. Diluar itu, wallahu’alam.

Lagi-lagi manusia bersahabat dengan deadline. Deadline membantu mereka untuk bergiat memenuhi semua tugas dan kewajiban. Memberikan mereka ruang kepastian untuk berbuat. Meski begitu, dari sekian macam deadline yang secara cantik dibuat oleh manusia, ada satu hal yang tidak kita ketahui deadline-nya yaitu menjadi MATI.

Kapan kita mati? Jelas hanya Allah yang tahu. Inilah pointnya, kita tidak tahu deadline hidup kita. Tidak bisa merancangnya ataupun mengira-ngira.  Tidak bisa berkalem-kalem ria, ataupun dikebut semalaman seperti belajar untuk ujian. Mungkin itu sebab manusia acap kali lalai. Karena tidak tahu deadline.

Masya Allah.. Begini ya, kompetisi paling adil yang pernah ada. Tanpa deadline, tanpa aba-aba apapun. Kita akan dinilai sebagaimana adanya, sebagaimana kesehariannya. Tanpa deadline (yang kita ketahui) Allah mengeliminasi manusia. Yang mana yang layak di surga, yang mana yang layak di neraka. Allah ingin tahu, siapa yang betul-betul cinta pada-Nya. Allah ingin menemukan orang-orang yang memang layak menjadi pemenang. Menunda ketaatan betul-betul tiada berguna. Berlalai dengan akhirat dan bersusah payah dengan dunia, benar-benar akan menyulitkan diri kita. Karena bagaimanapun juga, kita akan sampai pada akhirnya. Akhir segala akhir. Akhir yang menandai mulainya kehidupan dimensi lain.

“Bersegeralah mengerjakan amal sholeh karena akan datang banyak fitnah bagai sepotong malam yang gelap. Sehingga di sana ada seorang laki-laki beriman di pagi hari, tetapi menjadi kafir di sore hari. Atau ia beriman di sore hari tetapi menjadi kafir pada pagi harinya. Ia menjual agamanya dengan sejumlah harta dunia.” (HR. Muslim)

rumah sementara

                      rumah sementara

 

*Ditulis sebagai pengingat episode baru dalam kehidupan pasca kampus. Mau dimanapun dan dengan siapapun bekerja, jangan pernah lupa. Jangan pernah lupa…

 

Rumah Al-Qur’an, Juni 2012

 

Referensi:

Al Waqtu fi Hayati al-Muslim oleh  Dr. Yusuf al Qardhawi.

5 thoughts on “DEADLINE

  1. bahkkan kematian bukan akhir kehidupan,,,, hidup kita selesai dan berakhir apabila kita sudah mencapai syurga atau neraka, kita tentunya berharap masuk syurga, sampai ketemu di syurga ni, walaupun dalam surat Al-Ma’ariij diketahui di akhirat kita tidak saling mengenal, bahkan kalopun saling mengenal kita sedang sibuk-sibuknya dihisab sama Allah disana, jadi tak sempat menyapa, intinya saling mendoakan smoga kita termasuk orang-orang yang akan berada di jannah-Nya

    • How come I posted smthing when my hand was steering motorcycle -______-” dieling njut disalin sun. Asramaku kan ming ning monjali, ora adoh seko prapatan kentungan.. Cah psikologi kudu iso ngono, in case lg observe ssuatu dan demi kenaturalan penelitian, kudu ngandalke ingatan.. Kui yo pas on wae, nek gak ak yo suk lalen.

      • mbok menawa hus… ahaha… sms sambi nunggu lampu ijo wae iso

        jan2e aku duwe kebiasaan sing podo, tur biasane, saben ndelok uwong ki mikir sing aneh2, ora gur uwong ding…. terutama nek dudu uwong, njur iso ngguyu dewe, njur dikiro edan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s