Allah and The Closest Creature

Rasanya hari ini ada yang kebablasan. Padahal, malaikat tidak pernah berhenti menyatat segala macam aktivitas saya. Aktivitas kita.

Padahal tentang hal ini sudah berkali-kali disebutkan di Al-Qur’an. Di banyak surat. Di surat Qaf misalnya. Padahal dulu saat menghafal surat ini bukan main merindingnya, setelah membaca artinya, terutama pada ayat ini 16-23 (buat pembaca yang suka melompat2 bacanya, saat ada bagian ayat2 Al-Qur’an begini, mohon ya.., tolong dibaca, jangan mengabaikan kalam-Nya, mohon dibca dg cermat, dan direnungkan, bersama2):

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya (16). Ingatlah ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri (17). Tidak ada suatu kata yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat pengawas yang selalu siap (mencatat) (18). ”

Sudah dibaca…..? Jadi saat anda membaca tulisan ini pun sebenernya sedang dicatat, oleh 2 orang malaikat di kanan kiri anda. Apa yang anda pikirkan detik ini, saat ini. Oh well, teknologi malaikat, tidak ada yang menandingi. Ok, mari kita melangkah ke ayat selanjutnya. Yang lebih mencekam.

“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya, itulah dahulu yang hendak kamu hindari (19). Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari yang diancamkan. Setiap orang akan datang bersama (malaikat) penggiring dan (malaikat) saksi (21).  Sungguh kamu dahulu lalai (tentang peristiwa ini), maka Kami singkapkan tutup (yang menutupi) matamu, sehingga penglihatanmu hari ini sangat tajam (22). Dan (malaikat) yang menyertainya berkata, “Inilah catatan perbuatan yang ada padaku ” (23).

Aib-aib kita, jelek2nya kita, dosa2 kita, mulai dari tangan, kaki, mata, pikiran, semua indera kita, apa saja, semuanya tercatat tanpa tertinggal satu pun di buku para malaikat itu. Tidak ada yang tertinggal se…..cuilpun. Ah, tidak sanggup membayangkan (karena memang tidak sanggup), tapi tidakkah terbersit rasa malu itu saat ini? Malu pada siapa? Bodoh sekali kan ya… kalau kita ‘pura2 saja’ berbuat baiknya, menjadi shalihnya, berakhlak baiknya. Buat apa toh nanti semuanya akan terbongkar! Aib yang mungkin tertutupi, yang kita tutupi, atau yang sengaja Allah tutup untuk kebaikan kita, nantinya akan terkuak! Lantas buat apa kita terus2an bohong pada dunia luar. Sejatinya, kita sedang membohongi diri sendiri. Pura2 merasa aman, padahal nyatanya tidak demikian. Seharusnya aib yang sudah ditutupi oleh Allah kita lanjutkan dengan amalan yang betul2 tulus.

“Dan diletakkan kitab, lalu kamu akan melihat orang-orang yang bersalah ketakutan terhadap apa yang (tertulis) di dalamnya, dan mereka berkata, ‘Aduhai celaka kami, kitab apakah ini yang tidak meninggalkan yang kecil dan tidak (pula) yang besar, melainkan ia mencatat semuanya; dan mereka mendapati apa yang mereka kerjakan ada(tertulis). Dan Rabbmu tidak menganiaya seorang jua pun’.”(Al-Kahfi: 49).

Begitu, tanpa perlu kita bayang2kan seperti apa kejadiannya, Allah justru sudah menunjukkan ke kita ‘naskah percakapannya’, berikut kata-katanya. Itu yang akan kita katakan, manakala kita terus2an mengabaikan urusan -hari kemudian- itu.

Kalau malaikat bisa ngomong, mungkin malaikat2 itu sudah teriak dengan max volume di telinga kita, di depan muka kita, di depan jidat kita, di depan mata kita. Woi…! Apa yang kamu lakukan?! TOBAT woiiii….!! Seneng2 teruss maunya!

Sudah, ah. Tidak mau berandai2 lebih jauh.

Tazkiyatun Nafs itu, harus dilakukan sering2. Biar hatinya nggak berkabut, kotor, berdebu, saking tebal debunya sampai menghitam, hitam, dan memekat. Saking pekatnya, susah sekali untuk diusap dibersihkan, disikat juga lamaaa sekali bersihnya. Karena kabut tadi sudah berubah seumpama besi yang berkarat.

Berdialog sama hati itu harus sering2. Biar debunya nggak kelamaan nangkring.

Jangan lupa sholat malam. Waktu disaat Allah menyapa kita lebih dekat dari biasanya. Make sure, kita nggak ketinggalan tiket untuk ketemu Allah. Malam ini. Atau malam2 berikutnya. Atau malam, malam, malam berikut-berikutnya. Amin.

Tazkiyatun Nafs itu kudu sering-sering. Inget ya, Husni!

– night at RQ, I wote on the quite of muraja’ah class, heu =.=-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s