Remember!

Anak psikologi biasanya menjadikan dirinya sendiri sebagai kelinci percobaan, terutama saat akan belajar tentang berbagai jenis tes psikologi. Jadilah singkat cerita, suatu hari saya telah mengetes diri sendiri lewat tes grafis, dan mencari tahu interpretasinya (hasilnya). Salah satu hasilnya mengatakan bahwa ayah saya memiliki role (peran) yang kurang begitu berarti dalam hidup saya, artinya ibu saya memiliki peran yang lebih mendominasi dibanding bapak. Kala itu, saya merasa, wuooh.. bener banget deh! Tes ini agaknya cukup valid… Karena saya juga merasa demikian, merasa bahwa peran ibu lebih besar dibanding bapak. Dan bahkan pada sisi ekstrimnya saya berpikir bahwa bapak memang kurang begitu berpengaruh bagi keseluruhan rangkaian hidup saya (jahat sekali ya saya??) 

Tapi suatu waktu, saya pulang ke rumah, dan membuka album-album lama dengan niat menyelamatkan foto2 antik masa lalu dengan cara di-scan. Jadi, saya punya arsipnya. Saat itulah, saya menyadari sesuatu yang ganjil. Ganjiill.. sekali. Bagaimana bisa bapak kurang berpengaruh dalam hidup saya, sementara, semua foto2 saya pada masa kanak2 menunjukkan hal yang sebaliknya???

Dimana ada bapak, disitu ada saya. Pose foto saya dan bapak pun sangat, sangat akrab. Ada kalanya saya dipangku bapak dengan senyum yang mengambang lebar, ada juga foto saat bapak menggandeng tangan saya, lainnya foto bapak sedang apa dengan saya, sedang ini, sedang itu. Saat itu lah saya berteriak lantang (dalam hati tentunya, emang saya tarzan, suka teriak-teriak -.-) dan mengatakan bodoh pada sendiri. Bodoh karena saya percaya begitu saja sama hasil tes grafis itu. Padahal dalam pikiran saya masih sangat melekat ocehan khas kakak2 saya yang lainnya, kalau saya anak kesayangannya Bapak.

Bapakku itu.. bukan orang yang bisa mengungkapkan emosi dengan baik dan benar. Beliau sangat overprotektif, terutama pada anak-anak perempuannya. Tidak boleh pulang melebihi magrib, tidak boleh makan ini, tidak boleh terlalu akrab sama anak laki-laki, tidak boleh ikut kegiatan ini karena bahaya, tidak boleh pergi kesini karena terlalu jauh jarak tempuhnya, dan ribuan larangan lainnya. Nyatanya, saya melanggar semua larangan bapak. Semasa SMA saya sering pulang lebih dari magrib, gara2 latihan basket, yang saat bapak saya tahu saya ikut di dalamnya, saya dilarang habis-habisan, nggak boleh, padahal saya pemain yang cukup potensial loh (numpang narsis), jadi saya ngeyel, tetep ikut berbagai pertandingan.

Nyatanya saya jadi anak durhaka sama orangtua, karena suka bohong dalam satu hal ini. Untuk satu hal ini saja saya sering bohong sama bapak saya, dan karenanya saya merasa sangat kurang ajar. Bohong bukan hanya tentang merubah cerita tentang sebuah kenyataan. Bohong itu juga saat kamu tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, kebenaran yang ada. Kalau kamu tidak mengatakannya berarti kamu sedang bohong juga sejatinya. Yah begitulah, saya tidak pernah minta ijin bapak saya saat akan naik gunung. Karena buat apa toh pasti akan dilarang? Jadilah bergunung-gunung yang pernah saya daki semuanya saya lalui tanpa mengantongi ijin orangtua. Pernah suatu ketika saat naik gunung, kami diwajibkan untuk ‘berpamitan’ pada keluarga di rumah (intinya bersiap pada kemungkinan terburuk yang akan terjadi). Karena saat itu sedang akan turun gunung setelah dari puncak. Hari sudah malam, dan hujan angin sedang kencang-kencangnya, sementara itu dalam tim kami hanya ada 1 senter kecil untuk proses turun gunung dari 13 orang yang didalam kelompok ini ada anak2 baru yang belum pernah naik gunung sebelumnya. Ketua tim naik gunung suruh kita semua sms orang rumah, minta doa. Nah.. saat itu saya bingung, akan sms siapa? Akhirnya saya putuskan untuk sms temen deket saya di asrama. Kata saya sama temen saya: pokoknya kalau saya tidak ada kabar setelah ini atau terjadi sesuatu, tolong kasih tau keluargaku ya, kalau saya naik gunung. (haha, setelah ketemu temen saya, saya ditimpuk habis-habisan, apa-apaan deh kamu husni!!!).

Jadi, saya bertanya-tanya, apa yang sebenarnya terjadi sehingga hasil tes itu berbicara lain? Bukan tentang tes grafis itu valid atau tidak. Hanya saja saya heran dengan kenyataan bahwa saya membenarkan dengan sepenuh hati hasil tes itu.

Akhirnya saya menyadari bahwa saya secara tidak sadar menghapuskan memori-memori baik tentang bapak. Terutama setelah bapak saya sakit. Saat bapak tidak bisa bertindak banyak pada anak-anaknya, sejak saya SMP lebih tepatnya. Ingatan berbagai hal indah yang pernah dilakukan bapak terhadap saya, perlahan tapi pasti mulai memudar.

Ingat nggak sih kalau Bapak saya itu terampil sekali. Beliau itu sangat mandiri. Perkakas rumahtangga yang rusak diperbaiki sendiri (mulai dari masalah kelistrikan hingga perabotnya). Beliau pandai sekali membuatkan kami rak-rak buku, meja belajar, lemari dan berbagai perangkat rumah tangga lainnya. Semuanya bapak yang buat. Kerenkan bapak saya! Coba kalau saya survey sama temen laki2 yang saya kenal sekarang, “eh, kamu, bisa nggak bikin lemari baju??”. Surely, most of them mungkin akan menjawab, “yaelah hus, beli aja napa?” (mohon maaf kalau ada temen laki2 saya yang baca ini. Tapi benerkan asumsi saya😛, kekeke…).

Saat musim layangan di masa-masa SD, anak-anak di kampung saya biasanya pergi membeli layangan ke kampung sebelah. Layangannya pasaran sekali, dari kertas warna putih dan ada gambar superman atau mobil balap di tengahnya. Alih-alih ikut membeli layangan, Bapak sudah  bikinkan kami (aku dan kakak laki2 saya). Layangan yang sangat gagah. Berwarna-warni merah, kuning, hijau, dan lebih besar dari punya teman2 lainnya.  Walhasil, kakak saya sering menang menggunakan layangan itu 

Bapak saya tidak pernah bertanya pendidikan saya dengan detail. Tentang IPK misalnya. Teman2 saya merasa harusnya saya bersyukur karena mereka, maksudnya temen2 saya, pengennya hal itu terjadi pada mereka, dicuekin masalah pendidikannya sama ortu mereka. Sementara itu, saya berpikiran sebaliknya. Bapak saya kok nggak care sih sama pendidikan saya. Haha, pendek sekali pikiran saya ya? Tapi memang benar bahwa Bapak saya tidak terlalu intens sama masalah itu. Yang sering beliau tanyakan “Fitri uangnya cukup nggak? Mau dikasih lagi? Udah makan atau belum? Udah sholat belum? Udah pulang ke asrama belum? Jangan pulang malem, jangan jalan jauh-jauh, dst”.

Bapak nggak pernah nanya selayaknya pertanyaan2 orangtua yang peduli pendidikan anak seperti: “tadi di sekolah ngapain aja nak? Ujiannya bisa nggak? Besok belajar apa? Wah hebat sekali kamu bisa begini nak, dst”. Haha. Tapi meski begitu, saya benar2 sadar kalau bapak sebenarnya sangat2 memperhatikan pendidikan saya. Pernah suatu kali saya agak nggondok karena keinginan saya untuk melanjutkan S2 di sebuah negara tidak disetujui sama bapak. Belum tanya alasannya kenapa saya udah sewot dulu. “Bapak tu lho, bukannya mendukung anaknya tapi malah dilarang-larang terus..”. Begitulah celetukan saya. Tapi, setelah mendengar alasan Bapak, rasanya saya ingin menjahit mulut saya, dan mengulang waktu sebelumnya, untuk tidak mengatakan hal tersebut. Kata Bapak: “Ya sudah kalau memang pengen sekali kuliah disana nggak apa lah. Papa tadi nggak pengen fitri kesana karena itu jauh sekali. Padahal Bapak pengen dateng ke wisudaan S2 fitri besok kalau masih bisa, kalau tempatnya jauh bgitu kan papa ndak kuat kesana”. Hancur deh hati saya sama pernyataan polos Bapak saya. Sederhana sekali alasannya. Cuma pengen dateng ke wisudaan saya saat S2 nanti? Saya lupa, kalau.. Bapak memang sedang sakit, dan tidak bisa berjalan jauh kemana-mana. Sholat saja sehari-harinya sambil duduk. Saat wisudaan S1 saya saja bapak saya tidak hadir. Ibu saya bilang sama bapak, coba tadi bapak dateng, pasti salaman sama rektornya (yg jadi mapres aka mahasiswa berprestasi dikasi penghargaan gitu dari kampus). Ha..dan bapak saya cuman nyeletuk bilang begini “Kalau saya dateng ke wisudaannya fitri malah merepotkan orang saja kan, dikit-dikit minta tolong ini, minta dibantu ini.” Saya terenyuh denger itu. Saya jadi nggak sabar pengen ngeliatin ke Bapak video wisudaannya. Ini lho Pak, kado saya untuk Bapak…

Intinya adalah, saat orangtua kita semakin menua.. sungguh sangat wajar bila kilasan2 memori tentang kegagahan, keperkasaaan, orangtua kita memudar. Mungkin memori yang mendominasi adalah gambar Bapak/ Ibu kita yang sering minta tolong ini itu (terlebih kalau orangtua sudah sepuh dan sakit). Memori yang mendominasi adalah bahwa orangtua kita sudah melemah, dan butuh banyak dibantu.

Saat masa2 itu datang, maka.. yang harus kita lakukan adalah berpikir panjang. Berpikir lebih panjang. Dan melihat segala sesuatunya lebih luas. Lebih luas lagi. Beliau tidak sepenuhnya selalu bersikap begitu. Beliau tidak selemah yang kita pandang sekarang. Beliau sudah begitu banyak menghabiskan energi dan tenaga mudanya sehingga begini lah kondisi mereka kini. Butuh untuk dibantu, ingin dapat perhatian yang lebih, ingin selalu dituruti keinginannya. Beliau adalah satu-satunya orang yang mau bersusah payah untuk diri kita. Yang selalu mendoakan kebahagiaan putra-putrinya, tanpa sepenuhnya kita ketahui.

Saya cuman pengen bilang kalau saya bersyukur jadi anak Bapak dan Ibu saya.

Saya cuman pengen bilang, sama mereka: terimakasih banyak, karena mengajarkan pada saya, kalau cinta dan sayang bukan sekedar kata-kata..

Semoga Allah memuliakan Bapak dan Ibu, di dunia dan akhirat. Amiiin…

Bapak dan Ibu pas naik haji :)

Bapak dan Ibu pas naik haji🙂

9 thoughts on “Remember!

  1. “Bohong itu juga saat kamu tidak mengatakan apa yang sebenarnya terjadi, kebenaran yang ada. Kalau kamu tidak mengatakannya berarti kamu sedang bohong juga sejatinya.”

    kayane hooh ki… berdampak buruk…pengalaman dino iki… double kill langsung… *kok iso pas yo…

      • duh, dowo ceritane… iso dadi sak postingan… hahaha… intine, ra kondho2 tentang suatu hal, dan mengecewakan kanca cedhak… untung e sing 1 wis beres (a miracle… woman ki woman) sijine, rung jelas… lagi pisan iki chatting karo kanca cedhak, diakhiri dengan “Chat Conversation End”…. marakke sedih… *mesti ra jelas ceritoku…

      • Ho’oh, koe nek crito sok ra jelas sih =.=, wes biasaa… #sokakrab
        yo ngono deh nek sama cewek, opo meneh nek lagi sensi.., tapi nek konco cerak cepet apikan to biasane. clarify, terus akur.
        piye2, sak ora penak2e jujur, luwih tentrem nek ngomong apa anane.. minimal, nek tiba2 mati pas kuwi, atine lega soale oraaa ndobosi sopo2..

      • uwis clarify… dan pancen kok, urung let suwi, wis balik meneh… pancen lah, friends will be friends… jare nek kanca cedhak ki ra ono sing jenenge racists, SARA, ra perlu formal2, maaf2an, bahkan tengkyu2an… makane, ngece konco ki sak-marem2-e…

  2. Mas Aulia inget waktu Fitri umur 2 thn, pernah ditinggal Papa pulang kampung. Papa dan Mas Aulia pulang kampung karena Nenek akan pergi naik haji. Papa pergi tanpa pamit kepada Fitri karena takutnya Fitri nangis…:'( Kami (papa dan mas aulia) pulang kampung naik bis “favorit” jadinya luama. Sepanjang perjalanan, papa sibuk nelpon untuk menanyakan keadaan Fitri yang lebih penting daripada nanyain warungnya rame atau sepi. Mas Aulia juga jadi agak sebel karena yang dipikirin Fitriiiiii teruuuuusss…..😉
    Sesampainya di kampung, kami mengantarkan Nenek pergi haji. Rencananya kami akan bersilaturahmi kepada saudara-saudara yang lain sesudahnya. Tetapi demi mendengar Fitri sakit, batallah rencana silaturahmi tersebut. Papa berpikir mungkin Fitri, anak kesayangan Papa sakit karena terlalu lama ditinggal Papa.
    Sebenarnya masih banyak cerita-cerita lain showing that u r his golden girl…hehehe…tp Mas Aulia g terlalu inget :p

  3. Mas Aulia inget waktu fitri umur 2 thn pernah ditinggal papa pulang kampung tanpa pamit. Papa nggak mau pamit karena takut fitri nggak mau ditinggal alias nangis😥 kami, papa dan mas aulia pergi naik bis sehingga membutuhkan waktu yang lebih lama untuk sampai ke kampung. Sepanjang perjalanan papa sibuk nelpon ke rumah untuk nanyain kabar fitri. Hohoho anak kesayangannya ini lebih penting dari warung (dan mas aulia yang jadi temn perjalanannya). Mas Aulia juga jadi agak sebel karena papa sibuk nanyain fitriiiiiii terrruuussss…..
    Sesampainya disana, kami mengantarkan nenek yang akan berhaji. Rencananya kami akan bersilaturahmi dengan saudara-saudara yang lain. Taaapppiiii….demi mendengar fitri, anak kesayangannya sakit…..batallah semua rencana dan papa langsung cari tiket untuk pulang😦

    Masih banyak cerita spt itu, cerita2 yang showing that you are his golden girl….tapiiii mas aulia luuupppaaaaa….;p

    • Waaaaaah, pernah ada yang semacam itu? Huhu, makin merasa mjadi anak tdk berbakti aja nih fitri😦
      Tapi, baca cerita itu, nyenengke… hehe.Alhamdulillah,alhamdulillah…🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s