Obedience

Terlaluh.. bulan ini saya gak upload apa2 di blog -.-,

Sebenernya saya mo upload yang lain, tapi tiba2 kepikiran aktivitas pagi tadi.

Jadi, pagi tadi saya nemenin adik2 tingkat ke LP (Lembaga Pemasyarakatan). Maklum udah mau musim PKM, pada sibuk nyari inspirasi, kemarinnya ke RSJ, hari ini ke LP. Dan yah, disitu kita dikasih kesempatan buat ngobrol2 sama WBP (warga binaan pemasyarakatan). Semuanya dibagi jadi kelompok2 gitu. Sementara para adik2 ini mulai wawancara, saya jalan2.. lihat2 kira2 kelompok mana yang menarik untuk saya “timbrungin”. Dan di tengah jalan-jalan itu saya terhenti.

Shock!

Saya mengenal salah satu wajah dari WBP (napi) yang sedang di wawancarai oleh adik2 tingkat. Karena penasaran tingkat tinggi saya segera mendekat, dan bergabung di dalam kelompok itu. Dan u know who siapa orang itu?

Saya juga nggak tahu. -_____-  Memang bukan  orang yang saya maksud.  Tapi wajah si bapak di LP itu sangaaaaaaat miriiiiiiiip dengan seseorang yang akrab saya lihat wajahnya. Mirip banget sama seorang ustadz yang sering ngisi di salah satu masjid di daerah UGM.

Walhasil saya ikut ngobrol bareng2 di kelompok itu. Ada 2 orang WBP yang diajak bincang-bincang.

Nggak ada yang nyangka, wajah mas-mas yang- sepengamatan saya, sangat terlihat ramah, ceria, necis, dan murah senyum itu dipenjara akibat kasus pembunuhan. Lalu, bagaimana dengan si bapak yang mirip ustadz tadi? Dari awal saat saya “nguping” di kelompok itu saya menduga bahwa si bapak adalah orang berpendidikan. Bahasanya… wuih, kayak mahasiswa tingkat akhir yang lagi bikin skripsi. Bahasa formal sesuai EYD. Dan ternyata setelah saya tanya, beliau adalah seorang kepala desa (dulunya) di sebuah desa di DIY. Nggak tanggung2, sudah menjabat dari tahun 1995-2010. Dan beliau ada di sana akibat tipikor (tindak pidana korupsi).

Bapaknya akhirnya bercerita bagaimana beliau bisa ada disitu? Beliau dipenjara akibat tidak tahu bahwa kebijakannya  sebagai kepala desa akan menyalahi kebijakan pemerintah dan digolongkan sebagai tindak korupsi. Saya tidak terlalu concern sama alasan mengapa beliau dipenjara. Tidak pula  tentang kisah tentang masa hukuman beliau yang diperpanjang akibat tidak ada dana untuk memenuhi tuntutan perdata. Saya tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Pengadilan yang tidak jujur atau si bapak memang bersalah? Sudahlah bukan kapasitas saya, anak hukum lebih tahu dari saya. dan yang pasti Allahu’alam. Allah lebih tahu, dan Allah akan mengadili semuanya dengan sangat adil, kelak.

Dan saya lebih tertarik untuk mengamati perilaku si bapak. Kaki yang terus menerus bergoyang, mata yang sesekali saja mau memandang ke arah kami, dan tangan yang sesekali mengepal. Sepertinya penjara telah merontokkan banyak aspek percaya diri si Bapak sebagai seorang kepala desa. Meski bgitu..  tak lama, si bapak mulai bercerita lebih dalam, dan bahkan hampir menangis(dan mungkin akan benar2 menangis seandainya sesi kami saat itu tidak terpotong waktu). Terutama saat beliau bercerita tentang keluarga. Dan saat itu si bapak memberi kami sebuah pesan yang sangat terngiang-ngiang di kepala saya, dan membuat pagi saya jadi kelabu. Karena ikut terbawa sama perasaan si bapak.

“Dik, kita nggak tahu, akan ada dimana kita hari ini, besok, dan seterusnya. Saya sungguh nggak nyangka, bisa ada di sini. Sama sekali nggak pernah mikir akan masuk ke sini, apalagi tinggal di sini. Saya sempat stress. Saya sering berpikir untuk kabur dari sini. Tapi anak-anak saya justru menyuruh saya sabar, dan tangguh untuk menghadapi permasalahan ini. Padahal anak-anak saya ada yang sampai harus berhenti kuliah gara-gara Bapaknya ini dipenjara. Saya benar-benar shock, saya jadi kades di desa, ide saya yang saya rasa baik untuk masyarakat justru dianggap korupsi. Intinya, apapun yang kalian lakukan di dalam hidup ini, hati-hatilah. Jangan suka sembrono, karena kita ndak tahu, perilaku kita akan membawa kita kemana. Jangan sampaaaai kalian mengecap rasanya hidup di LP. Jangan sampai.. Bapak doain nggak ngerasain hidup di sini. Saya benar2 kapok di sini. ”

Mungkin simple ya, kesannya. “BERHATI-HATILAH!”

Tapi poin lain yang menohok adalah bahwa benar sekali kita nggak tahu  akan ada  dimana kita 2 jam nanti, besok, dan besoknya lagi. Kita nggak tahu sekarang kita jadi apa, besok tiba-tiba jadi seseorang yang lainnya. Mungkin sekarang kita punya pekerjaan, punya jabatan, punya pandangan yang baik di mata orang. Punya keluarga, sahabat, kesibukan, dan sebagainya. Tapi kita benar2 nggak bisa memastikan akan ada apa di esok pagi kita. Kita hanya bisa berencana, dan berikhtiar maksimal untuk memenuhi rencana kita.

Jadilah seharusnya, Al-Fatihah yang selalu kita baca saat sholat benar-benar kita resapi. Dan benar-benar kita maknai artinya. Bukan sekedar hafalan reflek yang diucapkan  berulang kali oleh bibir. Bukan pula  sebuah bacaan yang wajib dibaca di tiap  rakaat sholat kita. Tapi ada kepasrahan total kita pada Allah saat membacanya. Dan ini akan menyangkut tauhid. Jadi ingat kata-kata Sayyid Quthb dalam buku beliah Ma’alim fi Ath-Thariq (yang sempat dicekal dan dilarang peredarannya) bahwa “suatu akidah haruslah memenuhi relung hati dan menguasai sanubari. Akidah menghendaki manusia tunduk sepenuhnya hanya pada Allah.”

Personally, ini renungan buat diri saya sendiri. Dan supaya teringat, saya muraja’ah lagi di blog. Jadi, mari kita tinggalkan sikap takabur kita, rasa posesif kita sama harta dunia kita, dan lain-lain. Karena pada hakikatnya semuanya milik Allah bukan? Dan kita hanya dititipi. Bukan benar2 sesuatu yang abadi untuk kita miliki.

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

Pemilik Hari Pembalasan.

HANYA KEPADA ENGKAULAH KAMI MENYEMBAH, DAN HANYA KEPADA ENGKAU KAMI MOHON PERTOLONGAN.

TUNJUKILAH KAMI KE JALAN YANG LURUS.

Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

-at Rumah Al-Qur’an, setelah setoran hafalan dengan keroyokan-

2 thoughts on “Obedience

  1. kerennnnn ni tulisannya,,,,,, sbagai anak hukum aku merasa…. aneh juga bapaknya bisa kapok,,, hahahhaha karena dia mungkin tingkat desa sih, coba aja koruptor kelas kakap,,, ga kapok, karena dia bisa bayar uang supaya fasilitas penjara kayak hotel… btw udah nyampe mana hafalannya ni???? huahahahha caranya follow blog tuh gmana ya?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s