Secuil cerita tentang Fiksi.

Seumur hidup, saya baru memperlihatkan karya fiksi saya pada orang lain sebanyak 2 kali. Saat lomba cerpen waktu SD, dan Alhamdulillah dapet juara satu. Entah kenapa saat itu sama sekali tidak tertarik untuk lebih mendalami dunia tulis-menulis. Selanjutnya saat mengirim karya untuk seleksi masuk FLP Jogja, saya ngirim cerpen. Di luar itu paling saya nulis cerpen atau puisi di pelajaran Bahasa Indonesia, atau di diary sendiri, dari pada maki-maki orang, saya nulis puisi.

Dan bulan Oktober kemarin,  anak2 FLP semua heboh untuk ngirim novel ke Republika. Lah saya, sibuk ngerjain paper untuk ke Istanbul. Lagi-lagi menulis non fiksi. Non fiksi. Non fiksi. Non fiksi. Saya pengen juga pinter nulis fiksi, tapi rasa-rasanya.. fiksi jauh lebih sulit menulisnya. Saya pengen bikin novel atau cerpen itu yang tidak hanya sekedar cerita tentang emosi antar tokoh. Kalau novel tentang cinta, saya nggak pengen nulis novel yang isinya cuman tentang cinta-cintaan para tokohnya, yang percakapannya melulu berhububungan dengan cinta atau permainan bahasa. Saya pengen menulis fiksi yang serba guna dan tahan lama. Boleh jadi ada sejarah dalam background ceritanya, ada permainan bahasa yang indah dalam tiap katanya, dan tentu saja, ada kisah hikmah dari itu semua. Syukur2 bisa ngasih pencerahan sama yang pada baca.

Well, it seems like I’m so prefectionist in dreaming about my fiction writing. Tapi secara tidak sengaja saya membaca sebuah postingan, yang ternyata itu adalah blognya senior FLP. Somehow, idealisme saya rada ada pembenarannya di sini. Hehe. Saya jadi semakin pengen menjadi penulis fiksi yang baik, yang benar2… serba guna dan tahan lama. Yang karyanya gak cuma habis sekali baca, tapi bisa dibaca di jaman kapan saja, even jaman cicit2 saya nanti.

Meskipun untuk ke sana, kita harus belajar menulis terus menerus, mungkin awalnya karya kita dianggap terlalu biasa, tapi biarlah, yang pasti kita harus selalu bergerak untuk membuat karya yang luar biasa.

Dan ini postiingan yang saya maksud🙂. Murni copas dari blognya mas Ashif,

COLDPLAY: REFLEKSI SYAIR DAN PERANG PEMIKIRAN*

Sekedar share, setelah baca email yang dulu pernah ditulis d salah satu milis dan tanggapannya yg luar biasa.

-Viva La Vida-
I used to rule the world
Seas would rise when I gave the word
Now in the morning I sleep alone
Sweep the streets I used to own

I used to roll the dice
Feel the fear in my enemy’s eyes
Listen as the crowd would sing
“Now the old king is dead! Long live the king!”

One minute I held the key
Next the walls were closed on me
And I discovered that my castles stand
Upon pillars of salt and pillars of sand

I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign field

For some reason I can’t explain
Once you go there was never
Never an honest word
And that was when I ruled the world

It was the wicked and wild wind
Blew down the doors to let me in
Shattered windows and the sound of drums
People couldn’t believe what I’d become

Revolutionaries wait
For my head on a silver plate
Just a puppet on a lonely string
Oh who would ever want to be king?

I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign field

For some reason I can’t explain
I know Saint Peter won’t call my name
Never an honest word
But that was when I ruled the world

I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign field

For some reason I can’t explain
I know Saint Peter won’t call my name
Never an honest word
But that was when I ruled the world

-coldplay-

Teman2… apa kalian tidak tertantang? ini lagu penuh ghazwul fikri… Mereka berhasil membawa hal2 ideologis ke ranah budaya pop. bayangkan! ini dinyanyikan oleh anak2 kampus, anak sma, di negri aslinya mungkin jg anak sd…

” I used to rule the world”
hanya tak habis fkir… sebegitu hebatnya barat menghembuskan nafas ideologinya. mereka menggunakan semua daya kekuatan yg mereka punya… teknologi, budaya, politik… 

Syair yg ini…

“I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign field”

wah… hebat banget… jerusalem, romawi dan misionaris diabadikan dalam lagu pop… iya lagu pop alternatif… bukan qosidahan atau gendring…
mungkin dlm kebiasaan kita ini lagu tentang palestina n ahmad yasin yg dibungkus rapi pakai musik pop…

ck..ck… jadi inget salah satu upgrading kepenulisan jaman kapan… penulis bedah satu syair lagu n menunjukkan di titik mana letak ghazwul fikri itu… 
ini lagu yg lebih parah…
ghozwul fikri jelas2

lagu ini disetel di acara liputan olahraga pagi (u backsound sport7 dll), artinya lagu ini punya nafas spirit yg dlm, semangat! itu yang ditangkap kasat mata. dan itu yang digunakan barat dalam mendesain berbagai peluru ghazwul fikrinya. serba ideologis secara makna tapi profesional dalam packaging… coba dgr lagunya jg powerful n elegan…. ciri ini umum di produk2 budaya barat. da vinci code, angle n demon, the alchemist… pasti tmn2 udah bca…

sekedar refleksi bagi tmn2 pejuang (pena)… sdhkah tulisan2 kita seideologis itu? dan sudahkah seprofesional itu? 

ayo kit mulai brg2… bismillah… 

Jawaban Bang Ichal di milis ppsdms:

waduh mas, saya salah satu penikmat lagu ini nih. one of my fave song.

benar, lagu ini sangat bernuansa abad pertengahan dan kental dengan kata-kata religius sepert St. Peter yang merupakan pendiri kedua agama kristen setelah St. Paul.

menurut Coldplay sendiri lagu ini berkisah tentang akhir-akhir masa seorang raja yang kehilangan kekuasaannya. dimana besoknya dia akan di guilotine dan kepalanya ada di pring perak. dia mengingat kejayaan kerajaannya yang dulu tak lain adalah representasi dari Roman Empire. ayo, masih ingat, bahasa apa yang sampai sekarang merupakan keuturnan dari bahasa Romawi. yup benar. Perancis. so, ini lagu bercerita mengenai kejatuhan kerajaan Perancis. I would say this song is about the French Revolution and the King Louis XVI was very high roller until he was overthrown. coba liat cover CD dari lagu viva la vida ini. persis. covernya adalah lukisan mengenai revolusi perancis yang menghancurkan kekaisaran Perancis yang sudah dibuat oleh Charlemagne semenjak abad ke-7 yang merupakan reaksi atas kehadiran Muslim di Pottier.

so, betul sebagaimana yang dibilang Ashif, kita kudu mampu membuat lagu seperti ini. jangan seperti kuburan Band yang cuma C AM DM ke G ke C lagi. gak mutu. atau Wali yang cuma ibu-ibu, bapak-bapak, gak jelaasss. dan juga lagu Indo lainnya

gak cuma lagu, apa pun itu, mau lagu mau buku. inspirasi harus datang dari sejarah. so far, sejarah kita malah dijadikan inspirasi oleh Paulo Cuelho. beberapa muslim yang sudah mengembangkan sejarah Islam yang saya ketahui paling Tariq Ali dengan quartet Muslim Eropanya (The Book of Saladin, The Stone Woman, A Sultan in Palermo, Shadows of the Pomegranate Tree ayo siapa yang sudah baca). atau Orhan Parmuk dengan My Name is Red dan White Castle. atau juga si Amin Maalouf si perancis yang menulis Balthasar’s odyssey dan Samarkand. nah kesemuanya itu walaupun Muslim tapi sekular semua. dan gak heran tulisan mereka juga sekular abis di novel-novelnya. namun ada sejarah dibalik itu semua.

terus bagaimana dengan penulis Indonesia. tentu yang paling the best adalah Pram dengan Quartet Burunya yang gile pemahaman sejarahnya bagus banget. baru-baru ini paling es ito yang keren banget.

coba lihat novel-novel Islam. bukannya maksudnya menghina, tapi kayaknya kurang studi historis dan literatur. beberapa novel cuma mengangkat aspek emosi dan hubungan antar pemain saja tapi tidak mendalami dan mengelaborasi konteks atau panggung dari novelnya. coba lihat my name is red, sebuah kisah detektif yang kaya akan nilai budaya. coba lihat balthasar odyssey yang bercerita tentang pencarian hakikat jati diri tapi kaya akan deskripsi mengenai budaya Islam abad pertengahan tatkala di Eropa terjadi perang 30 tahun. atau juga stone woman yang bercerita kegundahan seorang wanita terapit di arus modern dan arus tradisionalisme yang kaya akan cerita sejarah mengenai keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani di akhir abad ke-19 dimana begitu banyak penyimpangan oleh penguasa kala itu.

so, siapa diantara kita yang sudah tamat baca history of civilisation- nya karya Arnold Toynbee. siapa yang sudah baca Mukadimah ibnu khaldun (udah ada tuh terjemahaannya) . siapa yang sudah baca History of God nya Armstrong atau Perang Salib karya Sir Philip (siapa lupa). siapa yang sudah baca buku Alexis DeTocqueville tentang demokrasi di Amerika. atau minimal bukunya Marcopolo yang berjudul the travels of Marco Poloatau yang aslinya berujudul Oriente Poliano.

atau untuk Indonesia sendiri, adakah diantara kita yang sudah baca Summa Orientanya Tome Pires? atau yang paling minimum nih, Nusantara karya yang ditulis oleh ahli Indonesia asli belanda, Bernard H.M. Vlekke. atau paling minim nih, Islam, Doktrin, dan Peradabannya si Nurcholish Madjid. udah baca kan? nah mari kita serius belajar sejarah.

seperti yang dikatakan Toynbee, History is a vision of God’s creation on the move. agar kita dapat mengambil hikmahnya…

post scriptum.
beberapa buku diatas, saya dapatkan secara elektronik loh, so E-Book juga boleh dong. hari gini gak pake e-book?

buat ksatria UI, seluruh buku diatas, saya punya, so yang mau baca tinggal bilang.

nah, mungkin di regional masing-masing kudu baca lagi nih buku-buku babon ini biar pemahaman sejarah kita maknyus.

*http://ashif1st.blogspot.com/2011/10/coldplay-refleksi-syair-dan-perang.html

Really nice discussion!!! ;D

-Rumah Al-Qur’an, 3 Muharram 1433 H-

di sela-sela hiruk pikuk penduduk RQ yang mau ngampus🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s