Kaca Mata Hitam

Kalau anda seorang muslim, dan berencana untuk travelling ke Thailand, satu hal yang saya sarankan. Kenakan KACA MATA HITAM. Terutama saat jalan2. Why? Karena setidaknya kaca mata hitam, menyamarkan pandangan anda dari banyak hal.

Thailand, sama sekali tidak masuk rencana perjalanan kami (saya dan 3 orang teman lain) kala itu. Singapura dengan Merlionnya agaknya jauh lebih “menggiurkan” untuk jadi tempat wisata bagi manusia jenis anak muda macam kami. Tapi, karena terbatasnya waktu, prioritas dana, dan lainnya, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Thailand lewat jalur darat, sehingga melewati apa yang kemudian biasa disebut- kota perbatasan.

Awalnya, beberapa orang dosen kami yang sedang di Malaysia juga agak keberatan saat kami mengatakan bahwa akan pergi kesana lewat jalur darat. Mengapa begitu? Pertama karena di Thailand sangat sedikit yang bisa bahasa Inggris, kedua karena disana semua infrastruktur seperti arah jalan, nama jalan dll tertulis dengan bahasa Thai yang mlungker2 kayak tulisan India, atau kalo kata saya sih mirip aksara Jawa. Dan terutama… karena kota perbatasan identik dengan kondisi yang tidak aman, perkampungan, dst *kata dosen loh..

Tapi yah, u know? Cara membuat seseorang makin penasaran terhadap sesuatu adalah dengan serta merta melarangnya.

Singkat cerita akhirnya kami pergi ke Thai dengan travel. Dan fungsi pertama kaca mata hitam bisa anda rasakan khasiatnya disini. Saat akan masuk mobil, saya melihat barang jahanam itu. “Bruk!” Sontak saya langsung melempar ransel saya ke atasnya. Seketika saya bilang sama kedua temen saya lainnya “Ih.. nggilani, ada majalah porno disitu. Tasku di sini aja, buat nutupin.” Majalah itu tidak terletak dibawah jok kursi mobil atau apa, tapi memang terpampang rapih seperti seolah-olah itu majalah BOBO atau apa yang bisa dibaca berbagai usia. Suram, untung teman saya yang laki2 tidak lihat karena dia duduk di depan. Rasanya ingin saya pukul-pukul supir travelnya majalahnya.

Well. Mari kita tengok fungsi kaca mata hitam lainnya.

Saat itu kami tengah berjalan-jalan di sepanjang pasar tradisional, masih di Thailand. Awalnya tidak ada yang menyadari, tapi tiba2 saat itu kalau tidak salah, Imanuri, temen putra yang ikut berjalan-jalan bersama kami tiba2 berucap,  “Astaghfirullloh…! wes, mlaku lurus wae, rasah mengo2..” (Sudah, jalan lurus saja, tidak usah tengak-tengok). Kenapa begitu? Karena ternyata disepanjang jalanan pasar itu, selain menjualkan pernak-pernik segala macam, mereka juga menjual vcd porno (dengan bebasnya), yang membuat Imanuri sontak beristighfar. Bukan cuma porno yang perempuan, tapi juga covernya porno versi laki2.. alias gay, atau mungkin semacam gigolo begitu. Dan juga waria. Lantas kami cepat2 berjalan dan nggak jadi liat2 barang.

Kebermanfaatan kaca mata hitam ini akan sangat terasa juga saat di dalam bis. Saat itu kami tengah dalam perjalan akan pulang ke Malaysia.  Untungnya saat itu Imanuri sedang tertidur *kayaknya sih. Dan saya sendiri duduk di kursi jok belakang. Berseberangan dengan saya, tepat di samping saya (beda baris gt), ada seorang biksu2.

Saya sih menghabiskan waktu sambil baca2 Qur’an dan buku saat itu. Namun sebagian besar orang sedang menonton sebuah film yang disetel di  bis. Termasuk pak Biksu ini. Mmm… saya lupa judul filmnya apa, tapi ceritanya tentang semacam kota yang perlahan-lahan seluruh penduduknya menjadi vampir. Ada banyak sih film Hollywood yang mengupas vampir, entah ini yang judul apa. Well.. filmnya memang sepertinya bagus, ada klip-klip yang cukup menegangkan. Tapi sodara.. sodara… ditengah film action-horor begitu, tiba2 muncul adegan porno yang definitely saya yakin pasti bakal disensor klo di Indonesia dan tidak akan di setel di bis umum begini. Hyaaaaaaa.. apa-apaan ini, satu bis kan hampir sedang menonton film yang sama? Gila. Saya langsung menelungkupkan selimut ke kepala dan pura-pura tidur. Hal2 kek begini jadi konsumsi publik ternyata.

Dan ke-parno-an ini terus berlanjut. Pada brosur2 iklan hotel pun secara terbuka ditawarkan penawaran “girls in lounge” ya intinya temen cewek buat melayani anda.

Maaf seribu maaf ya Thailand, saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan anda. Di balik hal2 seperti tadi kami juga menemukan hal-hal baik lainnya. Salah satunya yaitu tentang “muslim di Thailand”. Saya sendiri cukup kaget saat mengetahui ternyata cukup banyak yang mengenakan jilbab di negeri ini. Dan tidak susah juga menemukan rumah makan muslim. Hanya saja memang saya ingin membahas topik tentang porno dan sejenisnya.

Definitely, anda tidak hanya memerlukan kaca mata hitam saat pergi ke Thailand. Ke Australia, USA, Belanda, yah pokoknya ke negara-negara yang memang mentolerir hal macam itu pun mungkin anda butuh kaca mata hitam. Tapi… tunggu dulu!  Meski berkaca mata hitam begitu…  agaknya mata kita masih tetap bisa melihat “LUAR” bukan? Betul, betul sekali kawan. Kalau anda mengartikan kaca mata hitam sebagaimana aslinya, tentu saja tidak terlalu berguna. Malah mata anda akan lelah karena ber-kaca mata terus kemana-mana.

Thus, kaca mata-i hati anda.. Bukannya lantas kita tidak mau pergi ke luar negeri gara2 hal-hal tersebut. Kaca mata-i hati kita, hijabi lah hati kita dengan kaca mata hitam yang sangat gelap sama hal2 semacam itu. U know what teman? Alarm terbaik menurut saya adalah hati. Secara fitrah Allah menciptakan hati kita untuk condong pada hal-hal yang baik dibanding yang buruk. Yang condong kepada hal yang buruk bukan lah hati. Tapi nafsu.

Saat ingin melakukan hal2 yang tidak baik, serta merta sebenarnya hati sudah membunyikan alarmnya. Tidak merasa begitu? Yah.. mungkin memang kita perlu sesekali melembutkan hati sehingga peka terhadap hal semacam ini. Rasanya dapat berupa “slentingan” perasaan tidak enak, keragu-raguan kita terhadap hal2 buruk yang sebelumnya ingin kita kerjakan, atau perasaan tidak tenang saat melakukan perbuatan tersebut.

Seorang bandit kelas kakap sekalipun, saat akan melakukan keburukan, alarm hatinya sedang bersuara. Buktinya, si bandit dengan segala macam cara mempersiapkan perencanaan agar tidak tertangkap misalnya. Sejatinya itu adalah bentuk perlawanan nafsu pada alarm yang disuarakan hati. “Amankan aku!” Begitu mungkin kata nafsu pada akal.

Dan oleh karena itulah dalam Islam bisa kita temukan 3 jenis kepribadian:

Nafs Ammarah

Orang yang hatinya mati. Nafs-nya memegang kendali atas akalnya. Kata ammarah ini dijelaskan dalam QS. Yusuf: 53

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan (ammarah), kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.”

Nafs Lawwamah

Orang yang hatinya sakit. Nafs dan akal selalu berseturu untuk jadi no. 1. Tentang lawwamah bisa kita lihat di QS. Al-Qiyamah: 2.

“Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri (lawwamah).”

Nafs Muthmainnah

Orang yang hatinya sehat. Hati mengungguli akal. Si muthmainnah ini bisa kita tengok dalam QS. Al-Fajr: 27.

“Wahai jiwa yang tenang (muthmainnah)”

Well.. termasuk mana kah anda?

Yah, semoga hati kita terus dibunyikan alarmnya oleh Allah.. jangan sampai, saking seringnya kita berbuat maksiat dan dosa, semua tindak tanduk yang buruk, terasa biasa-biasa saja bagi kita. Naudzubillah!

-Hari libur RQ, akhirnya bisa ngepost juga :D-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s