Kasat mata

“Banyak orang tak lelah mendoakan kita, tanpa kita sadari” (Majalah Tarbawi-edisinya 184)

Andai saja seseorang itu menyadarinya, mungkin hatinya akan sedikit lembut. Hanya saja, sepertinya angin kesuksesan dan rasa berdaya yang terlalu berlebihan membuat yang abstrak semakin pedar.

“Apakah bulan itu ada jika tidak kita lihat, atau dia hanya ada jika kita melihatnya?”. Begitu kata Einsten.

Memang bukan analogi yang pas, tapi dalam hal DOA, kasusnya jelas berbeda. Karena untuk mengetahui seseorang berdoa Tuhan tidak perlu menggunakan data empiris.

Mungkin kita tidak benar2 sedang melihat seseorang mendoakan kita, tapi DOA itu ada. Di sana, di tiap kata yang mereka lontarkan pada Yang Maha Maha Maha Kuasa.

Atau mungkin, doa itu tidak sampai menjelma menjadi tangisan, tapi keikhlasan seseorang itu membuat Tuhan mengiyakan semua permintaan.

Atau kadang kala, seseorang tak perlu sambil menengadahkan tangan, bisa saja ia reflek dan membatin, lantas mendoakan.

Tidak kelihatan. Tapi dikirim oleh banyak orang ke langit tanpa  bisa dilihat mata.

Jadi, tak perlulah mencontoh setan. Yang angkuh dan tinggi hati sekali untuk sekejap saja sujud pada Adam. Akibatnya? Surga tak lagi bisa menjadi tempat tinggal. Belum jera tidak punya tempat tinggal, malah menantang Tuhan, kata setan ingin ganggu orang-orang beriman..

Oh ya, seseorang itu beriman. Mungkin karena itu setan menggodanya.

Tapi bukankah ia pernah bilang tidak suka ikut-ikutan setan. Bukankah ia yang mengajarkan pada banyak orang bahwa musuh kita setan?

“Banyak orang tak lelah mendoakan kita, tanpa kita sadari”.

Dan sepertinya seseorang itu tidak benar-benar menyadari. Bahwa mungkin saja kesuksesannya itu karena doa orangtua yang diijabah Tuhan, meski ia sering bersikap tidak sopan pada keduanya

Mungkin saja karena doa seorang teman yang dikabulkan Tuhan saat upacara bendera di sekolah dasar dulu.

Mungkin saja karena suara bersinnnya pernah disahuti dengan doa oleh seseorang.

Mungkin juga karena doa orang-orang beriman, untuk orang-orang beriman lainnya.

Atau bisa jadi karena doa adiknya, kakaknya, neneknya, kakeknya, tetangganya, gurunya, pembantunya, supirnya, musuhnya atau… kucingnya?

Oleh karena itu, kesuksesan hari ini belum tentu hasil usaha seorang. Atau dua orang. Atau tiga orang.

Karena kalau saya pikir.. rasa—rasanya, berbuat baik pada orang tua, teman, sahabat, musuh, kakak, adik, suami, isteri, kakek, nenek, dan pada orang-orang… bukan semata-mata sebuah kewajiban.

Tapi itu adalah sebuah kesadaran.

Karena mungkin saja benar bahwa :“Banyak orang tak lelah mendoakan kita, tanpa kita sadari”.

P.S: Semoga Allah menjernihkan MATA hatinya. Amin

3 thoughts on “Kasat mata

  1. Pingback: Doa Yang Terlupakan | Imajimatika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s