Normally….

Taqabbalallahu minna waminkum…😀 (Semoga Allah menerima amalanku dan kalian)!!!

Dear readers, maaf lahir batiin yaa🙂. Gatel banget pengen ngepost something dari tadi, alhamdulillah sore ini bisa ter-postkan ^^.

Ngomong2… saat Idul Fitri begini saya lebih memilih mengucapkan ini dibanding ucapan yg lain.

Kenapa? Soalnya ini terdengar lebih keren ini kebiasaan para sahabat lho🙂 Tuntunannya? Baca dibuku banyak kok +__+, tapi habis gugling nemu site yang cukup terpercaya yang bahas ttg ini. Coba klik disini. Lebih baik karena minal aidzin wal faidzin itu sebenarnya salah kaprah diartikan menjadi —> ‘mohon maaf lahir dan batin’. Heu… padahal artinya bukan itu lho…. Aslinya, minal aidin (dari golongan yang kembali), wal faidzin (golongan yang menang). Kagak ada hubungannya sama maaf2an kan ya.. Tapi ya mungkin bukan Indonesia kalau tidak begini, kekreatifan tingkat tinggi. Hoho.

Ngomong2 lagi.. Alhamdulillah… Ramadhan telah usai (loh kok malah bersyukur?). Ya, Alhamdulillah karena tahun ini kita bisa full melewatinya. Barikilahuma lana fi Syahril Syawal wa balighna ila Romadhon.. amin.Smoga tahun depan bisa bertemu dengan bulan ini lagi ya.

Berhubung saya ini puasa ngeblog (dan twitter, YM, except Fb) selama hampir 2 bulan, sebenernya banyak sekali yang ingin ‘dimuntahkan’ di blog tercinta ini. Akhirnya setelah sholat Istikhoroh  (hayah…), saya memutuskan untuk cerita ttg yang satu ini. Tentang:

KEHIDUPAN YANG NORMAL

Sebenernya kehidupan normal itu yang seperti apa ya..?

Ya, kalau jawabnya pake kaca matanya Freud, jawabnya akan seputar tentang bagaimana anda tidak cemas, merasa bahagia, bisa menyalurkan id dan sebagainya.

Kalau pakai kacamata behaviorist, mungkin akan menjadi, bagaimana anda bisa adaptasi dengan lingkungan, diterima lingkungan, de es te..

Kalau humanisme? Kehidupan normal itu ya beda-beda tiap orang, punya ciri khas masing2.. Pokoknya kita harus memanusiakan manusia, kalau kita masih membinatangkan manusia, ya, berarti kita abnormal.

Emm… sebenarnya ketiga ide diatas tidak terlalu buruk, saling komplementer sebenarnya, tapi ya..jadi buruk karena itu sudah –isme. Artinya, sudah menjadi paham, dan it has gone too far by rejecting other probabilities.

Thus.. that’s why umat muslim harus bersyukur karena punya Al-Qur’an dan hadits. Ga perlu bikin ‘panduan2’ yang ‘mbundet’. Alhamdulillah sekali bukan?🙂

Dan saya tersentil sama tema kenormalan khidpan ini habis dengerin review ceramah Ustadz.

Well, SEPERTI APA SIH KEHIDUPAN YANG NORMAL ITU???

Yaa.. Kehidupan yang normal itu selayaknya kehidupan kita di bulan Ramadhan!

Masih ‘mbundet’?

Baik mari kita bahasakan ini menjadi lebih merakyat.

Normalnya itu.. masjid yang tempat ibadah itu ya ramai, seperti saat Ramadhan. Shaf2nya penuuuuh..

Normalnya itu.. manusia itu ya saling menghargai, memaafkan, menahan hawa nafsu seperti saat di bulan Ramadhan….

Normalnya itu.. kita dermawan, banyak sedekah.. seperti banyak nya jumlah sedekah yang diperoleh masjid2 saat Ramadhan…

Normalnya itu… kita rajin mengejar ilmu agama di dunia ini, sama kalanya saat telinga kita sering denger kajian2 di bulan Ramadhan…

Normalnya itu ya tempat2 maksiat menyadari kesalahannya dengan tutup atau bahkan buka pas gelap gulita, sama kala kita masih di bulan Ramadhan..

Normalnya itu, kita rajin qiyamul lail… sama seperti saat kita tarawih pas bulan Ramadhan..

Normalnya itu.. ya kita rajin berbagi pada sesama, sama kayak rajinnya kita di bulan Ramadhan untuk ngadain acara yang kayak takjilan, buber dengan anak yatim, baksos, dan pelaksanaan zakat fitrah, de es te..

Normalnya itu.. ya kita banyak2 baca Qur’an. Dan ’mementingkan Al-Qur’an’ sebagaimana target2an kita tentang Al-Qur’an kita di bulan Ramadhan

Normalnya ya… ya khidupan yang normal itu tercermin dalam bulan Ramadhan. Normalnya begitu ya kita sebagai muslim?

Jadi kalau anda mulai merasa menurun semangat keimanannya, dan bingung untuk mencari parameter hidup yang normal …maka ingat2lah bulan Ramadhan. Karena dengan bulan Ramadhan Allah telah mencontohkan kehidupan normal yang sesungguhnya.

Setuju? CMIIW deh ;D

PS: Normalnya itu seperti pas Ramadhan puasa twitter dan ngeblog, jadi normalnya kehidupan itu tanpa twitter dan blog, atau YM -___- hahah.. (kena batunya sendiri). Eits, tunggu dulu.. Tapi bagian ini perkecualian loh ya..=.= .Esensinya adalah hal2 berbau inet itu tidak melalaikan kita untuk berbuat kewajiban lainnya. Jadi normalnya kehidupan itu.. blog, twitter, Yman, apapun itu.. nggak sampai bikin kecanduan yang bikin kita melalaikan kewajiban sama Allah, begitu logika langitnya.

Jadi, meski Ramadhan sudah berakhir, gak perlu sedih donk ;D Mari kita bikin hari-hari kita serasa selalu di bulan Ramadhan.

Membuat momentum kawan, bukan menunggu..:D

*Hwaiting!*

P.S lagi: Hayoo..siapa yg semalem masih terus solat malem??:D

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s