Satu Kata, Satu Jiwa, Satu Cita

Essay ini saya buat untuk mengikuti seleksi anggota FLP (Forum Lingkar Pena) Jogja Angkatan 13. Alhamdulillah setelah sekian kali tes (essay, karya, wawancara, dst), dan dari sekian ratus yang mendaftar, 26 orang terjaring di dalam angkatan 13, and Alhamdulillah, my name is there😀. Pengumuman bisa di klik di sini. Maaf sekali tapi tulisan di bawah ini rasanya sedikit ‘melambai-lambai’, haha.. maksudnya rada serius dikit. Lah… soalnya essay juga dinilai lho. Dan harus ada unsur ke’aku’ anmu didalamnya.. Jadi buat yang lagi sibuk, postingan ini sangat cocok untuk jadi prioritas skip pertama anda.. hehe…

Moga2 sih bermanfaat buat orang2 yang pengen daftar FLP di kota lain, sekedar gambaran aja, sisanya.. kembangkan gaya anda sendiri.🙂

Cekidot! ;D

                Aku, FLP, dan dakwah kepenulisan. Tiga kata ini pada akhirnya akan bermuara pada satu kata yang memberikan aroma sama pada ketiganya.

                Aku (untuk selanjutnya ditulis saya) adalah sebutan untuk kata ganti orang pertama tunggal. Lebih penting dari itu, saya, anda, kita.. adalah makhluk hidup bernama manusia hasil ciptaan-Nya, yang dikaruniai nikmat dan potensi luar biasa sejak dari dalam rahim ibu kita. Dan salah satu anugerah yang paling saya syukuri adalah kemampuan membaca yang diberikan Allah. Membaca yang saya maksud dalam hal ini yakni pengertian membaca secara harfiah, yakni  proses kognitif dan mental dalam memaknai tulisan.

                Membaca membuat kita berkelana ke ruang-ruang yang tidak terjangaku oleh waktu dan tempat nyata kita berada. Dan sedari kecil saya suka membaca. Dimulai dari ‘keranjingan’ membaca komik saat SD, hingga akhirnya membuat saya hobi menggambar. Komik pun menjadi stimulus dasyat untuk melahap berbagai bacaan lain.

                Membaca memberikan rasa yang berbeda-beda. Saat membaca komik ‘Slam Dunk’  misalnya, membuat saya berkhayal dan ingin menjadi pemain basket, dan tak diduga saat SMA pun terlaksana. Atau ketika membaca buku Hafalan Shalat Delisa, buku yang sukses membuat saya seakan-akan sedang berada di Aceh dan melihat bencana tsunami itu di depan mata, dan pada akhirnya sukses menjatuhkan bulir-buliran air mata yang terus menderas hingga menyelesaikan lembaran terakhirnya.

                Semua perasaan, pikiran dan imajinasi yang melompat-lompat saat membaca mengantarkan saya pada pemahaman bahwa membaca dapat mempengaruhi pikiran, perasaan atau bahkan menanamkan nila-nilai tertentu bagi para pembaca. Dan pemahaman menjelaskan, mengapa pada akhirnya ada buku yang begitu membekas kisahnya, dan di sisi lain ada juga yang berlalu begitu saja dan terlupakan. Dan jawabannya yakni ada pada kekuatan goresan pena sang penulis.

                Kekaguman pada sosok ‘penulis’ ini mengakibatkan  saya ingin mencoba menulis. Percobaan pertama, saya lakukan saat SD, yakni dengan ikut serta dalam sebuah ajang lomba menulis cerpen di desa. “Bagaikan burung yang patah sayapnya”, begitu judul cerpen yang mengantarkan saya pada juara pertama menulis cerpen kala itu.  Bangga sekali rasanya, akan tetapi usut punya usut ternyata peseta lomba hanya ada tiga (hahahahaha).Walhasil, juara pertama itu jadi terasa biasa saja, meski tetap senang dan terbersit sedikit  rasa bangga khas anak SD yang merasa gagah saat menerima hadiah di atas panggung.

                Hobi menulis ini terus berlanjut seiring dengan semakin variatifnya buku bacaan yang saya baca. Meski begitu, tulisan saya tidak untuk konsumsi publik dan sekedar pemuas tuntutan kognitif yang berdenyut-denyut di otak. Mungkin saat itu saya lupa betapa dasyatnya pengaruh goresan pena bagi yang membaca.

                Berlanjut saat saya mulai berkenalan dengan novel-novel karya Ali Muakhir dan Dyotami lewat nomik berjudul Pilihan Terakhir, Asma Nadia lewat ‘Rembulan di mata Ibu’, dan  juga karya-karya Helvy Tiana Rosa seperti ‘Ketika Mas Gagah Pergi’. Kesemua bacaan tersebut memberikan rasa yang melekat dalam di hati saya. Sangat menginspirasi, dan mengingatkan saya akan makna sebuah tulisan. Ada yang berbeda setelah membaca novel-novel Islami tersebut, rasanya seperti mendapatkan idealisme baru, tanpa ada rasa digurui, tanpa ada rasa dipaksa.

                Hingga akhirnya saya tahu bahwa terdapat sebuah organisasi penulis bernama Forum Lingkar Pena yang menjadi tempat bernaung bagi para penulis hebat ini. Dan semenjak SMA saya ingin sekali bergabung dan mendapat ‘pengasuhan’ agar dapat menjadi penulis hebat pula meski akhirnya baru terealisasikan saat ini. Sejak saat itu pula lah saya mulai jadi ‘fans berat’ buku-buku terbitan FLP.

                Makin lama makin saya sadari bahwa menulis tidak sekedar menuangkan curahan hati dan pikiran yang kita punya. Pada akhirnya saya berkeyakinan bahwa sebuah tulisan yang baik ialah yang memberikan kemanfaatan bagi pembacanya. Jika nilai kemanfaatan itu hilang maka hilang pula lah makna tulisan itu. Yang ada hanya rangkaian kata-kata tanpa makna yang mungkin terkesan indah saja, tanpa memberikan bekas apa-apa. Dan di sinilah ruang dakwah kepenulisan bergerilya, menulis menjadi cara yang sangat efektif untuk menyeru orang-orang, sebagaimana yang dilakukan dalam dakwah lisan, amr ma’ruf nahyi munkar.

                 Dakwah kepenulisan memberikan rasa tersendiri. Proses pemahaman melalui rangkaian kata per kata akan memberikan ruang tersendiri bagi para pembaca untuk memahami, menyelami, dan meresapi makna yang terdapat dalam tulisan tersebut. Dan inilah kelebihan dari dakwah kepenulisan, yakni proses internalisasi nilai-nilai itu mengalir dengan sendirinya dalam diri pembaca tanpa perlu paksaan. Pemahaman secara mandiri dan penuh kesadaran ini adalah poin yang sangat kuat untuk bisa memiliki keyakinan dan idealisme yang kuat terhadap agama Islam. Dan inilah yang diperlukan dalam dakwah, memantik keinginan untuk berubah menjadi lebih baik, dan secara mandiri kesadaran ini akan menjelma dalam akhlak dan pilihan sikap kita sehari-hari.

Akhirnya kata inilah yang menyatukan saya, FLP, dan dakwah kepenulisan: menulis. Satu kata, satu jiwa dan satu cita untuk terus menulis. Bismillah!  :D

2 thoughts on “Satu Kata, Satu Jiwa, Satu Cita

  1. ama cerita ttg ini, tp gak nyambung maksude ke mys. oalah melu flp tho. goodluck lah, berada di komunitas bagus dan memacu, proud of you. malming bs nemenin pa gak ?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s