Mengisi atau diisi???

Mengisi atau diisi?

Hari-hari menjelang kelulusan itu.. menjadi momok buat beberapa orang, ada yang bingung setelah ini akan apa, ada yang sudah senyam-senyum karena udah dapet kerjaan atau beasiswa, ada juga yang… bingung karena saking banyaknya pilihan.

Hari-hari menjelang kelulusan itu adalah ajang persiapan diadunya kreativitas kita sebagai manusia. Di situ lah benar2 akan terasa seberapa mampu kita mengisi hidup kita. Kita tidak lagi terikat dengan status mahasiswa, belum pula genap statusnya menjadi seorang pekerja. Kita nggak lagi diisi oleh jadwal2 kuliah. Kita seratus persen harus mengisi hidup kita sendiri, sampai punya jabatan baru.

Dan melihat kenyataan hari ini sepertinya saya berada pada kebingungan kategori ketiga. Sebenernya saya bersyukur sekali. Kalau lah ingin bertitle mahasiswa S2 tinggal isi aplikasi, dan beasiswa itu sudah tersedia. Kalau bekerja, insya Allah banyak sekali lapangan kerjanya.

Tapi jika kita punya idealisme lain, ini jadi sedikit berbeda perkaranya. Hanya saja, bagi sebagian orang, idealisme saya ini tidak terlihat lebih baik dibandingkan dengan penawaran2 yang sudah ada di depan mata sekarang. Apa yang kurang, sehingga harus ditunda rejeki2 tadi semua? Begitu kata mereka. Hupf.. sayangnya yang berkata seperti itu orang yang cukup saya hormati, dan sedikit banyak, bikin saya bimbang juga.

Kemarin saya baca situs keren, rekomendasi temen saya. Habis baca situs anak muda ini, yang di usianya 19 tahun dan kuliah di Stanford University, saya belajar banyak. Terutama habis baca kata-katanya ini:

”Hidup saya jauh lebih sederhana karena saya melimpahkan energi solely untuk hal yang menjadi prioritas saya. Saya mudah bilang ‘tidak’ pada hal2 yang, walaupun buat orang lain bagus banget, tidak sesuai dengan tujuan akhir saya. Seringkali, saya berhasil bukan karena saya lebih baik, atau lebih pintar, tapi simply karena saya menghabiskan lebih banyak waktu daripada orang lain – karena saya peduli terhadap occasion itu lebih daripada yang lain.”

Yap.. habis baca itu saya merasa ‘lebih berdaya’ jadinya. Rasa-rasanya saya pernah juga ngasih anjuran seperti itu ke temen2 saya, dan .. memang rasanya kalau kita yang pas kena masalah.. JADI LUPA. Haha, jadi inget “the invisible gorilla”, kadang kita ngerasa udah tahu, udah liat.. padahal sebenernya kita tidak tahu, dan kita tidak melihat sama sekali dengan apa-apa yang terjadi di sekeliling kita. Intuisi bisa saja salah. Sangat bisa… meski menurut saya, kalau taqwanya udah tingkat dewa.. mungkin akan jarang salah intuisinya. Soalnya.. udah dibisikin sama Allah kali ya..? (kapan ya bisa benar2 taqwa?)

“Mintalah fatwa pada hatimu, kebaikan adalah sesuatu yang membuat hatimu tenang dan keburukan adalah sesuatu yang membuat hatimu gelisah.”(HR Ahmad dan Al-Darimi)

Bener2.. ada yang lebih sakit rasanya, dibandingkan misalnya kamu kalah lomba debat bahasa inggris, atau kalah di PIMNAS, atau kalau karya tulis mu gak lolos konferensi, dan prestasi akademis lainnya. Lebih sakit rasanya, saat kamu gagal menjawab pertanyaan ini:

“Naarun khamiyah”. Silahkan saudari husni, lanjutkan ayat tersebut.

BLANK. I forget the structure. (thinkiing.. loading…)

Naarun khamiyah.. adalah potongan terakhir dari sebuah surat di juz 30. Juz yang paling awal sekali dihapal, surat pendek pula, lalu.. dengan indahnya bisa terlupa begitu saja.  Dan kamu terus berpikir keras, surat apa setelah nya.”

BLANK.  And u know u LOSE.

 Dan ustadz melanjutkan.

Bismillahirrohmanirrohiim.. Alhakumuttakatsur…

Dan rasa bersalah itu makin terasa. Yaa.. setelah Al-Qori’ah adalah At-Takatsur.. parah sekali, begitu saja lupa!

Dan jadi hina sekali rasanya.. ya Allah, saya sudah menduakannya. Hafalan saya!

Itu tandanya.. idealisme itu harus tetap dipertahankan. Semoga tulisan ini ngingatin saya bahwa kalah dalam hal ini, jauh lebih menyakitkan rasanya dibanding kalah dari urusan prestasi lainnya. Benar2 kejadian siang itu nggak akan terlupa. Alhamdulillah..

So.. please welcome ;D

my idealism!

Oh ya.. see u soon, Mr. Malik Badri, wait me to be ur postgraduate student. Soon, after this one.aminnn Insya Allah.

NB: Terimakasih buat Mas Yayat yang udah bantu saya ‘tersadar’. Thanks bro. Dan juga buat temen seperjuangan saya, Yurimin. Mau ke ISTAC ataupun Leicester.. sepertinya memang harus ada yang di raih dulu sekarang.

NB lagi: situs nya si anak 19 tahun yang nerusin kuliah di Stanford university bisa klik di sini. Siap-siap saja ngerasa bodoh, bagus itu, anda makin terpacu untuk lari, di atas langit.. masih ada langit.. mari terus belajar. Mari fokus.. prioritas.. dan buktikan ILMU-ILMU KITA!!! YEAAAAAAhhh… !

3 thoughts on “Mengisi atau diisi???

  1. wow, blog nya si veni ini banyak banget yang rekomendasiin… emang hebat, secara pemikiran juga… even, orang yang udah aku anggep patokanku, nganggep si veni ini jauh lebih mendewa… ternyata si veni ini temen pelatnasnya…

    hasil dari blogwalking malam ini : 2 postingan, menulis hal yg senada, nambahin bahan bakar buat gapai cita2..

    • waw.. berarti orang ‘patokane sunni’ keren juga ya, marai penasaran🙂
      sayang nya satu si venni itu.. yah taulah sun, menyangkut hadika*baca dr belakang :D…
      smoga dpt hayadih*baca dr blakang (lagi).

  2. iya, jago banget dia… dan, entah kenapa, aku pasti disemangati… my best friend, indeed..

    iyo… yah, diambil yang positif saja… semoga dapat hyiaadh… (kalau gak salah, asal huruf depan sama huruf belakang gak pindah posisi, manusia tetep bisa membaca dengan benar)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s