Terimakasih Pelajaran Bahasa Indonesia

Ya.. terimakasih pelajaran Bahasa Indonesia.

For what?

Hmm, Let’s see.

Apa yang anda lakukan saat membaca sesuatu? Tulisan saya misalnya? Mencoba memahami alurnya kah (iya, mbundet soalnya critamu..), atau memahami isi tulisan (nggak pake mikir ko baca tulisanmu hus), atau mencoba menerka kemana arah pembicaraan (ini tambah ga penting lagi)? Haha, apapun lah. Tapi beneran nih saya nanya..

Apa yang anda pikirkan saat membaca sesuatu?

Yippie.. macem2 pastinya, tapi kalau saya biasanya tergantung di atap, kalau bacaan nya seru.. saya akan menikmati kata demi kata dari tulisannya🙂 , tapi kalau err.. agak bikin saya capek bacanya (entah mungkin pertama, karena tulisannya yang terlalu bertele-tele, kedua, saya yang sedang tidak dlm mood yang bagus, atau ketiga, memang otak saya tidak kunjung ‘dong’ untuk memahami isinya), saya langsung loncat2 bacanya.Kebanyakan sih karena alasan yang ketiga😀

Tapi, saya dapet ilmu baru habis nemenin si yurimin yurisa konsultasi skripsinya sama Pak Bagus kemarin.

Tentang bagaimana kamu memilah-milah bacaan2mu, n try to criticize what u’ve read. Udah biasa sih ya denger.. yang kayak beginian, tentang bagaimana kita harus kritis, and bla..bla..bla. Tapi kalau kamu melihat dan merasakan betul efek kerusakan dari salah baca, rasanya.. mengerikan.

Tentang Opini di atas Opini.

And I realize that it is indeed true.. that, our mind sometimes is easily effected by some one’s opinion. Hence, we have to distinguish it. As well.

Cobe cek paragraf di bawah ini!

“So, the religious thruths preached by Mohammed have not been altered in any way; but under the stress of necessity they have been clad in modern armour, which has somewhat changed their aspect.”

Artinya kira2 begini:

“Jadi, kepercayaan agama yang diajarkan Muhammad, tidak diubah dalam hal apapun, akan tetapi dibawah tekanan kebutuhan, ajaran-ajaran ini telah dibalut dengan perisai modern, yang telah mengubah aspek-aspeknya”

Coba tebak siapa yang nulis potongan paragraf di atas?

Mungkin kalau tahu siapa penulisnya anda akan lebih mengkritisi, tapi tanpa melihat siapa penulisnya, kita terkadang bisa manggut-manggut n setuju dengan apa yang ditulis.

Any way, paragraf  diatas sungguh sangat berbahya, si penulis memberikan opini sendiri atas sebuah fakta, yang tersirat dalam penjelasannya.

Kepercayaan dan keyakinan akan agama (aspek-aspek akidah) tidak akan pernah berubah bagaimanapun jenis jamannya. Begitu pula dengan beberapa hukum yg tidak akan berubah hingga akhir jaman nanti, misalnya, hukum tentang homosexual. Bagaimanapun Islam akan tetap memandang hal itu sebagai hal yang haram dilakukan.

Beda dengan jaman sekarang, fenomena2 ini dianggap sebagai masalah kebebasan HAM dan lain2. Pelarangan ini saya yakin seyakin-yakinnya, bukan karena Islam tidak membumi, melangit, atau membimasakti, tapi Allah pasti punya alasan sendiri membuat aturan seperti itu, emm.. menjaga keseimbangan ekosistem perhaps? Wallahualam, yang jelas hikmah cuma bisa diambil sama orang yang hatinya bersih.

Jadi Agan2 semua..🙂 (mendadak kaskus)…

Mari balik lagi ke paragraf tadi. Kalau di paragraf tadi, bagian akhir itulah yang disebut opini, si penulis mengatakan bahwa aspek2 keyakinan ini bisa berubah sesuai dengan tuntutan jaman.. jadi kalau pakai opini itu bisa aja tahun depan kita bilang Tuhan kita ada 5 kalau toh ternyata kita rasa Tuhan yang cuma satu itu ‘keteteran’ ngurusin bumi seisinya. (Naudzubillah..)

Itu dia masalahnya, kita suka terjebak dan sulit ngebedain, mana fakta, mana opini. Kadang keduanya bercampur, dan kita nurut2 aja.. kadang opininya tersamar, dan kita nurut-nurut aja.. Padahal bisa membedakan keduanya itu penting sekali.

Dan kita lantas suka terjebak dan latah mengagumi pendapat seseorang, and lagi2 ini karena … opini di atas opini.

Viceversa, kita bisa saja menggunakan opini di atas opini untuk meluruskan sesuatu yang salah. Tentunya kalau kita mengerti mana yang benar🙂

Dan ternyata ini sangat relate sama tema skripsi saya tentang aliran sesat, tentang bagaimana orang-orang itu begitu mudahnya taklid pada opini yang tercampur dengan fakta (kebenaran). Entah lewat tafsir Al-Qur’an atau hadits yang seenaknya, atau semata-mata tertipu dengan OPINI… lagi2 jangan mudah beropini di atas opini, kalau belum tahu faktanya.

That’s why saya berterimakasih sama pelajaran Bahasa Indonesia.. Soalnya jadi keinget, dulu pas jaman SD-SMP seriiing banget nemu soal begini:

“Coba temukan fakta dan opini yang ada dalam paragraf di bawah ini!”

Heuu.. sekali lagi.. terimakasih Bahasa Indonesia.

PS:

Paragraf berbahasa Inggris di atas ditulis oleh Snouck Hurgronje (jiah, nulis namane wae blibet!). Siapa dia? Snouck Hurgronje adalah seorang orientalis dari Belanda, FYI. Si bapak2 ini juga sempat masuk Islam, tapi tujuannya ya.. yah.. u know lah, destroy everything, dan dia mengakui hal ini dalam buku-bukunya, tentang tujuannya, dan tentang keberhasilannya mengobrak-abrik Islam. Hmmh.. naudzubillah. (Oh ya maaf saya lupa paragraf itu dikutip dari buku Snouck yg mana, nanti saya susulkan kalau sudah nemu bukunya🙂 )

 PS lagi.. : Probably, blog saya penuh dengan OPINI! Jadi berhati-hatilah..haha😀

2 thoughts on “Terimakasih Pelajaran Bahasa Indonesia

    • Peran ya? salah satunya menulis yang pasti🙂 Tulisan dilawan tulisan, budaya dilawan budaya. Dan tentu saja, aksi di dunia nyata.. banyak sekali sih ya.
      Terimakasih sudah berkunjung😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s