Diantara 2 pilihan

Ya ampun.. terakhir posting tanggal berapa saya? 23 Mei.. wew.. lamanya. Memang sedang tidak bisa dan tidak mood untuk posting karena several reasons.

Tapi saya tetep nulis, trus disimpen sendiri.. trus dibaca sendiri, nulis lagi, disimpen di lappy.. trus dibaca sendiri lagi, (kurang kerjaan memang) haha.

 Tapi sepertinya kegilaan ini harus segera disudahi dan kembali menjadi manusia normal dengan mosting di blog. Ya.. kesimpulannya saya udah normal lagi, jadi selamat datang kembaliii husniii :D!!!

Ini sebenernya tulisan saya akhir Mei, yang saya tulis sendiri, simpan sendiri, dan baca sendiri, tapi terus sekarang saya upload aja deh.😀

 Disclaimer: Tulisan ini adalah opini pribadi, yang setuju monggo, yang nggak “awas”ya! (disclaimer kok ngene…).

Antara penting dan tidak penting.

Sebenernya saya mau upload ini habis pendadaran, tapi kok.. ngampet sesuatu lama-lama itu gak baik, ya udah, jadi.. diposting saja.

Antara penting dan tidak penting.

Apa yang diantara penting dan tidak penting?

Itu.. yang mengalihkan dunia saya beberapa minggu ini.. apa lagi kalau bukan. SKRIPSI.

Antara penting dan tidak penting sebenernya Skripsi, kalau tidak bisa dibilang, tidak terlalu penting. Heu.

Why? Sebenernya ini tergantung sama pribadi masing-masing lagi sih ya. Tapi ‘kebanyakan’ punya nasib yang mirip2 satu sama lain.

  1. Manfaat nggak sih?
    Coba kita telisik ulang, apa sebenernya fungsi pendidikan itu? Menurut saya sih pendidikan itu bukan untuk mencerdaskan bangsa. Pernah dengar info tentang otak Einsten yang berbeda dari otak manusia pada umumnya? Yah.. mau tau bedanya apa..silahakan googling sendiri, banyak o infonya..:)Nah yang jadi point di sini adalah, cerdas itu kadang2 gifted(pemberian), makanya di dunia Psikologi sendiri ada sebutan ‘anak-anak gifted’, yang berarti memang anak2 yang memiliki kelebihan2 tertentu dalam sebuah minat atau bakat sejak lahir. Yang saya sorot di sini adalah ‘pemberiannya’. Cerdas itu diberi, tapi memang sih sel-sel saraf otak kita akan bisa berkembang manakala sering dilatih, tapi saya lebih suka menyebut nya sebagai istilah anak yang tekun dan giat lantas jadi sukses..Nah, oleh karena itu menurut saya mubadzir kalau pendidikan itu Cuma difungsikan untuk mencerdaskan seseorang, yang benar menurut saya.. pendidikan itu.. ada dan eksis untuk memperbaiki karakter, atau lebih tepatnya memperbaiki akhlaq. Tidak terkecuali anak MIPA, teknik, atau anak2 science dst.. meski mungkin tidak langsung berhadapan ‘ilmu untuk memperbaiki akhlaq’ ini seperti anak sosial, tapi karya mereka selama mencipta sesuatu itulah ladang untuk belajar memperbaiki akhlaq, bikin karya yang bermanfaat baik untuk umat, bikin karya yang jujur, tekun, dan sabar selama prosesnya. Belajar memperbaiki akhlaq dari sana.
    Lah terus hubungane karo skripsi????
    Ada. Signifikan sekali! Kalau skripsi itu termasuk dalam instrumen pendidikan maka sudah seharusnya skiripsi bisa membawa perbaikan akhlaq, yang akhirnya membawa kebaikan dan kemanfaatan buat sekelilingnya. Tapi kenyataannya sekarang skripsi kadang banyak yang sekedar ‘copas’ atau bikin Cuma buat sekedar syarat lulus.Alkisah di sebuah universitas swasta ada mahasiswa yang ‘mengupahkan’ skripsi nya pada agen-agen tertentu. Dan ternyata setelah pendadaran si mas-mas ini dapet apa coba.. Dapet A! Saya bingung deh ini yang salah mahasiswa atau dosen pengujinya. Atau.. salahkan saja setan? Jadi dimana letak kemanfaatan skripsi? Memang kita nggak bisa over generelized atau mengeneralisasi semua orang seperti itu, tapi ya.. yang begini ini banyak lho. Mungkin setidaknya bisa ‘meramaikan’ rak-rak perpus ..+____+
  2. Diajari untuk less competitive, don’t you??
    Adalah sebuah kesalahan fatal ketika skripsi dikatakan mahakarya. Benar-benar konsep yang salah, yang sayangnya banyak temen2 saya yang juga berpikiran begitu. Mahakarya mereka terakhir hanya saat SKRIPSI. Dan hanya 7 kata itu tok. S-K-R-I-P-S-I.Jadi seumur-umur pas kuliah nggak pernah kontribusi sesuatu ke masyarakat semacam bikin penelitian atau bikin pelatihan apa gitu, atau membuat sebuah produk/ berkarya sesuatu. Apalagi ikut kompetisi atau semacamnya. Nggak kepikiran samse.Nah jadi, gara-gara skripsi (maaf ya skripsi saya salahin terus.. >.<), ‘beberapa’ atau ‘banyak’ mahasiswa yang fokus sama satu hal itu aja, ngga usah ikut yang aneh2 lah selama proses kuliah, dah rajin dateng kuliah, duduk manis, ujian dapet A, nyekripsi, lulus, kerja.Alamak, hidupnya sungguh..terlaluh.
  3. Waktu dan Uang?
    Pemborosan waktu yang jelas-jelas adalah kalau kita dapet dosen bimbingan yang susah banget untuk ngebimbing. Alhasil kita harus ngantri untuk dibimbing.Nah, ini sih hasil pengamatan saya sama para mahasiswa yang lagi ngantri dibimbing. Kebanyakan diem, sambil meluk revisian (mungkin sambil mikir2 mau dihujat apalagi sekarang. Aihh..), main hp (mungkin twitteran, haha), ngobrol (rata-rata tentang isu skripsi masing-masing atau gosip hangat hari ini). Padahal kalau mau diitung misal satu orang bisa sampai 30 mnit bimbingan dikali 4 orang aja undah 2 jam terbuang gara-gara kayak begitu. Dan sangat mungkin juga si dosen keburu pulang lantas suruh ngantri lagi lain hari… what a beautiful day.haha.

    Uang.

    Jelas.. skripsi butuh dana sendiri. Dan untuk beberapa orang yang serius ‘berkarya’ pasti akan serius pula butuh ‘biaya’. Hee.. tapi sebenernya yang bagian ini bisa minta sponsor, jadi rada bisa diakalin. Itu tapi kalau penelitian kita menarik untuk didanai, kalau ada manfaat buat sponsor nya.. nek nggak.. ya.. nafsi-nafsi (sendiri-sendiri). Ala kuli hal.. sebenernya saya begini gara-gara dicritain temen saya yang kuliah di HI USM-Universiti sains Malaysia. Dia cerita kalau nggak perlu ada skripsi di sana.. jadi lulus ya dari nilai komulatif nya termasuk kalau memang pernah meneliti ada nilai plus tersendiri. Ya.. mungkin bisa juga seperti itu sih, nggak usah ada skripsi, tapi harus udah pernah kontribusi selama kuliah, dan sifatnya wajib itu penelitian atau kontribusi apa sebagai bukti prakteknya. (Selain KP atau KKN tentunya).

Atau pemerintah harus berupaya keras untuk mengubah mental mahasiswa kita yang merasa kalau skripsi satu-satunya maha karya selama kuliah. Dan juga pemerintah berikut jajaran PT harus bisa ngejamin kalau skripsi itu manfaat.. dan bisa memperbaiki bangsa. Thus.. uang berjuta-juta untuk pendidikan itu kerasa hasilnya.

 CMIIW anyway.. (semoga skripsi saya ga sekedar tugas akhir…tapi bisa manfaat dunia akhirat.. amiiiiinnn….. >.<)

PS: Ini murni bukan karena saya lagi nyekripsi lantas jadi pihak oposisi trus curcol di blog.. he. Udah kepikiran dari dulu ko ini.. :) 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s