ABK=Anak Berkebutuhan Khusus=Angan2 Belum Kesampaian

Mau crita dikit soal skripsi saya, saya punya beberapa judul, kata dosen TPS (Teknik Penulisan Skripsi) saya pas di semester 7, oke semua  lah, tapi kata Ibu Dosen saya itu yang paling mungkin bisa dikerjakan (cepat, gak makan banyak waktu) adalah judul skripsi saya yang sekarang.  Walhasil baiklah, idealisme saya agak menurun, for the sake of time n stuff. Yang penting topik ini masih tetap jarang diteliti di khazanah ilmu Psikologi. Oke dan saya tancap gas, proposal oke, dan alhamdulillah gak ada kesulitan.

TAPI saya CLBK sama sebuah calon judul skripsi saya dulu, yang sebenernya saya pengen banget neliti tentang itu. Gara-garanya konsultasi skripsi, dan membahas hal itu. Hah, kayaknya setan lagi ngipas2 saya untuk nyuruh ganti judul skripsi.. tapi alhamdulillah ndak segitunya.

Well, saya melihat kecenderungan banyak orang2 yang make istilah2 psikologi akhir2 ini dengan mudahnya. Misal, narsis (ijinkan saya mengategorikan ini sebagai istilah Psikologi). Sering kan kita dengar, misalnya temen kita ada yang suka foto2 dikit aja, terus kita nyeletuk “narsis bgt sih lu”, atau ada temen kita yang terlampau PD, “Yaelah.. narsis bener nih anak”, dst. Padahal kalau mau tahu, definisi narsis gak ‘sesimple’ itu.  Narsisme dalam Psikologi itu digolongkan ke dalam personality disorder (gangguan kepribadian), cluster B. Dan pengertian narsisme itu seperti ini:

“Sebuah pola sifat dan perilaku yang dipenuhi obsesi dan hasrat pada diri sendiri untuk mengabaikan orang lain, egois, serta tidak memedulikan orang lain dalam memenuhi kepuasan, dominasi, dan ambisinya sendiri.”

Grandiosity (waham kebesaran), terlalu memuja diri padahal semua keunggulan yg dinyatakan tidak nyata/ ilusi.

Well, dan kalau mau tau sejarah tentang istilah narsisme bisa baca di sini.

Oke bagian narsisme biarlah, sudah terlampau membumi istilahnya.

Cuman bagi saya yang sangat menyakitkan adalah kalau kita suka pake kata2 ini : autis, ADHD, hiperaktif, retardasi mental dan lainnya untuk sekedar ‘Joke’!

Padahal kalau anda tau perjuangan orangtua yang menghadapi permasalahan seperti itu, anda nggak akan sampai hati untuk make kata2 itu sebagai joke. Parahnya, antar anak Psikologi aja ada yang suka gitu, misal saya tadi di ‘jokin’ gitu, gara2 saya crita kalo saya habis matahin pagar asrama, “ADHD deh kamu hus, parah”. hei, parahan ngatain saya ADHD daripada njebol pager asrama >.<, trus saya pukulin nasihati deh temen saya itu. 

Bayangkan….

Perasaan seorang Ibu, yang lari tergopoh-gopoh untuk meluk anaknya.. menatap mata anak kecintaannya, sementara, si anak malah melihat entah kemana ke arah belakang si Ibu, dan tidak merasa kehadiran sang Ibu, yang udah meluk2..

Autisme, itu salah satu ciri anak autis, sibuk dengan dunianya sendiri.

Dan inilah salah satu tema skripsi yang sayapengen banget neliti. Tentang spiritualitas ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Kalau dlm penelitian Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya Kecerdasan Spiritual, maka kata mereka, manusia itu punya God Spot (Titik Ketuhanan), dimana disitu ada kebutuhan manusia untuk ber-Tuhan.

Dan saya benar2 penasaran, bagaimana dengan anak2 ini.. yang untuk menyadari orang2 di sekelilingnya saja susah, yang belajar bicara saja sangat lama, lalu bagaimana mereka mengenal Allah??? Bagaimana kita bisa memahamkan mereka tentang sholat? Tentang indahnya Al-Qur’an, tentang cara berwudhu bahkan. Sedangkan untuk mandi dan lainnya saja mereka membutuhkan bantuan.

HOW????

Hingga sampai pertanyaan ini: bisakah ABK (anak berkebutuhan khusus) bisa menjadi hafidz/ah???

Saya ingin tau mekanisme nya, ingin menemukan terapi apa yang sesuai.

Dan jawabannya INSYA ALLAH BISA. Link ini salah satu buktinya. coba aj di klik.

Memang Allah tidak pernah sia-sia dalam menciptakan segala sesuatunya.

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-siaia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali-Imron: 191)

Salah satu keistimewaan anak autis, dan kategori tertentu ABK lain yakni, ketelitian mereka. Tingkat perfeksionisnya sangat tinggi, mengapa bisa begitu? Karena salah satu ciri anak autis ia suka sekali mengulang-ulang segala sesuatunya, misalnya: memainkan kakinya ke depan dan belakang berulang-ulang, atau menggoyangkan badannya ke depan-belakang, atau memainkan jari jemari mereka di temaram sinar/ cahaya. Mereka suka yang seperti itu, mengulang-ulang sesuatu. Dengan pola yang sama, dan akan sangat terganggu jika ada sedikit saja pola yang berbeda.

Alkisah ada seorang anak autis di Sekolah ABK Taruna Al-Qur’an (Taruna Al-Qur’an, salah satu ponpes Tahfidz yang cukup ternama di Jogja). Di sekolah itu kebetulan dosen pembimbing Skripsi saya, bu  Sri Kushartati, yang jadi psikolog untuk sekolah ABK dan TKIslam Terpadu  Inklusi (inklusi berarti anak normal dan ABK bercampur 1 kelas) Taruna Al-Qur’an tersebut.

Anak itu bisa membuat sebuah kerajinan tangan yang sangaaaattttt bagus, sangaattttt rapih, cantik sekali!

Itu semata2 karena kelebihan yang diberikan Allah pada mereka. Tiap kali ada pola kerajinan yang berbeda, maka nggak tanggung-tanggung, ia akan mendedel (baca: membongkar ulang) hasil karya nya hingga jadinya semua pola sempurna samanya. Begitulah hingga akhirnya bisa tercipta sebuah mahakarya yang luar biasa indahnya. Kapan2 saya poto lah dan saya pasang di sini salah satu hasil buah tangan mereka. ;D

Nah.. inilah hubungannya dengan Al-Qur’an. Salah satu terapi yang digunakan oleh sekolah tersebut yakni terapi Al-Qur’an, yakni anak2 diperdengarkan murottal Al-Qur’an yang dibaca oleh hafidz/ para santri taruna Al-Qur’an.

Dan subhanallah! Ada yang berbeda, tingkat keaktifan mereka untuk berlari-lari, senggol sana, senggol sini pun berkurang. Tetap mereka akan bermain sendiri, akan tetapi lebih tenang, mereka seakan-akan menikmati dan mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan itu. Probably karena Al-Qur’an memang menenangkan, ingat penelitan Dr. Masaru Emoto, dg buku mendewanya tentang “The power of Water”, salah satunya terbukti bahwa kata2 baik, ayat2 Al-Qur’an bisa membentuk bentuk hexagonal dalam air, dan berdampak baik kalau kita mengkonsumsinya. Probably, anak2 jadi tenang begitu karena memang tubuh kita ini kan sebagian besar cairan, probably jadi sehat dengan denger Al-Qur’an. ;D

Dan kabar baiknya cara ini mempermudah proses terapi selanjutnya karena si anak ‘tenang’  secara emosi.🙂

Dan kabar lebih baiknya lagi, mereka bisa diajarkan untuk menghafal Qur’an, ingat kan bahwa salah satu ciri dari anak-anak ini adalah mereka suka mengulang-ulang pekerjaan mereka. Dan yah.. itulah yang dilakukan, anak2 ini mengulang bacaan2 Qur’an yang terekam dan terdengar oleh otak mereka.

Dan saya optimis, dan berasumsi kuat, bahwa.. pasti mereka pun bisa jadi hafidz/ah keren seperti orang pada umumnya.

Duh, malunya kalau kita yang diberi kondisi yang lebih baik nggak bisa maksimal.

Dan saya penasaran untuk menemukan formula yang tepat untuk memaksimalkan ‘kelebihan’ yang mereka punya. Ah, mungkin S2 bisa saya teliti lebih dalam. Amiin.

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

 

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. Al-Isra: 82)

Referensi:

  1. Sarasvati. 2004. Meniti Pelangi: Perjuangan Seorang Ibu Yang Tak Kenal Menyerah dalam Membimbing Putranya keluar dari Belenggu ADHD dan Autisme. PT. Elex Media Komputindo: Jakarta. (buku bagus bgt, ga terbit lagi katanya..)
  2. Catetan kuliah Psikologi Abnormal.
  3. Catetan ngobrol bimbingan skripsi sama dosen saya 12/5/ 2011,😀

2 thoughts on “ABK=Anak Berkebutuhan Khusus=Angan2 Belum Kesampaian

  1. saya kepingin sekali membaca buku ini “Sarasvati. 2004. Meniti Pelangi: Perjuangan Seorang Ibu Yang Tak Kenal Menyerah dalam Membimbing Putranya keluar dari Belenggu ADHD dan Autisme. PT. Elex Media Komputindo: Jakarta”, namun sudah beberapa bulan saya mencarinya dan tidak ketemu. baik mencari di internet akhir2 ini dan di toko-toko buku. baru nyadar kalau buku itu sudah tidak dicetak ulang lagi. jika tidak keberatan, bolehkah saya meminjam atau mungkin membelinya ….
    bagi saya buku tersebut sangat penting guna menyelesaikan penelitian saya …. terimakasih.🙂

    • Waduh maaf mas/ mbak.. saya baru cek blog lagi.. Sudah dapet kah bukunya? Bisa pinjem, tp punya saya cuma copyan juga, ngopy dr dosen.. mbak/ masnya ngopy saja. Lah ini domisilinya dimana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s