Apa prestasimu?

“Dah sampe mana hus, skripsinya?”

 “He.. Baru juga mulai mbak, maklum dari kemarin ‘jalan-jalan’ terus”

 “Ah.. kamu sih nyantai hus, mawapres* iki, rasah ontime banget ra popo, ada alesannya..ya toh?”

 Tunggu dulu, saya tidak bermaksud ujub atau bagaimana soal mawapres, tapi saya cuma mau ngasih contoh lah yang paling saya tahu ya tentang diri saya sendiri (lagian ini kan blog saya, suka2 ~.~)

Pernyataan terakhir itu sangat menggelitik , dan bikin saya berpikir negasinya.. seandainya saya bukan mawapres lantas apakah studi saya sia-sia?

Saya bukannya antipati sama orang2 yang berprestasi (lah kalau diukur saya juga tergolong orang yang punya N-Ach–> need of achievement yang amat tinggi), jadi saya ini sangat berambisi untuk bisa prestatif.

Dan justru setiap muslim itu malah dituntut untuk bisa berprestasi!

“..maka berlomba-lombalah kamu dalam hal kebaikan”(al-Baqoroh: 148)

Belum lagi tentang derajat orang2 berilmu yang ditinggikan Allah..wuih..siapa yang gak pengen

“..niscaya Allah akan mengangkat (derajat) orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Maha Teliti Apa yang kamu kerjakan”(Al-Mujadilah:11)

Maksud saya, sometimes people seems like walk in circle phantom (lingkaran setan). Seakan-akan prestasi adalah satu-satunya tujuan, yang membuat tinggi hati atau rasa lega tak terkira saat diraih, dan sedih hati ketika tidak tercapai.

Terkadang hikmah dan segala macam rahasia Allah menjadi ‘hambar’ gara2 kegagalan kita dalam meraih sesuatu yang bernama prestasi. Coba, bayangkan wanita sperti bu Muslimah dalam Laskar Pelangi, akankah ia tahu bahwa suatu saat nanti ia akan sangat terkenal dan mendapat ‘prestasi dunia’ seperti yang beliau peroleh sekarang?

Tidak tentu saja, kalau bisa… itu mah dukun namanya! ;D

 Tetap saja, prestasi2 itu penting untuk kita raih, karena terkadang itu membuktikan TOTALITAS kita pada suatu hal. Benar… akan tetapi terkadang kita harus melihat jauh dari itu semua..

Dan di sini lah logika langit memainkan perannya, dan memiliki cara pandang yang berbeda.

“…sungguh yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling tinggi ketaqwaannya…” (QS Al-Hujurat 13)

Harusnya perasaan sedih kita ini adalah ketika prestasi2 dunia kita, sama sekali nggak ada manfaatnya untuk akhirat kita.

Alangkah indahnya, jika prestasi2 dunia kita ya bermanfaat untuk prestasi akhirat kita, yaa.. apalagi kalau bukan untuk menambah derajat takwa kita.

Jadi logika kesia-siaan adalah ketika apa yang kita kerjakan itu sama sekali nggak berbekas untuk bekal akhirat kita.

 Pernah saya takut, untuk ikut lomba, karena tahu saya kemungkinan besar kalahnya besar. Itu.. ciri bahwa prestasi saya cuma sebatas eksistensi menang kalah, gak ada visi misi takwa nya sama sekali. Jadi intinya saya bersyukur.. bahwa seseorang (dan sangat berharga dalam hidup saya) telah berhasil membuka mata, tentang prestasi dalam perspektif yang berbeda..

Imam Ghazali, yang karyanya banyak menjadi acuan ilmuwan Barat, dan bahkan diakui kehebatannya saat melawan argumentasi filsuf jaman silam..

Atau Usamah bin Zaid ra telah memimpin pasukan diusianya yang 17 tahun. Dan yang ia pimpin kata Nabi adalah sebaik-baiknya pasukan, yang berisi para hafidz dan ahli ibadah..

Muhammad Al Fatih yang di usianya 23 tahun berhasil menduduki kota yang sulit ditaklukkan oleh kaum muslimin, Konstatinopel.

Atau seperti anak kecil ini yang di usia 3 tahun sudah hafal Al-Qur’an..

Hupfh… hanya saja kali ini perspektif prestasi bagi saya jauh berbeda.. Terlebih ilmu Psikologi, prestasi dengan IP cumlaude atau menang lomba saja jelas tidak merepresentasi ‘prestasi’ bagi saya sekarang. Psikologi hanya akan menjadi prestasi ketika kita mempraktekannya, begitu juga ilmu lainnya sebenarnya, dan yang pasti bagaimana prestasi kita bisa menambah derajat ketakwaan kita. Prestasi dimata dunia yang sangat tinggi, belum tentu tinggi di hadapan-Nya. Lagi2.. kembali pada niatan awalnya

“.. dan siapa yang hijrahnya itu karena dunia yang ingin diraihnya, atau karena seorang wanita yang akan dikawininya, maka hijrahnya itu ke arah apa yang dituju..”

Jadi kesimpulan nya niat kita lah yang akhirnya menjadi hasil dari prestasi itu sendiri, kalau untuk taraf dunia saja prestasinya, ya.. itu yang didapat tidak lebih. Dan saya rasa saya ingin mencari prestasi yang dianggap-Nya tinggi saja. Kalau ingin mencari prestasi dunia saja, hanya rasa kering dan bahagia dunia saja yang ada. Dan lagi saya takut jika kelak nanti ditanya “lalu apa yang kamu dapat dari itu semua?”

 Yah.. jadi, sedari sekarang kenalilah motivasi prestasi kita.. adakah tujuan akhirat di sana? Jika ada maka teruskan, percaya pada kemampuan kita, dan serius dalam menjalani karya-karya kita🙂

Tidak mudah menemukan tujuan akhirat kita, karena terkadang banyak hal yang harus dikorbankan, salah satunya mungkin ‘tidakterpublikasinya’ prestasi2 kita-sesuai konteksnya ya maksud saya. Pernah waktu itu saya akhirnya gak ikut sbuah program exchange student karena musti disuruh melakukan sesuatu yang nggak saya sukai. Yasudahlah, terbuang begitu saja.

Akan tetapi.. memiliki dan memilih sesuatu untuk Allah.. lebih indah rasanya..🙂

NB: Tapi..tetep! kalau mau jadi ilmuwan muslim kudu banyak prestasinya, hanya saja niatnya diperpanjang.. bahwa ilmu saya akan bermanfaat bagi tersebarnya syiar Islam.. rasa2nya tujuan seperti ini akan lebih ‘berharga’ dan terasa bermakna untuk dijalani. Wallahualam!🙂

*saya juga juara 2 saja kok tingkat univnya. Alhamdulillah tapi.. pusinglah kalau juara 1 banyak pekerjaan menarik lain yang tidak bisa saya kerjakan.😀

10 thoughts on “Apa prestasimu?

  1. dari kemaren ta tunggu postingannya mba….
    hehehe.
    semanGKA mba husni and all for achieving what Allah wants us to be!!!!

    • Hoaa.. senengnya ditungguin postingannya, berasa penting *keGRan*.haha
      jazakillah ya fanny.

      yah.. kalo yang udh hampir lulus gini (amiiin), mungkin orientasi prestasinya beda yaa.
      fanni yang masih semester ‘tengah’ insya Allah masi banyak kesempatan!!! Akhir taun ni ada conference di Taiwan loh fan! Tanya deh sama Imanuri, kayaknya bu Indah juga tau..

      sip deh. SemangKA…!!!?>.<

  2. Kata ustad, lbh baik sdikit ilmu kbaikan tp diajarkn-dsebarluaskn-diaplikasikn ketimbang cm sibuk m’p’kaya ilmu tp hanya u dirinya sndiri… Ajarkanlah walopun hanya 1 ayat.
    Jadi, gmn kbr adik2 yg butuh u diajarin ngaji? Adakah yg m’pedulikan mereka?

    • weh… ogi mampir sini lagi😛
      Iya rival, smoga nambah terus prestatif takwa kita. Ayo blog mu diisin duonkk..
      Critain pas ngisi training anak2 tuh.. pasti seru, bisa di bisniskan juga to, *mataduitan*. Maksudnya promosi ini lembaga traning mu itu biar bisa lebih merata gitu lho, publikasi Gie..^^

  3. Sebetulnya Mbak Fitri gak usah pusing2 mikirin prestasi. Entah prestasi dunia,akhirat,univ dll. Bukankah Nabi SAW sudah meninggalkan nasihat yg amat berharga”siapakah orang2 yg berprestasi? Yaitu orang2 yg hari ini lebih baik drpd hari kemarin”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s