my idealism? YES.

Postingan ini berdasarkan hasil percakapan saya sama yuri pas di International Conferencenya API (Asosiasi Psikologi Islam) tanggal 9-10 april kemarin di Malang.

Pas itu saya tanya sama Yuri-psikologi UGM, bsok mo lanjut S2 dimana? dan yuri keliatan mantep untuk jawab, aku mau ambil sains dulu hus, ndak profesi. (it means klo dia ga bakal bisa jadi psikolog seutuhnya karena belum ambil profesi yang melegalkan kita untuk buka tempat konseling atau praktek biro jasa psikologi apalagi jadi terapis).

“lah terus kamu mo kmana Yur?”

lalu Yuri menjawab (bahasany wes tak gubah sdikit tp intinya sama ^^):

“kek nya ..mo nglanjutin di Universitas Ibnu Khaldun yang di Bogor tu lho hus, punyanya pak Adian Husaini, pengennya sih ke IIUM, tapi bhs Inggris ku masih ‘blibet’ (skali lagi yuri gak ngomong kek gini tapi intinya sama, blibet mah itu kosakata yg saya buat2 yang bisa berarti ruwet).

 

lalu saya terhenyak. Yah pikiran kami almost same…🙂 agaknya hanya dengan kuliah double di bhs Arab ga cukup utk bisa paham Islam. Pemikiran kita belum terbentuk.

 

And it leads me to different perspective of getting my master degree.🙂

Yeah… saya juga berpikiran begitu loh Yuri… saya ngincer ini yang satu ini:🙂

ISTAC “International Institute of Islamic Thought and Civilization” -IIUM Mlysia-

perhaps, smoga kita banyak rejeki.. jadi kita bisa kuliah kesini atau ke Ibnu Khaldun..lalu ambil profesi di Inggris (kalau saya. nek Yuri? wah belum tanya lagi). dan mengobrak-abrik teori Barat yang fatalis.*niat jahat mode: on*

 

Bismillah ya Allah mudahkan…smoga ini benar2  bisa menjadi jalan ibadah. kalau pun belum berkesempatan, pasti saya punya cara terbaik lainnya untuk bisa BERKONTRIBUSI!!!! Yooooo…semangat menuntut ilmu!!!😀

 

P.S: untuk lebih memahami mengapa saya sensitive berat sama teori psikologi barat, coba baca postingan sebelumnya ttg Psikologi dan Gurun Sahara 🙂

2 thoughts on “my idealism? YES.

  1. Jika ingin, baik, dan bahagia..Maka gapailah. Ilmu yang keliru berfungsi pahala bagi yang membenarkan. Namun sebagai manusia yang memiliki akal dan potensi lebih dari makhluk lain. Manusia yang berilmu haruslah lebih bijaksana dalam menilik sisi kekeliruan, sehingga menjadi sumber kebaikan dan mengubah pemahaman kekeliruan menjadi kebenaran.
    S.P.W (^_^)

    • “Ilmu yg keliru berfungsi pahala bagi yang membenarkan”–> tumben nih gie, kita sepaham =.=, biasanya slalu bertolak belakang🙂

      OK gi, smpe ktemu brpa tahun lagi ya, dan kita ktemu dg kondisi yg semoga sudah jauh lebih baik🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s