JAGALAH KEBENINGAN FITRAH ITU…

Pandangan, betapa seringnya kajian tentang hal ini terus menerus diulang. Tidak di kajian luar, bahkan di dalam pondok pun berkali-kali santri menggunakan tema ini dalam kultum2 nya. Dan sama sekali saya tidak pernah merasa bosan mendengarkan peringatan2 tentang kehati-hatian utk menjaga pandangan. Dan selalu.. berkali-kali hati saya didera rasa bersalah tiap ada materi tentang yang satu ini. Pandangan. Yah. Bukankah konsekuensi iman kita adalah taat pada Allah dan Rosul-Nya, baik dalam hal yang kita suka maupun tidak kita suka. Tapi tetap saja, perkara2 seperti ini masih sering menjadi ‘tantangan’ agar kita mau benar2 berlepas dari dampaknya. Ya, apalagi kalau bukan zina…

Mari kita tengok QS An-Nur: 30

“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

Pandangan yang tidak terjaga adalah gerbang awal kemaksiatan, atau ekstrimnya mari kita sebut saja zina. Zina tidaklah diartikan secara harfiah hanya menyangkut hal2 seperti ‘free sex’, tapi zina could reflect  many forms guys..(zina bisa terefleksi dalam berbagai bentuk) dan karena macam2 bentuk ini maka kita sering sekali tertipu dan setan yang jadi pemenangnya.

Apa saja bentuk2 zina ini? Let’s see:

Pandangan yang tidak terjaga, berarti secara tidak langsung kita sudah zina MATA. Dan dari mata ini bisa mengantarkan kita pada bentuk zina lainnya. Ya..selanjutnya adalah zina AKAL. Akal kita mulai dirasuki kilasan2 memori tentang si ‘dia’, detik2 dalam sholat kita mungkin ‘terpecah’ oleh bayang2 senyumnya.. tiap aktivitas kita mengajak akal kita menelisik ulang ‘perilaku-perilakunya’. Ini zina akal. Akal kita sudah dimasuki pikiran2 itu. Selanjutnya berlanjut lagi ke..zina HATI. Mulai muncul desiran2 dalam hati yang bikin kita..duduk salah berdiri salah (wasir kaliiii >.<). Bikin hati kita sedikit2 galau memikirkan apa yang sedang ia lakukan? Apa sempat dia memikirkanku? Dan banyak ‘penyakit2 hati’ mulai menjamur di dalam jiwa kita.  Masih lagi..berlanjut, kali ini berubah menjadi zina NAFSU, yakni ada dorongan2 yang disertai syahwat, apa itu syahwat? Syahwat simply bisa diartikan sebagai keinginan kita untuk bersama seseorang, nafsu kita yang sebenarnya manusiawi ini disalahgunakan. Mulai deh timbul rencana2 dalam diri kita untuk berzina (eits, lagi2 jangan diartikan zina disini hanya dalam konteks ‘berhubungan’). Misalnya mulai kita zina MULUT. Apa contohnya..hmmm.. misalnya, kita punya rencana..”ah, nanti kalau si ‘pujaan hati’ datang..saya akan tersenyum menyapanya..” . Nah ‘rencana-rencana’ seperti ini pun tergolong zina jika kita benar2 tersenyum karena motif syahwat tadi. (NB: Innamal a’malu binniat..kalau tersenyum utk sedekah beda lagi lah yaa..Allah Maha Tahu >.<). Lalu zina LISAN.. misalnya lalu dengan ‘basa-basi’ mulai mengajak ngobrol, “Ukhti/ akhi.. bagaimana tadi pas aksi, tadi kan hujan-misalnya-”. Hedeh…naudzubillah..atau mungkin pertanyaannya biasa seputar organisasi “Akhi/ ukh.. tugas yang kemarin sudah jadi?àpadahal maksudnya pengeeen bgt ngajak ngobrol, bukan semata-mata menanyakan amanah”. Nah dari sini bisa berlanjut lagi menjadi zina TELINGA. Yaaa..zina telinga, karena mungkin ‘si dia’ lalu akan menjawab, blablabla..dan kita mendengarkannya secara seksama dan menikmati ‘jawabannya’(Masya Allah!). Lalu…teruusss bermetamorfosa menjadi zina lainnya yakni zina tangan. Misalnya…tuh habis pulang syuro, mulai deh tangan kita meng-Sms ‘si dia’, entah dengan alibi macam apa, tanya prosepek amanah mungkin atau ya..hal2 lain. Atau lewat komen2 di fesbuk, tangan kita…turut membantu terlaksananya zina. Naudzubillah. Lalu berlanjut jadi zina KAKI..duh, mulai deh bikin janji2..entah benar2 yang tersurat seperti pergi berduaan! Atau yang tersirat, misalnya pura2nya pergi survey lokasi untuk apaaa gitu, tapi yang ada di otak kita itu, bahagia. Senang sekali karena ‘si dia’ juga disana, bersama kita. Naudzubillah..ya Allah T.T

Lalu pada tahap yang paling NISTA yaitu ya..zina KEMALUAN. Dan Allah benar2 melaknat perbuatan ini.

Dan semuanya berawal dari PANDANGAN. Kemampuan kita menjaga dan mengontrol pandangan kita lah yang menjadi kunci terjadi/ tidaknya hal ini.

Bagaimana proses pandangan ini bisa menjadi zina???

Pertama, pandangan yang tidak segera dipalingkan akan menghasilkan Mahabbah.

Ketika sudah menjadi mahabbah akan muncul rasa kebergantungan pada diri kita, dan kondisi ini disebut dengan Shababah.

Ketergantungan ini akan berdampak ingin selalu berulang, sehingga rasanya sehari dua hari tidak melihatnya, atau berbicara dengannya jiwa akan tersiksa.Dan kondisi ini disebut dengan Gharam.

Ketika belum mau bertaubat, maka manusia akan kehilangan rasa sensitif takut akan  maksiat, sehingga tidak lagi merasa dosa. Bahkan maksiat seakan-akan sudah menjadi kenikmatan sesaat. Kondisi ini disebut Al-Isyqu.

Lalu perasaan yang sudah menguat dalam hati ini terus menyatu dalam diri manusia, sehingga hilang rasa malu saat bermaksiat, seperti halnya yang dilakukan permaisuri Raja Mesir pada Nabi Yusuf. Kondisi ini disebut dengan Syagaf.

Bahkan ketika semakin kuat lagi, manusia bisa mencapai tahapan syirik pada Allah, karena sampai pada tahapan penghambaan diri pada apa yang dicintainya, dan kondisi ini disebut dengan Tatayyum.

NAUDZUBILLAHIMINDZALIK…

Padahal tahukan apa pemberian Allah bagi orang yang bisa menjaga pandangannya?

Pertama yakni perasaan akan MANIS dan LEZATnya iman…Kedua, orang yang mampu menjaga pandangannya akan memiliki HATI yang BERCAHAYA yang mampu menumbuhkan firasat yang akurat. Dan yang ketiga yakni Allah akan memberi kita HATI yang KUAT, TEGUH, dan BERANI.

Dalam sebuah atsar(perkataan sahabat) dijelaskan: “Barangsiapa yang selalu menyalahi hawa nafsunya, syaithan takut kepadanya bahkan dengan bayangannya”.Subhanalloh….T.T

Mari kita jaga hati kita. Rasa suka, cinta itu bukan hal yang salah, itu fitrah. Fitrah berarti pemberian Allah yang memang sudah ada dalam diri kita karena Allah yang berikan rasa itu pada kita. Namun, fitrah ini akan hilang maknanya, manakala kita menodainya. Rasa fitrah akan cinta sesungguhnya akan tertutupi oleh maksiat2 yang mungkin sering kita lakukan. Yuk..mari kita tekadkan lagi azzam kita untuk menajga fitrah ini agar tumbuh dalam jalan yang seharusnya. Agar fitrah ini tidak membuat kita merasa was-was akan dosa dan rasa bersalah pada-Nya. Kita bisa menjaganya, Allah sudah pastikan itu. Karena kita orang beriman, dan dengannya kita berjuang melawan fananya dunia.

Referensi:

  1. Kultumnya Salma –jazakillah ya moo..^^
  2. 64 Bekal Hidup Wanita Muslimah dari surat An-Nur karya Ust. Abdul Aziz Abdur Ra’uf, Al-Hafidz, Lc.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s