Category Archives: Psychology

all u can get from my study is here :)

Saga no Gabai Bachan

Saga no Gabai Bachan

“Saat ini dunia sedang mengalami masa ekonomi yang buruk, demikian kata semua orang, tapi tidak ada yang mesti dibesar-besarkan.

Kita hanya kembali ke masa lalu, begitu menurutku.

Yang berubah hanya manusianya.

Karena tidak punya uang.

Karena tidak dapat makan di hotel.

Karena tidak dapat berpelesir di luar negeri.

Karena tidak dapat membeli barang-barang bermerk…

Bila kita berpikir tanpa semua itu kita jadi tidak bahagia, sudah jadi apa sebenarnya kita?

Meski ini mungkin tidak enak didengar oleh orang yang baru saja dipecat, tapi rasa berat kehilangan pekerjaan pastinya muncul karena pikiran-pikiran tadi.

Padahal karena pekerjaan, mereka bangun tiap jam 8 pagi, naik kereta penuh berdempet pada jam sibuk kantor, bekerja lembur, duduk menemani minum sake yang sebenarnya tidak ingin ditenggak, lalu naik kereta terakhir untuk pulang…. Kalau saja mereka mau melihat situasi –tak lagi punya pekerjaan- sebagai kesempatan baru untuk melepaskan diri dari kehidupan seperti tadi, mereka pasti mampu menghadapinya.

Tak ada uang maka tak bahagia.

Menurutku semua orang kini kelewat dengan perasaan seperti itu.

Kemudian karena orang dewasa berpikir demikian, maka anak-anak pun tak ayal ikut dibesarkan dalam keadaan ini.”

Paragraf di atas adalah cuplikan dari prolog sebuah buku terjemahan Jepang-Ind, yang sejak saya membaca prolognya, saya yakin saya akan jatuh cinta sama buku ini! Yaaaay! Kereeeen sekali memang T.T.

This book is highly recomended!!!! Buku luarrr biasa ini  berjudul: “Saga no Gabai Bachan” atau yang dalam bahasa Indonesia  diartikan “Nenek Hebat dari Saga” karangan Yoshici Shimada. Kisah nyata. Dan sebenarnya sudah diterbitkan sejak lama (2001), yang 2 tahun setelah penerbitan, buku itu langsung habis terjual, dan dicetak kembali, cetak lagi, dan dicetak lagi.

Mari kita menyapa Indonesia. Hari-hari ini adalah saat semua orang lebih banyak bicara tentang masalah, mengeluh, dan mempertanyakan ketidakadilan tentang nasib hidupnya. Membaca buku ini, seperti menertawakan para tukang pengeluh dan penggerutu. Nenek Osano (tokoh utama dalam buku ini), mengajarkan kita tentang banyak kearifan hidup ditengah kondisi paling tidak mengenakkan sekalipun. Tidak ada alasan untuk tidak bersyukur. Tidak ada alasan untuk mengeluhkan sesuatu. Saya sendiri tertawa saat membaca judul di Bab 4 pada buku ini:

Cara Tepat Hidup Miskin.

(+.+ Whaat a tingling heading!)

Mari kita intip beberapa kalimat yang dikatakan Nenek Osano saat menasihati Akihiro (cucunya/ penulis buku ini):

“Ada dua jalan buat orang miskin. Miskin muram, dan miskin ceria.

Kita ini miskin yang ceria.

Selain itu karena bukan baru-baru ini saja menjadi miskin, kita tidak perlu cemas.

Tetaplah percaya diri.

Keluarga kita memang turun temurun miskin.”

(Hanya dengan berkata “kita turun temurun miskin” sambil membusungkan dada, Nenek sudah menunjukkan bahwa dia mengusung cara hidup misikin garis keras-Akihiro).

Saat membaca bagian cara hidup miskin garis keras, saya hanya teringat dengan perkataan serupa, seperti -Kelompok Islam garis keras. Ternyata, hidup miskin pun ada levelnya @.@

Yeaaah, itu adalah sekelumit kata-kata ironi yang sebenarnya menyimpan banyaaaak sekali makna. Dan masih banyak lagi pelajaran -sangat amat berharga- yang bisa kita ambil dari kisah nenek Osano ini.

Semoga kita bisa mencontoh Nenek Osano ya dalam menghadapi berbagai kesulitan dalam hidup. Karena kebahagiaan, datangnya bukan dari uang.

Judul : Saga No Gabai Bachan (Nenek Hebat dari Saga)
Penulis : Yosichi Shimada
Koord. Penerjemah : Mikihiro Moriyama
Penerjemah : Indah S. Pratidina
Penerbit : Kansha Books
Cetakan (di Indonesia) : I, April 2011
Tebal : 245 hlm

weiiiits, ada filmnya juga loh ;D (bahkan game, manga juga ada :D )

Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu memaklumkan. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah  (nikmat) kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku, maka pasti adzab-Ku sangat berat.”(Ibrahim:7).

Terimakasih Pelajaran Bahasa Indonesia

Terimakasih Pelajaran Bahasa Indonesia

Ya.. terimakasih pelajaran Bahasa Indonesia.

For what?

Hmm, Let’s see.

Apa yang anda lakukan saat membaca sesuatu? Tulisan saya misalnya? Mencoba memahami alurnya kah (iya, mbundet soalnya critamu..), atau memahami isi tulisan (nggak pake mikir ko baca tulisanmu hus), atau mencoba menerka kemana arah pembicaraan (ini tambah ga penting lagi)? Haha, apapun lah. Tapi beneran nih saya nanya..

Apa yang anda pikirkan saat membaca sesuatu?

Yippie.. macem2 pastinya, tapi kalau saya biasanya tergantung di atap, kalau bacaan nya seru.. saya akan menikmati kata demi kata dari tulisannya :) , tapi kalau err.. agak bikin saya capek bacanya (entah mungkin pertama, karena tulisannya yang terlalu bertele-tele, kedua, saya yang sedang tidak dlm mood yang bagus, atau ketiga, memang otak saya tidak kunjung ‘dong’ untuk memahami isinya), saya langsung loncat2 bacanya.Kebanyakan sih karena alasan yang ketiga :D

Tapi, saya dapet ilmu baru habis nemenin si yurimin yurisa konsultasi skripsinya sama Pak Bagus kemarin.

Tentang bagaimana kamu memilah-milah bacaan2mu, n try to criticize what u’ve read. Udah biasa sih ya denger.. yang kayak beginian, tentang bagaimana kita harus kritis, and bla..bla..bla. Tapi kalau kamu melihat dan merasakan betul efek kerusakan dari salah baca, rasanya.. mengerikan.

Tentang Opini di atas Opini.

And I realize that it is indeed true.. that, our mind sometimes is easily effected by some one’s opinion. Hence, we have to distinguish it. As well.

Cobe cek paragraf di bawah ini!

“So, the religious thruths preached by Mohammed have not been altered in any way; but under the stress of necessity they have been clad in modern armour, which has somewhat changed their aspect.”

Artinya kira2 begini:

“Jadi, kepercayaan agama yang diajarkan Muhammad, tidak diubah dalam hal apapun, akan tetapi dibawah tekanan kebutuhan, ajaran-ajaran ini telah dibalut dengan perisai modern, yang telah mengubah aspek-aspeknya”

Coba tebak siapa yang nulis potongan paragraf di atas?

Mungkin kalau tahu siapa penulisnya anda akan lebih mengkritisi, tapi tanpa melihat siapa penulisnya, kita terkadang bisa manggut-manggut n setuju dengan apa yang ditulis.

Any way, paragraf  diatas sungguh sangat berbahya, si penulis memberikan opini sendiri atas sebuah fakta, yang tersirat dalam penjelasannya.

Kepercayaan dan keyakinan akan agama (aspek-aspek akidah) tidak akan pernah berubah bagaimanapun jenis jamannya. Begitu pula dengan beberapa hukum yg tidak akan berubah hingga akhir jaman nanti, misalnya, hukum tentang homosexual. Bagaimanapun Islam akan tetap memandang hal itu sebagai hal yang haram dilakukan.

Beda dengan jaman sekarang, fenomena2 ini dianggap sebagai masalah kebebasan HAM dan lain2. Pelarangan ini saya yakin seyakin-yakinnya, bukan karena Islam tidak membumi, melangit, atau membimasakti, tapi Allah pasti punya alasan sendiri membuat aturan seperti itu, emm.. menjaga keseimbangan ekosistem perhaps? Wallahualam, yang jelas hikmah cuma bisa diambil sama orang yang hatinya bersih.

Jadi Agan2 semua.. :) (mendadak kaskus)…

Mari balik lagi ke paragraf tadi. Kalau di paragraf tadi, bagian akhir itulah yang disebut opini, si penulis mengatakan bahwa aspek2 keyakinan ini bisa berubah sesuai dengan tuntutan jaman.. jadi kalau pakai opini itu bisa aja tahun depan kita bilang Tuhan kita ada 5 kalau toh ternyata kita rasa Tuhan yang cuma satu itu ‘keteteran’ ngurusin bumi seisinya. (Naudzubillah..)

Itu dia masalahnya, kita suka terjebak dan sulit ngebedain, mana fakta, mana opini. Kadang keduanya bercampur, dan kita nurut2 aja.. kadang opininya tersamar, dan kita nurut-nurut aja.. Padahal bisa membedakan keduanya itu penting sekali.

Dan kita lantas suka terjebak dan latah mengagumi pendapat seseorang, and lagi2 ini karena … opini di atas opini.

Viceversa, kita bisa saja menggunakan opini di atas opini untuk meluruskan sesuatu yang salah. Tentunya kalau kita mengerti mana yang benar :)

Dan ternyata ini sangat relate sama tema skripsi saya tentang aliran sesat, tentang bagaimana orang-orang itu begitu mudahnya taklid pada opini yang tercampur dengan fakta (kebenaran). Entah lewat tafsir Al-Qur’an atau hadits yang seenaknya, atau semata-mata tertipu dengan OPINI… lagi2 jangan mudah beropini di atas opini, kalau belum tahu faktanya.

That’s why saya berterimakasih sama pelajaran Bahasa Indonesia.. Soalnya jadi keinget, dulu pas jaman SD-SMP seriiing banget nemu soal begini:

“Coba temukan fakta dan opini yang ada dalam paragraf di bawah ini!”

Heuu.. sekali lagi.. terimakasih Bahasa Indonesia.

PS:

Paragraf berbahasa Inggris di atas ditulis oleh Snouck Hurgronje (jiah, nulis namane wae blibet!). Siapa dia? Snouck Hurgronje adalah seorang orientalis dari Belanda, FYI. Si bapak2 ini juga sempat masuk Islam, tapi tujuannya ya.. yah.. u know lah, destroy everything, dan dia mengakui hal ini dalam buku-bukunya, tentang tujuannya, dan tentang keberhasilannya mengobrak-abrik Islam. Hmmh.. naudzubillah. (Oh ya maaf saya lupa paragraf itu dikutip dari buku Snouck yg mana, nanti saya susulkan kalau sudah nemu bukunya :) )

 PS lagi.. : Probably, blog saya penuh dengan OPINI! Jadi berhati-hatilah..haha :D

ABK=Anak Berkebutuhan Khusus=Angan2 Belum Kesampaian

ABK=Anak Berkebutuhan Khusus=Angan2 Belum Kesampaian

Mau crita dikit soal skripsi saya, saya punya beberapa judul, kata dosen TPS (Teknik Penulisan Skripsi) saya pas di semester 7, oke semua  lah, tapi kata Ibu Dosen saya itu yang paling mungkin bisa dikerjakan (cepat, gak makan banyak waktu) adalah judul skripsi saya yang sekarang.  Walhasil baiklah, idealisme saya agak menurun, for the sake of time n stuff. Yang penting topik ini masih tetap jarang diteliti di khazanah ilmu Psikologi. Oke dan saya tancap gas, proposal oke, dan alhamdulillah gak ada kesulitan.

TAPI saya CLBK sama sebuah calon judul skripsi saya dulu, yang sebenernya saya pengen banget neliti tentang itu. Gara-garanya konsultasi skripsi, dan membahas hal itu. Hah, kayaknya setan lagi ngipas2 saya untuk nyuruh ganti judul skripsi.. tapi alhamdulillah ndak segitunya.

Well, saya melihat kecenderungan banyak orang2 yang make istilah2 psikologi akhir2 ini dengan mudahnya. Misal, narsis (ijinkan saya mengategorikan ini sebagai istilah Psikologi). Sering kan kita dengar, misalnya temen kita ada yang suka foto2 dikit aja, terus kita nyeletuk “narsis bgt sih lu”, atau ada temen kita yang terlampau PD, “Yaelah.. narsis bener nih anak”, dst. Padahal kalau mau tahu, definisi narsis gak ‘sesimple’ itu.  Narsisme dalam Psikologi itu digolongkan ke dalam personality disorder (gangguan kepribadian), cluster B. Dan pengertian narsisme itu seperti ini:

“Sebuah pola sifat dan perilaku yang dipenuhi obsesi dan hasrat pada diri sendiri untuk mengabaikan orang lain, egois, serta tidak memedulikan orang lain dalam memenuhi kepuasan, dominasi, dan ambisinya sendiri.”

Grandiosity (waham kebesaran), terlalu memuja diri padahal semua keunggulan yg dinyatakan tidak nyata/ ilusi.

Well, dan kalau mau tau sejarah tentang istilah narsisme bisa baca di sini.

Oke bagian narsisme biarlah, sudah terlampau membumi istilahnya.

Cuman bagi saya yang sangat menyakitkan adalah kalau kita suka pake kata2 ini : autis, ADHD, hiperaktif, retardasi mental dan lainnya untuk sekedar ‘Joke’!

Padahal kalau anda tau perjuangan orangtua yang menghadapi permasalahan seperti itu, anda nggak akan sampai hati untuk make kata2 itu sebagai joke. Parahnya, antar anak Psikologi aja ada yang suka gitu, misal saya tadi di ‘jokin’ gitu, gara2 saya crita kalo saya habis matahin pagar asrama, “ADHD deh kamu hus, parah”. hei, parahan ngatain saya ADHD daripada njebol pager asrama >.<, trus saya pukulin nasihati deh temen saya itu. 

Bayangkan….

Perasaan seorang Ibu, yang lari tergopoh-gopoh untuk meluk anaknya.. menatap mata anak kecintaannya, sementara, si anak malah melihat entah kemana ke arah belakang si Ibu, dan tidak merasa kehadiran sang Ibu, yang udah meluk2..

Autisme, itu salah satu ciri anak autis, sibuk dengan dunianya sendiri.

Dan inilah salah satu tema skripsi yang sayapengen banget neliti. Tentang spiritualitas ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Kalau dlm penelitian Danah Zohar dan Ian Marshall dalam bukunya Kecerdasan Spiritual, maka kata mereka, manusia itu punya God Spot (Titik Ketuhanan), dimana disitu ada kebutuhan manusia untuk ber-Tuhan.

Dan saya benar2 penasaran, bagaimana dengan anak2 ini.. yang untuk menyadari orang2 di sekelilingnya saja susah, yang belajar bicara saja sangat lama, lalu bagaimana mereka mengenal Allah??? Bagaimana kita bisa memahamkan mereka tentang sholat? Tentang indahnya Al-Qur’an, tentang cara berwudhu bahkan. Sedangkan untuk mandi dan lainnya saja mereka membutuhkan bantuan.

HOW????

Hingga sampai pertanyaan ini: bisakah ABK (anak berkebutuhan khusus) bisa menjadi hafidz/ah???

Saya ingin tau mekanisme nya, ingin menemukan terapi apa yang sesuai.

Dan jawabannya INSYA ALLAH BISA. Link ini salah satu buktinya. coba aj di klik.

Memang Allah tidak pernah sia-sia dalam menciptakan segala sesuatunya.

(yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-siaia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. (QS. Ali-Imron: 191)

Salah satu keistimewaan anak autis, dan kategori tertentu ABK lain yakni, ketelitian mereka. Tingkat perfeksionisnya sangat tinggi, mengapa bisa begitu? Karena salah satu ciri anak autis ia suka sekali mengulang-ulang segala sesuatunya, misalnya: memainkan kakinya ke depan dan belakang berulang-ulang, atau menggoyangkan badannya ke depan-belakang, atau memainkan jari jemari mereka di temaram sinar/ cahaya. Mereka suka yang seperti itu, mengulang-ulang sesuatu. Dengan pola yang sama, dan akan sangat terganggu jika ada sedikit saja pola yang berbeda.

Alkisah ada seorang anak autis di Sekolah ABK Taruna Al-Qur’an (Taruna Al-Qur’an, salah satu ponpes Tahfidz yang cukup ternama di Jogja). Di sekolah itu kebetulan dosen pembimbing Skripsi saya, bu  Sri Kushartati, yang jadi psikolog untuk sekolah ABK dan TKIslam Terpadu  Inklusi (inklusi berarti anak normal dan ABK bercampur 1 kelas) Taruna Al-Qur’an tersebut.

Anak itu bisa membuat sebuah kerajinan tangan yang sangaaaattttt bagus, sangaattttt rapih, cantik sekali!

Itu semata2 karena kelebihan yang diberikan Allah pada mereka. Tiap kali ada pola kerajinan yang berbeda, maka nggak tanggung-tanggung, ia akan mendedel (baca: membongkar ulang) hasil karya nya hingga jadinya semua pola sempurna samanya. Begitulah hingga akhirnya bisa tercipta sebuah mahakarya yang luar biasa indahnya. Kapan2 saya poto lah dan saya pasang di sini salah satu hasil buah tangan mereka. ;D

Nah.. inilah hubungannya dengan Al-Qur’an. Salah satu terapi yang digunakan oleh sekolah tersebut yakni terapi Al-Qur’an, yakni anak2 diperdengarkan murottal Al-Qur’an yang dibaca oleh hafidz/ para santri taruna Al-Qur’an.

Dan subhanallah! Ada yang berbeda, tingkat keaktifan mereka untuk berlari-lari, senggol sana, senggol sini pun berkurang. Tetap mereka akan bermain sendiri, akan tetapi lebih tenang, mereka seakan-akan menikmati dan mendengarkan Al-Qur’an yang dibacakan itu. Probably karena Al-Qur’an memang menenangkan, ingat penelitan Dr. Masaru Emoto, dg buku mendewanya tentang “The power of Water”, salah satunya terbukti bahwa kata2 baik, ayat2 Al-Qur’an bisa membentuk bentuk hexagonal dalam air, dan berdampak baik kalau kita mengkonsumsinya. Probably, anak2 jadi tenang begitu karena memang tubuh kita ini kan sebagian besar cairan, probably jadi sehat dengan denger Al-Qur’an. ;D

Dan kabar baiknya cara ini mempermudah proses terapi selanjutnya karena si anak ‘tenang’  secara emosi. :)

Dan kabar lebih baiknya lagi, mereka bisa diajarkan untuk menghafal Qur’an, ingat kan bahwa salah satu ciri dari anak-anak ini adalah mereka suka mengulang-ulang pekerjaan mereka. Dan yah.. itulah yang dilakukan, anak2 ini mengulang bacaan2 Qur’an yang terekam dan terdengar oleh otak mereka.

Dan saya optimis, dan berasumsi kuat, bahwa.. pasti mereka pun bisa jadi hafidz/ah keren seperti orang pada umumnya.

Duh, malunya kalau kita yang diberi kondisi yang lebih baik nggak bisa maksimal.

Dan saya penasaran untuk menemukan formula yang tepat untuk memaksimalkan ‘kelebihan’ yang mereka punya. Ah, mungkin S2 bisa saya teliti lebih dalam. Amiin.

Hai manusia, sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman. (QS. Yunus: 57)

 

Dan Kami turunkan dari Al Quran suatu yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al Quran itu tidaklah menambah kepada orang-orang yang zalim selain kerugian. (QS. Al-Isra: 82)

Referensi:

  1. Sarasvati. 2004. Meniti Pelangi: Perjuangan Seorang Ibu Yang Tak Kenal Menyerah dalam Membimbing Putranya keluar dari Belenggu ADHD dan Autisme. PT. Elex Media Komputindo: Jakarta. (buku bagus bgt, ga terbit lagi katanya..)
  2. Catetan kuliah Psikologi Abnormal.
  3. Catetan ngobrol bimbingan skripsi sama dosen saya 12/5/ 2011, :D

Psikologi Islami: Tantangan dan Harapan

Psikologi Islami: Tantangan dan Harapan

Merasa senang  juga melihat fakta di site stats punya saya, bahwa banyak yang mencari materi mengenai Psikologi Islami. Thus, saya merasa kelihatannya note2 para dosen Psikologi yang pegiat Psikologi Islami barangkali akan tidak sampai pada ‘pencari ilmu’ di luar friends Fb nya.

Nah, dibawah ini adalah note FB dari Bapak Bagus Riyono, dosen fakultas Psikologi UGM, pegiat Psikologi Islami bersama isteri beliau Ibu Emy yang dosen Psikologi juga tapi di UII. Subhanallah yak :) Insya Allah dah ijin copas. Smoga bermanfaat utk smuaanya..

Prof. Dr. Malik Badri: Psikologi Modern Tidak Netral 

Lebih dari setengah abad menggeluti psikologi modern, pakar bernama lengkap Malik Babikir Badri ini dikenal luas lewat bukunya The Dilemma of Muslim Psychologists. Ketidakselektifan psikolog muslim, menurutnya, telah menyebabkan mereka mengikuti pola pikir dan pendekatan kaum Yahudi dan Kristen, meskipun cara itu berkualitas rendah dan tidak islami. Persis seperti dinyatakan  oleh Rasulullah saw dalam sebuah hadis: “… bahkan jika mereka masuk ke dalam lubang biawak pun, orang Islam tanpa pikir panjang akan mengikutinya.” Yakni mengambil bulat-bulat psikologi Barat modern dan menerapkannya di dunia Islam.

Prof. Malik Badri lulus dari American University of Beirut tahun 1956, meraih doktor dari Universitas Leicester, Inggris 1961, dan mengantongi gelar profesor sejak 1971. Namanya tercatat sebagai Fellow dan Chartered Psychologist, British Psychological Society, anggota dewan pakar UNESCO, dan pendiri sekaligus presiden International Association of Muslim Psychologists. Kini ia tercatat sebagai pengajar di Universitas Islam Internasional Malaysia.

Di tengah beragam kesibukannya, pria asal Sudan kelahiran 16 Februari 1932 dan ayah tujuh anak ini, Senin (7/9) petang lalu menerima wartawan Islamia, Dr. Syamsuddin Arif,  di kantornya, di kampus Universitas Islam Internasional  Malaysia (IIUM) Gombak, Kuala Lumpur.

Apa yang melatari Anda menjadi ahli psikologi?

Awalnya saya ingin kuliah bidang farmasi. Namun, setelah mengambil mata kuliah psikologi, minat saya berubah. Apalagi waktu itu – tahun 1950-an — psikologi sebagai disiplin tersendiri sama sekali belum dikenal. Di negara-negara Arab ketika itu psikologi hanya diajarkan sebagai cabang dari ilmu pendidikan. Kemudian secara pribadi sebagai Muslim saya juga tertarik untuk memahami ajaran agama saya terutama yang berkaitan dengan sains modern. Saya pikir, orang Islam harus belajar psikologi agar bisa menanggulangi berbagai krisis sosial yang diimpor dari Barat. Dua hal itulah yang mendorong saya untuk menekuni psikologi.

Banyak yang bilang gagasan ‘psikologi Islam’ itu omong kosong. Pendapat Anda?

Hemat saya, orang yang berpendapat seperti itu sesungguhnya tidak paham psikologi dan tidak tahu Islam. Ia tidak mengerti kedua-duanya. Kalau di Barat sendiri sekarang ini hampir tidak ada ahli psikologi yang mengingkari adanya ‘psikologi Islam’. Anehnya yang mengatakan tidak ada ‘psikologi Islam’ itu justru orang Islam yang masih yakin bahwa sebagai sebuah sains, psikologi itu netral. Padahal, para psikolog Barat saat ini mulai menyadari bahwa ilmu psikologi yang berkembang di Barat selama ini sesungguhnya terkait erat dengan nilai-nilai budaya mereka (culture-bound).

Artinya, psikologi Barat itu produk orang Barat dan untuk kebutuhan masyarakat Barat. Bahkan ahli-ahli psikologi di Inggris dan Perancis sekarang ini mulai mengeluhkan betapa kentalnya pengaruh kultur Amerika dalam psikologi kontemporer. Karena buku-buku rujukannya karangan psikolog-psikolog Amerika, maka mahasiswa Inggris dan Perancis sesudah lulus pun ikut-ikutan corak dan gaya psikologi Amerika. Padahal psikologi Amerika itu dasarnya adalah eksperimen terhadap binatang seperti tikus, monyet, kelinci, burung merpati dan mahasiswa yang kesimpulannya belum tentu berlaku untuk manusia atau konteks budaya di tempat lain. Itulah sebabnya sejak lama orang-orang Rusia menolak psikologi Amerika seraya membangun psikologi Rusia yang lebih sesuai dengan dan untuk orang Rusia. Mereka berupaya membuat teori-teori baru dan eksperimen tersendiri, seperti yang dilakukan Ivan Pavlop pada tahun 1960-an. Kritik terhadap psikologi modern yang sekular juga banyak dilontarkan oleh kalangan Katolik di Barat. Makanya, bagi saya, aneh kalau orang Islam masih menelan bulat-bulat psikologi dari Barat.

Bisa Anda jelaskan apa yang salah dengan psikologi modern?

Psikologi modern dibangun diatas asumsi-asumsi yang keliru tentang manusia. Apa hakikat manusia? Jawaban kepada pertanyaan inilah yang mendasari pelbagai teori psikologi tentang kepribadian. Misalnya teori Sigmund Freud yang mengajarkan bahwa manusia hanyalah hewan yang bertindak atas dorongan-dorongan seksual-agresif dari bawah-sadarnya. Dari sini ia membangun psikoterapinya. Cara mengobati orang sakit jiwa ialah dengan membawa si pasien keluar dari bawah-sadar ke alam sadarnya.

Ada juga Watson, yang menganggap manusia tak lebih dari hewan yang perilakunya ditentukan sepenuhnya oleh lingkungan. Mereka ini tidak percaya akan wujudnya jiwa. Maka fokusnya hanya lingkungan. Bagaimana mengubah perilaku manusia dengan mengubah lingkungannya. Apakah Anda kira konsep mereka tentang manusia itu diperoleh dari penelitian di laboratorium? Tidak. Semua itu sebenarnya hasil reka-reka semata. Nah, sebagai Muslim, Anda tentu tidak bisa menerima pandangan-pandangan semacam itu. Konsep Islam tentang manusia kan lain. Maka psikologi kita pun mestinya berbeda.

Yang Anda maksud dengan ‘dilemma psikolog Muslim’ itu apa?

Buku itu asalnya makalah yang saya tulis untuk pertemuan ikatan ahli ilmu sosial muslim Amerika tahun 1976. Judulnya “Muslim psychologists in the Lizard’s hole” (psikolog muslim dalam lubang biawak) yang kemudian diterbitkan di Journal of Muslim Social Scientists, sebelum saya kembangkan menjadi buku. Yang ingin saya tegaskan ialah psikologi itu wilayah yang sangat luas, dimana hanya beberapa keping saja layak disebut sains, seperti neuropsikologi, psikofarmasi, psikokimia dan sebagainya. Sementara sebagian besarnya lebih tepat disebut sebagai ’pseudo-science’ – meminjam istilah psikolog kawakan Sigmund Koch.     Ini penting diketahui oleh psikolog muslim, terutama ketika mengajar mahasiswa. Kita mesti  selektif, pandai memilah dan memilih mana yang berguna dan mana yang bermasalah. Saya tidak mengatakan bahwa semua teori psikologi modern harus dibuang. Misalnya, kita jelas menolak asumsi psikologi behavioristik bahwa manusia itu hewan belaka. Tetapi terapi behavioristik yang menekankan pentingnya imbalan dan ganjaran boleh saja kita terapkan. Namun sebagai muslim alangkah baiknya kalau diikuti juga petunjuk dan tuntunan Islam dalam menangani penderita. Disinilah perlunya psikolog muslim juga memiliki wawasan keilmuan Islam yang memadai.

Pandangan Anda mengenai Islamisasi psikologi?

Saya punya dua teori tentang Islamisasi. Pertama, yang saya namakan “Islamisasi A”, ialah bagaimana kita mengubah orang menjadi Muslim yang lebih baik. Adapun “Islamisasi B” ialah bagaimana menjadikan psikologi sebuah ilmu yang sesuai dan bermanfaat bagi umat Islam. To use Islam to help Muslims.

Apa yang mesti dilakukan untuk membangun psikologi Islam?

Membangun psikologi Islam tidak semudah membalik telapak tangan. Ia memerlukan kerja kolektif yang serius dan makan waktu lama. Prosesnya terdiri dari tiga tahap. Langkah pertama yang perlu dilakukan adalah mengkaji secara intensif karya-karya ilmuwan Muslim tentang jiwa manusia. Saya sendiri baru saja menyelesaikan sebuah buku tentang psikologi kognitif menurut al-Balkhi. Dalam hal ini saya tidak sependapat dengan sikap kalangan tertentu yang mencemooh kajian khazanah klasik. Sebab, kalau Anda perhatikan, orang-orang Barat sendiri selalu kembali kepada pemikir silam semisal Plato dan Aristotle dan membanggakan tokoh-tokoh dari kalangan mereka kepada mahasiswanya. Nah, semestinya kita juga mengenalkan para ilmuwan Muslim kita kepada mahasiswa dan masyarakat kita.

Tahap berikutnya, setelah kajian-kajian semacam itu dilakukan, mulailah sedikit demi sedikit membangun psikologi kita sendiri –psikologi yang berangkat dari kebutuhan dan worldview kita sebagai Muslim. Dan ini perlu dilakukan dengan sikap “seolah-olah psikologi Barat itu tidak ada sama sekali” (forgetting the Western psychology, as if there is no psychology at all!). Nah, sesudah itu baru kita coba gagas teori-teori dan metode-metode baru untuk riset dan terapi. Jadi, psikologi Islam itu bukan sekadar justifikasi ilmu Barat dengan dalil-dalil al-Qur’an dan Hadis.     (***)

my idealism? YES.

my idealism? YES.

Postingan ini berdasarkan hasil percakapan saya sama yuri pas di International Conferencenya API (Asosiasi Psikologi Islam) tanggal 9-10 april kemarin di Malang.

Pas itu saya tanya sama Yuri-psikologi UGM, bsok mo lanjut S2 dimana? dan yuri keliatan mantep untuk jawab, aku mau ambil sains dulu hus, ndak profesi. (it means klo dia ga bakal bisa jadi psikolog seutuhnya karena belum ambil profesi yang melegalkan kita untuk buka tempat konseling atau praktek biro jasa psikologi apalagi jadi terapis).

“lah terus kamu mo kmana Yur?”

lalu Yuri menjawab (bahasany wes tak gubah sdikit tp intinya sama ^^):

“kek nya ..mo nglanjutin di Universitas Ibnu Khaldun yang di Bogor tu lho hus, punyanya pak Adian Husaini, pengennya sih ke IIUM, tapi bhs Inggris ku masih ‘blibet’ (skali lagi yuri gak ngomong kek gini tapi intinya sama, blibet mah itu kosakata yg saya buat2 yang bisa berarti ruwet).

 

lalu saya terhenyak. Yah pikiran kami almost same… :) agaknya hanya dengan kuliah double di bhs Arab ga cukup utk bisa paham Islam. Pemikiran kita belum terbentuk.

 

And it leads me to different perspective of getting my master degree. :)

Yeah… saya juga berpikiran begitu loh Yuri… saya ngincer ini yang satu ini: :)

ISTAC “International Institute of Islamic Thought and Civilization” -IIUM Mlysia-

perhaps, smoga kita banyak rejeki.. jadi kita bisa kuliah kesini atau ke Ibnu Khaldun..lalu ambil profesi di Inggris (kalau saya. nek Yuri? wah belum tanya lagi). dan mengobrak-abrik teori Barat yang fatalis.*niat jahat mode: on*

 

Bismillah ya Allah mudahkan…smoga ini benar2  bisa menjadi jalan ibadah. kalau pun belum berkesempatan, pasti saya punya cara terbaik lainnya untuk bisa BERKONTRIBUSI!!!! Yooooo…semangat menuntut ilmu!!! :D

 

P.S: untuk lebih memahami mengapa saya sensitive berat sama teori psikologi barat, coba baca postingan sebelumnya ttg Psikologi dan Gurun Sahara :)

Psikologi dan Gurun sahara

Psikologi dan Gurun sahara

Sebelumnya mungkin saya perlu minta maaf lahir batin sama adik2 tingkat ini yang secara pasti sudah saya kecewakan: mutia, riris, danur, riza, dan mila. Oke karena jujur saya sama sekali gak semangat untuk ngikutin lomba debat kemarin itu.

Bukan karena kalian guys, murni bukan, karena saya itu malesss banget buat ngapalin teori2 itu. Saya males banget kalau harus mempertahankan pendapat dengan teori para ilmuwan yang tersesat itu. Jadi harapan satu2nya yang membuat saya tetap semangat saat perlombaan kemarin adalah bahwa akan segera ke Malang dan ketemu Malik Badri. Siapa Malik Badri? Yup perlu banyak postingan untuk menjelaskan beliau. Yang jelas dia berpengaruh besar dalam hidup saya*weits. Njuk ngopo?*haha.

Jadi kawan, inilah keresahan yang sudah muncul bahkan semenjak saya awal dan duduk manis di bangku semester 2 dan mendengarkan salah satu dosen saya berkata:

“Jadi… setiap stimulus itu akan menghasilkan respon..nah begitu pula dengan perilaku manusia. Pavlov berkata bahwa..blublublbub..(kagak usah diterusin)”.

Intinya Pavlov mengeluarkan teori mengenai pengkondisian stimulus respon. Di situ Pavlov bereksperimen dengan anjing. Singkat cerita begini, anjing itu akan mengeluarkan air liur manakala melihat makanan. Dan si Pavlov ini pengen mencoba hal lainnya. Sebelum si anjing dikasi makan maka ada bunyi lonceng yang mendahuluinya. Jadi akan ada bunyi lonceng sebelum si anjing dapat makanan. Jadi mekanisme nya begini bunyi lonceng-anjing liat makanan-berliur-lalu makan. Begitu terus menerus bunyi lonceng dibunyikan sbelum si anjing bertemu dengan makanan. Sampai pada akhirnya keadaan menjadi berubah. Si anjing pada akhirnya akan menjadi berliur bahkan ketika lonceng sedang dibunyikan, meski tanpa mendapatkan makanan!

Nah.. itu hasil kesimpulannya, dan saya ngasih analoginya kek begini. Misalnya mau nggebet cowok misalnya*hey2 ini contoh mudahnya loh*, kita tau kalau dia suka permen karet, maka tiap sebelum ketemuan kita kasih permen karet, terus menerus begitu sampai akhirnya permen karetnya kita berhentiin tapi dia masih tetep mau ketemuan sama kita. What is thissss????!!!

Merasa sangat cocok dengan teori itu? Kalau iya berarti anda musti lebih banyak melatih ketajaman hati dan akal sebagai rasa syukur atas nikmat Allah ini.*dasar husni sadis banget sih*

Smua..smua yang saya pelajari di Psikologi ini abu-abu :( . Smuanya jadi serba boleh. Semua manusia itu unik. Itu prinsip yang musti dijunjung tinggi dalam Psikologi. Setuju. That’s indeed true. But hello guyss!!! Apakah menjadi homoseksual dan biseksual itu juga termasuk dalam kategori “unik”???? karena kenyataannya dalam Psikologi, homoseksual dan biseksual tidak lagi tergolong dalam kategori abnormalitas dalam DSM IV (Diagnostic and Statistical Manual) yang diterbitkan APA (American Psychiatric Association). Jadi ya, that’s OK. Itu sesuatu yang alamiah-kata mereka. Dan saya insya Allah akan tetap percaya, bahwa hal2 itu tetap tidak dibenarkan. Pasti ada sesuatu, hikmah dibalik semuanya. Pasti. Al-qur’an gak pernah salah! Dan sebagai umat Muslim, kita lah kawan yang harus membuktikannya.

Jadi itulah, semuanya keresahan itu yang bikin saya sempat pusing dan males belajar Psikologi. :( Buat apa coba belajar kalau dasarnya aja udah ABSTRAk. Mending kalau Cuma abstrak, tapi gak bener itu!!! Gak bener! :( :( Coba kita liat Sigmund Freud yang “melangit” gara2 teori Psikoanalisa nya. Yang berkata kalau manusia itu dicengkeram oleh alam bawah sadar dan masa lalu, yang sangat dipengaruhi oleh inting seksualitasnya (bahkan dia sampai bikin teori tentang Oedipus Complex yang intinya begini: seorang anak sangat ingin kasih sayang ibunya-karena hasrat seksualnya pada wanita- dan keinginan ini terhalang gara2 ada sang ayah, hingga pada akhirnya si anak bahkan ingin membunuh sang ayah demi memenuhi kebutuhan ‘kasih sayang’ ini). Uedaaann!!! Tapi apa daya karena tidak mungkin membunuh sang ayah secara nyata maka perasaan ini harus ditekan, diatur oleh norma, nilai dan aturan. Dan menurut Freud singkat cerita, dari sini lah.. orang membutuhkan agama. Dari perasaan tertekan dan penuh rasa bersalah karena memiliki perasaan semacam ini. Ya Allah…..innalillah! Dan guess what? Pak Freud ini sangat terkenal, tak hanya di Psikologi tapi juga ilmu2 kedokteran. Dan masih teori beliau dijadikan landasan utk berbagai penelitian dan pembahasan. It’s terrible!!!!

 

Makin kesini saya baca buku Psikologi bikin kening saya mengernyit dan makin kelipet-lipet. :( Ya Allah… apa ini.. kenapa kayak gini, kenapa kering sekali…. mereka itu para ilmuwan Barat? Psyche yang dalam bahasa Yunani berarti Jiwa itu sama sekali kering dari pendalaman jiwa sesungguhnya. Masa kita sebegitu mudahnya dianalogikan dengan anjing, setelah stimulus lalu akan ada respon. Ingat…ingat.. kita masih punya hati dan akal, processor sempurna yang diciptakan Allah untuk kita, untuk memilih, untuk memutuskan. Bukan seperti si anjing yang berliuran karena instingnya nyala kalau sebentar lagi akan dapat makanan.

 

Dan syukur Alhamdulillah :) ini kali hikmah nya saya telat daftar, lalu terdampar di kampus ini dan tidak di Jakarta, adalah saya diajari untuk melihat Psikologi dalam kacamata Islam. Terimakasih untuk Pak Mujidin yang sudah ngenalin saya sama buku “The Dilemma of Muslim PSychologists”. Dan alhamdulillah saya nggak pernah bosan baca buku itu. Yang ada saya angguk-angguk dan hela napas gara2 merasa bahwa bener banget nih buku!

Baru satu teori Psikoanalisa dari Freud, masih banyak teori lain yang sayangnya sangat tertanam kuat di banyak kepala mahasiswa Psikologi, dan para ahli psikologi yang meski beragama Islam namun ‘enggan’ mengkritisi lebih lanjut dan cenderung nrimo sama teori2 ini. Dan parahnya lagi ini semua tidak hanya berwujud teori, tapi sudah termanifestasi dalam berbagai bentuk alat tes psikologi yang sering digunakan misalnya untuk tes masuk kerja, penempatan jurusan saat SMA, tes PNS, dan sebagainya. Bagaimana jiwa dan mental kita bisa benar2 terukur oleh alat2 itu jika sedari akar konsep dan teori sama sekali tidak memahami hakikat manusia yang sesungguhnya. Bagaimana bisa mereka mengungkap jiwa manusia? Oleh karena itu, saya sangat beraaatt sekali saat lomba kemarin dan harus membela sesuatu secara mati2an dengan teori2 itu.

Tapi bukan berarti kita stop mempelajarinya, kita kudu ngerti itu smua sampai pada konsep dasarnya, sehingga kita bisa membetulkan ‘kecelakaan sejarah’ yang sudah terjadi sejauh ini. :) Landasan filosofisnya, semuanya. Dan untuk tahu ini maka kita perlu ILMU AGAMA! Mutlak ini tidak bisa dikatakan tidak . Dan oleh karena itu saya ngotot kuliah double untuk ambil bahasa Arab di kampus lain, karena untuk memahami turats Imam Ghazali misalnya, dan ilmuwan Islam masa silam lainnya maka saya harus mahir berbahasa Arab. Saya bisa mengkaji ilmu jiwa yang sesungguhnya sudah dijelaskan oleh para ilmuwan Islam itu melalui peninggalan tulisan2 beliau yang kemungkinan besar banyak berbahasa Arab, meski banyak juga yang berbahasa Persia. Dan yang lebih penting dari itu semua tentu untuk mempermudah saya memahami Al-Qur’an. Mutlak kalau kita merasa seorang muslim, dan ingin masuk surga dengan keilmuan kita, maka yang harus kita lakukan ya menjadi ilmuwan muslim. Dan bangga dengan keIslaman kita, dengan Al-Qur’an yang sempurna benarnya.:D :D

 

Wallahualam.:)

 

 

*NB: saya bener2 ga ngerti ini mesti dikasi judul apa. yawis lah, Insya Allah itu merepresentasikan isinya tentang gurun sahara yang kering, dan ilmu Psikologi Barat yang kering banget.tetottt

Ketawa? Yah emang gini kenyataan anak muda skarang *sok tua*

Ketawa? Yah emang gini kenyataan anak muda skarang *sok tua*

Ini saya dapet dari situs ini. Ketawa abis bacanya? Nggak gitu juga, malah saya senyum sinis smbil baca. Ampuuunnn deh. Hal sepele tapi bakal jadi gede kalau anak muda sekarang super duper alay n lebay. ntah ini pengaruh apa, tapi yang jelas….  para psikolog muslim harus benar2 berpikir keras untuk ngerubah yang kek gini. Naudzubillah smoga kita nggak termasuk di dalamnya…

 

jadi ini nih ada percakapan 2 orang, dengan inisial A: sbagai tokoh anak muda yang super duper lebay alay gak karuan.. dan B: adalah anak muda yang untungnya masih normal.

 

Cekidot:

A = Alluw kag! Leh knal? Ap kBrx?

B = Wa’alaikumsalam Warohmatullahi Wabarokatuh…Dengan hormat, sampainya pesan ini, saya akan memberitahukan bahwa kabar saya baik-baik saja…. Maaf beribu-ribu maaf, Ini gerangan nomer siapa ya? Kok acap kali sms nomernya ga ke save ya? (bales sepanjang mungkin)

A = Owh ea muuph lupa ng@s1h s4L4m,,,, Ini EnDoet LuThuwna EmbeM C@ianK Cmu@na. Inged gag kag? Eh, kug blzna pjg bgd ch? Gi ng4ps?

B = Yaiyalah panjang…. Lagian ga dibayar perhurup inih! Gw lagi mabok nerjemahin kata2 lo nih. Keypadnya ilang2an ya? Oh elo…. Eh, siapa tadi? Tembem semua? Perasaan temen-temen gw kalopun ada yang tembem paling sebagian dipipi doang. Ga sampe seluruh badan dah.

A = Huft …Plz dund…bkn t3mb3m cmu4, tp ’emb3m c@iank cMuana’. W AD klaz xmp lw dlu. J4h@d bgd d3ch……fufufuuu :’(

B = Yeeee mana gw apal. Adek kelas gw kan ada banyak. Bayangin misal sekelas ada 25 murid cewe. Dikali 9 kelas. Nah, itung ndiri dah tuh ada berapa! Itu belom dari sekolah2 laen. Mereka kan gw anggep adek kelas gw semua walopun mereka ga nganggep gw. Coba? Masa iya gw apalin atu2. Lu kira gw petugas sensus! Eh itu sebenernya huruf ’a’ mau lo ganti apasih? Jadi angka 4 apa a keong (@)? Satu aja ribet apalagi dua gw bacanya. Plin-plan lo ah

A = Ea mu’uph kag…. Abzn udh kbi@s44n kag. Jng mrh dund… hix… hix… Oh ea y.. Kn ad bnyk ea… muv dh muv.. Eh kag, w inged loh qt dlu prNh kut xkul PeNcak sLt bReng jG.

B= Jorok lo ah

A = Pencak SILAT kak!!!

B = Ooohhh…. Nah itu bisa nulis bener

A = Tp w kluwar paz 5aBuk quNink. Gag kwt. Uji4nna bRad bGd

B = Gw ga pernah ikut pencak silat. Gw ikut cheers. Yang dipaling atas formasi piramida kan gw. Lagi pula kalo gw ikut pencak silat, sabuknya ga muat.

A = Iyh yng bn3r kag? Bc4nd@ aj dh wkwkwkwkwkwkwkwkwk!!!

B = Etdah lo ketawanya serem amat kayak burung gagak.

A = Eh kag BTW n0m3r hpx kog ckep amad ch? Ky orangx

B = Nama gw bukan betawi.

A = Mksd w ’by the way’

B = Kenapa emang JALANnya?

A = OMONG-OMONG!!!!

B = Oh… ga tau nih.. Beruntung aja dapet nomer bgini

A = Dpt dri m4n4 kag?

B = Hadiah es orson. Penting amat

A = Kag kuq fesbukx lum d k0nfr1m?

B = Confirm! Bukan Kon-frim! Oh yang foto profilnya dari atas sambil manyun2 itu lo ya? Gw kira fanpage-nya Suneo. Belom-belom. Ntar deh kalo angel foto lo udah bener. Eh, unyeng2 lo ada 5 ya? Ampe keliatan. Banyak amat. Situ pake ekstensen unyeng2?

A = Iyh ka2g bC@nd4 aj@ dh. 1tukan age’ ngetrend kag futu dri @ta5. Mak1n gaG kli4t@n mukax, makin keyenz!

B = Yaiyalah. Gimana mau keren kalo muka lo keliatan. Coba dong sekali-sekali foto profilnya diganti pake fotokopi. Burem, perkecil, bolak-balik.gitu.

A = Mangx uj14n!

B = Biar ga keliatan muke lu. Katanya makin ga keliatan makin kerennn… Gw yakin asli lo ga sebagus di foto kan? Nih udah gw confirm. Eh, itu foto2 lo banyak banget yang jari tangan angka satu dimulut. Lagi ngelonin orok sapa lo? Astagaaaa.. Lo ga juling foto dari atas semua?

A = Gag. Udh b1aza k0g. Eh, kag mang gi onlen ea? Onlen d kul ap dihumz?

B = Eh kalo bahasa alaynya ”onlen di WC SPBU” apaan? Salah semua tuh option lo

A = Ih… kakak joyokkkk…

B = Kadir ga diajak?

A = Itu Doyok kaaaggg…. Yah, w lgi gaG onlen niyh kag. Cb klo qt sm” onlen, kn bs chat b4r3ng

B = Kita? Lo aja kali ama kawan2 lo. Lagian yang minta lo biar onlen sapeh?!

A = Hix..Hix…Jahad :’( Kag kug lum bubu siyh? Kn udh mlm. Mang lum ngantug ea?

B = Gw ga pernah ikut MLM deh

A = ’Malem’ Kag maksudx….

B = Udah gede ini. Lagian sembari ngelembur ngerjain tugas nih.

A= Cemangadh!

B = Hdagnamec

A = Paan tuch Kag???

B = Tulisan lo gw balik. Bingung gw nanggepin bahasa lo. Eh tulisan lo bisa di normalin dikit ga? Sedikiiit aja demi gw

A = Oh ea deh kag..

B = Eh, ko gw baca status-status lo semuanya ngambil dari lirik-lirik lagu ya??? Keabisan ide lo? Mana udah di ’Like’-in sendiri, trus ga ada yang comment pula.

A = Eaaa… Abisan w suka bgd kag sm lgu it. Co cweet bgd dech. It jga da lgu” knangan sm mantan w dlu

B = (Emang gw pikirin).

A = Ohiya kag! Bsk lusa jm 9 pgi d ”salah satu stasiun tv” nntn w ya!

B = Itu kan acara live musik itu kan?! Yang penontonnya satu panggung sama artis/bandnya. Trus sambil nari2 kompak banget dibelakangnya. Lo jadi artis toh sekarang? Grup band lo apa namanya? Salut gw. Pasti lo jadi vokalisnya ya? Apa lo soloist?

A = Bukan kag, gw jadi penontonx.

B = ???!!!!!!! (Keselek)

A = Ea, yng pnting msk tv kag! Gw ma rombongan udh nyiapin tarianx lho kag. Biar kompak nnti narix. Nama tarianx ”Ngucek-Jemur-Ngucek-Jemur”. Tau dund kag ky gmana. Gag ngaruh deh mw bandx apa aliranx apa.

B = Trus kalo bandnya metal gimana??? Masa lo mau tetep joget ”Ngucek-Jemur”?

A = Ya gag ap kag. Lgan band metal mah gag mgkin d hadirin kag. Kyk ga tau aja kag..

B = Yaudah deh, selamat joget ya. Kakak mo tidur dulu. Oia, besok lusa, pagi2 kakak ga bisa nonton situ joget ”Ngucek-Jemur”. Soalnya kakak sibuk mau bikin anyam2an sedotan. Babay!

A = Bye… Met bubu kag. Eh kag, ntr jm2 bolax pa?

B = Hah?! Lo suka nonton bola pagi2 juga?

A = Yaelah bgadang nntn bola wajar x kag

B = Lo cowo apa cewe sih?!

A = Cow. Mang np?

B = Lah itu foto2 difesbuk?!

A = Itu mantan” w kag. Fto w d album ”Juzt Me”

B = ……………………………….

A = Kag?

B = Eh iya sori. Udahan dulu ya. Gw baru ngeliat UFO nih. Bye!

 

 

4 thumbs up deh buat yang posting ini…. bener2 sukses menuliskan realita anak jaman sekarang!!

 

 

SYBILL

SYBILL

SYBILL adalah sebuah buku yang menceritakan kisah nyata dari seorang wanita bernama Sybil yang kepribadiannya terpecah menjadi 16 kepribadian yang berbeda. Hmm… saya interest bgt waktu tau tentang buku ini untuk pertama kalinya soalnya saya hanya tahu ttg orang dengan kepribadian ganda, atau yang paling banyak ada 4 kepribadian dalam satu individu, tapi Sybil- surprising – 16 kepribadian! Bahkan dua dari ke16 kepribadiannya itu merasa bahwa mereka adalah laki-laki. Sybil sendiri tidak menyadari (atau mungkin tidak ingin menyadari) bahwa ia memiliki 16 kepribadian itu, hal inilah yang menyulitkan dirinya pada masa-masa penyembuhan. Kepribadiannya sudah disasosiasi (terpecah) sejak usianya 2,5 tahun! Dan baru mulai dianalisa oleh Dr. Wilbur (psikiater Sybil) pada saat usianya 22 th. Lebih tepat lagi proses terapi terhadap Sybil ketika usianya memasuki 30 th karena pada th 1945 ia bertemu dengan Dr. Wilbur dan baru benar2 mendapatkan terapi penyembuhan saat th 1954. Awalnya Sybil hanya merasa aneh, karena ia sangat bermasalah dengan sesuatu yang bernama waktu dan ingatan.

Why? e.g kejadian saat ia ‘tiba-tiba’ merasa sudah ada di kelas 5. Sybil betul-betul yakin bahwa ia sebenarnya masih kelas 3.. tapi pagi itu, tiba-tiba saja ia berada di kelas 5 dengan teman-teman yang sama, dan masih di sekolah yang sama, namun dengan guru yang berbeda yang mengajar anak-anak kelas 5. Sybil jadi benar-benar bingung mengapa ia bisa berada di kelas 5 dan apa saja yang ia lakukan selama 2 th terakhir, ia betul-betul tidak ingat, tidak bisa mengingat apapun yang terjadi. Dan yah, ternyata selama 2 th berjalan itu Peggy-lah (salah satu nama saat Sybil berubah kepribadiaannya) yang muncul menggantikan Sybil. Ini hanya lah salah satu kejadian yang sering terjadi pada Sybil, lebih banyak lagi misalnya tiba-tiba saja ada begitu banyak pakaian, topi, lukisan yang aneh-aneh (tidak sesuai dengan selera Sybil) yang muncul di kamarnya. Tidak aneh sebetulnya, karena sebetulnya kepribadiannya yg lain lah yang melakukan semua itu.

Melalui penyembuhan yang dilakukan bersama Dr. Wilbur, akhirnya terkuaklah penyebab2 dibalik adanya disasosiasi kepribadian Sybil. Berawal dari keluarga yang broken home. Eit, jgn sangka broken home disini adalah perceraian ortu, lebih complicated dari itu. Sybil memendam (me-represi) emosinya selama kurang lebih 30 th tentang penyiksaan2 yang dilakukan ibunnya sejak ia masih balita. Ibunya sering menyakitinya-slh satunya yang parah- memasukkan gesper sepatu ke dalam lubang vagina Sybil, dan penyiksaan2 lainnya yang….Naudzubillah (ayahnya sekalipun tdk mengetahui hal ini). Disamping itu keluarganya sangat penuh dengan aturan agama yang fanatik, kaku dan tidak memberi ruang baginya untuk bertanya tentang segala hal yang diharamkan atau dihalalkan. Seperti misalnya hubungan antara laki-laki dan wanita yg sgt tabu bagi keluarganya. Namun di sisi lain Sybil sangat tertekan karena hingga usia 9 th ia masih tidur bersama sekamar dengan orangtuanya-dan ia dicekoki dgn adegan-adegan yg tidak sepatutnya dilihat anak seumurannya- yakni saat keduaorangtuanya melakukan hubungan seks pada mlm hari saat Sybil akan tidur. Naudzubillah…Dan ini dialaminya hingga ia berumur 9 th! Penyebab lainnya yakni ibunya yg ternyata seorang schizophren, yg banyak bertingkah aneh (perilakunya sangat dluar batas yg sebaiknya anda baca sendiri di bukunya) yg kemudian sgt membuat Sybil tertekan, hingga dalam ambang ketidaksadarannya Sybil sgt membenci ibunya-bahkan ingin membunuhnya.

Oh well, itu adalah sekelumit cerita dari buku Sybil. I’m really recommend this book particularly buat para psikolog, psikiater, atau dokter sekalipun. Sangat bagus meskipun anda harus benar-benar fokus pada saat awal2 membaca buku ini, karena Sybil, sering berganti nama dengan yang lain sehingga nama tokoh yang ditulis di cerita berubah-ubah. Namun anda tidak akan kesulitan karena pada lembar2 pertama dari buku ini terdapat sebuah silsilah- lengkap dgn nama- disasosiasi kepribadian yg dialami Sybil. Though- perhatikan benar2 saja silsilah itu maka anda tidak akan bingung. Yang serunya lagi ada lampiran gambar-gambar yang dibuat oleh Sybil dan kepribadian2nya yg lain, yg dilampirkan pada hlman2 belakang dari buku ini. Then…, check it out!

oh iya, sudah ada film adaptationnya juga lho! Dan info terbaru lagi bahwa ada novel mirip Sybill-saya lupa judulnya- yang menceritakan ttg orang dengan 24 kepribadian yang pecah..Ealah. naudzubillah >.<


adalah sebuah buku yang menceritakan kisah nyata dari seorang wanita bernama Sybil yang kepribadiannya terpecah menjadi 16 kepribadian yang berbeda. Hmm… saya interest bgt waktu tahu tentang buku ini untuk pertama kalinya soalnya saya hanya tahu ttg orang dengan kepribadian ganda, atau yang paling banyak ada 4 kepribadian dalam satu individu, tapi Sybil- surprising – 16 kepribadian! Bahkan dua dari ke16 kepribadiannya itu merasa bahwa mereka adalah laki-laki. Sybil sendiri tidak menyadari (atau mungkin tidak ingin menyadari) bahwa ia memiliki 16 kepribadian itu, hal inilah yang menyulitkan dirinya pada masa-masa penyembuhan. Kepribadiannya sudah disasosiasi (terpecah) sejak usianya 2,5 tahun! Dan baru mulai dianalisa oleh Dr. Wilbur (psikiater Sybil) pada saat usianya 22 th. Lebih tepat lagi proses terapi terhadap Sybil ketika usianya memasuki 30 th karena pada th 1945 ia bertemu dengan Dr. Wilbur dan baru benar2 mendapatkan terapi penyembuhan saat th 1954. Awalnya Sybil hanya merasa aneh, karena ia sangat bermasalah dengan sesuatu yang bernama waktu dan ingatan.

Why? e.g kejadian saat ia ‘tiba-tiba’ merasa sudah ada di kelas 5. Sybil betul-betul yakin bahwa ia sebenarnya masih kelas 3.. tapi pagi itu, tiba-tiba saja ia berada di kelas 5 dengan teman-teman yang sama, dan masih di sekolah yang sama, namun dengan guru yang berbeda yang mengajar anak-anak kelas 5. Sybil jadi benar-benar bingung mengapa ia bisa berada di kelas 5 dan apa saja yang ia lakukan selama 2 th terakhir, ia betul-betul tidak ingat, tidak bisa mengingat apapun yang terjadi. Dan yah, ternyata selama 2 th berjalan itu Peggy-lah (salah satu nama saat Sybil berubah kepribadiaannya) yang muncul menggantikan Sybil. Ini hanya lah salah satu kejadian yang sering terjadi pada Sybil, lebih banyak lagi misalnya tiba-tiba saja ada begitu banyak pakaian, topi, lukisan yang aneh-aneh (tidak sesuai dengan selera Sybil) yang muncul di kamarnya. Tidak aneh sebetulnya, karena sebetulnya kepribadiannya yg lain lah yang melakukan semua itu.

Melalui penyembuhan yang dilakukan bersama Dr. Wilbur, akhirnya terkuaklah penyebab2 dibalik adanya disasosiasi kepribadian Sybil. Berawal dari keluarga yang broken home. Eit, jgn sangka broken home disini adalah perceraian ortu, lebih complicated dari itu. Sybil memendam (me-represi) emosinya selama kurang lebih 30 th tentang penyiksaan2 yang dilakukan ibunnya sejak ia masih balita. Ibunya sering menyakitinya-slh satunya yang parah- memasukkan gesper sepatu ke dalam lubang vagina Sybil, dan penyiksaan2 lainnya yang….Naudzubillah (ayahnya sekalipun tdk mengetahui hal ini). Disamping itu keluarganya sangat penuh dengan aturan agama yang fanatik, kaku dan tidak memberi ruang baginya untuk bertanya tentang segala hal yang diharamkan atau dihalalkan. Seperti misalnya hubungan antara laki-laki dan wanita yg sgt tabu bagi keluarganya. Namun di sisi lain Sybil sangat tertekan karena hingga usia 9 th ia masih tidur bersama sekamar dengan orangtuanya-dan ia dicekoki dgn adegan-adegan yg tidak sepatutnya dilihat anak seumurannya- yakni saat keduaorangtuanya melakukan hubungan seks pada mlm hari saat Sybil akan tidur. Naudzubillah…Dan ini dialaminya hingga ia berumur 9 th! Penyebab lainnya yakni ibunya yg ternyata seorang schizophren, yg banyak bertingkah aneh (perilakunya sangat dluar batas yg sebaiknya anda baca sendiri di bukunya) yg kemudian sgt membuat Sybil tertekan, hingga dalam ambang ketidaksadarannya Sybil sgt membenci ibunya-bahkan ingin membunuhnya.

Oh well, itu adalah sekelumit cerita dari buku Sybil. I’m really recommend this book particularly buat para psikolog, psikiater, atau dokter sekalipun. Sangat bagus meskipun anda harus benar-benar fokus pada saat awal2 membaca buku ini, karena Sybil, sering berganti nama dengan yang lain sehingga nama tokoh yang ditulis di cerita berubah-ubah. Namun anda tidak akan kesulitan karena pada lembar2 pertama dari buku ini terdapat sebuah silsilah- lengkap dgn nama- disasosiasi kepribadian yg dialami Sybil. Though- perhatikan benar2 saja silsilah itu maka anda tidak akan bingung. Yang serunya lagi ada lampiran gambar-gambar yang dibuat oleh Sybil dan kepribadian2nya yg lain, yg dilampirkan pada hlman2 belakang dari buku ini. Then…, check it out!

oh iya, sudah ada film adaptationnya juga lho!

 

KEPRIBADIAN DALAM PSIKOLOGI ISLAM*

KEPRIBADIAN DALAM PSIKOLOGI ISLAM*

(Materi ini saya posting berdasarkan mata kuliah Psikologi Kepribadian, yang secara khusus pada pertemuan terakhir membahas ttg kepribadian manusia berdasarkan Islam. Perhapas, it’s worthwhile for u guys)

Istilah-istilah yg relevan dengan pembahasan kepribadian Islam:

  1. Fitrah ( الفطرة ) Potensi asal manusia, ada yang baik dan buruk. Berbeda dgn malaikat (memiliki potensi baik) dan syaithan (memiliki potensi buruk).
  2. Vitalitas Hidup ( الحية) Energi psikis untuk bertahan hidup (survival) dan menjalankan amanah2 dari Allah SWT.
  3. Karakter ( الخلق) Sifat dasar yang khas dan relatif ajeg. Dipengaruhi oleh faktor bawaan (nature) dan lingkungan (nurture). Terdiri dari kebiasaan2, refleks2, kecenderungan, minat, dan kemauan.
  4. Tabiat (الطبع) Citra batin individu yang menetap ( = temperamen)
  5. Sajiyah/ bakat ( السجية) Kemampuan yang potensial/ laten dan harus dikembangkan oleh pendidikan/ lingkungan.
  6. Sifat ( الصفة) Ciri khas individu yg relatif menetap, terus menerus, dan konsekuen.
  7. Amal (العمل) Tingkah laku lahiriah yang tergambar dalam bentuk perbuatan nyata.

 

STRUKTUR KEPRIBADIAN (sebenernya ada bagannya tapi belum q bikin)

  1. JASMANI Struktur jasad manusia. Jasad ini menjadi hidup karena adanya energi kehiduan yaitu nyawa. Batas daya hidup manusia = ajal.
  2. RUH • Ruh adalah urusan Allah dan kita hanya mengetahui sedikit sekali tentang hal ini.“ Ruh itu termasuk urusan Tuhanku sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (QS. Al-Isra : 17 ) • Bersifat multidimensi (dapat keluar masuk jasad manusia) • Bersifat kekal sejak pra kehidupan hingga pasca hidup manusia di dunia.
  3. NAFS • Qalbu Merupakan pemandu/ pengontrol tingkah laku manusia. Bisa menjadi baik atau buruk. Qalbu memiliki daya inderawi (mata hati, suara hati, atau indera ke-6); daya kognisi (intuisi, ilham, kasyaf); daya emosi (tenang, senang, marah, dengki, menyesal, dll). Jenis2 hati: Hati yang sehat (qolbun salim), hati yg sakit, hati yg mati • Akal Substansi yg berkedudukan di otak. Fungsi akal : mengamati, tadabbur, kontemplasi, insight, i’tibar (analogi), tafakur, tadzakur. • Hawa Nafsu Mengikuti prinsip kenikmatan, misal: syahwat dan ghadab (agresivitas untuk mempertahankan diri)

DINAMIKA KEPRIBADIAN

Fungsi fisik (panca indera) membantu kerja fungsi psikis, fungsi fisik harus dijaga, misal makanan halal dan thoyib, wudhu&mandi, pakaian yg menutup aurat&rapi, menikah, larangan bermaksiat, etc. •

Kepribadian yg sehat tercermin dari integrasi semua unsur kepribadian (kalbu, akal, dan hawa nafsu harus bekerjasama).

TIPE KEPRIBADIAN •

  1. Nafsu Muthmainnah (didominasi qalbu, didukung hidayah, akal&bisikan malaikat)
  2. Nafsu Lawwamah (berbuat maksiat tapi masih ada usaha untuk bertaubat dan memperbaiki diri)
  3. Nafsu ammarah (didominasi hawa nafsu dan godaan syaithan)

PERKEMBANGAN KEPRIBADIAN

  1. Pra Kehidupan Alam ruh: kesaksian para ruh tentang keesaan Allah. Alam kandungan: a. Nutfah b. Alaqoh c. Mudghah d. Peniupan ruh: ditentukan umur, rezeki, jenis kelamin, nasib
  2. Kehidupan Dunia a. Neo natus b. Kanak-kanak (Thiflun) 0-7 th c. Tamyiz (7 th-12 th/ 13 th) d. Baligh/ taklif (dewasa) e. Syuyukh (setengah baya hingga lansia)
  3. Pasca kehidupan dunia a. Alam kubur/ barzah. b. Alam Makhsyar c. Fase hisab/ penimbangan amal d. Fase meniti Shirat e. Alam abadi (surga atau neraka)

*Sepertinya ini diambil dari suatu buku, tapi saya belum menemukan buku apa. Well, saya cuma nulis yg diterangin dosen while dosennya jg nggak bilang ni dikutip dari mana aja. Thus, I’ll enclose bibliography later yah..

EMPOWERING GUILTY FEELING as one of Islamic Psychoterapy

EMPOWERING GUILTY FEELING as one of Islamic Psychoterapy

ABSTRACT*

The impact of globalization and the development of this periode do not only bring good impact but also bad impact for the development of human living. So many datas reveal the increasing number of stresses, mental problems, depression, even suicidal case year by year. These conditions happen because so many people could not adapt with social condition and its alteration. The increasing of technology, economy, and the influence of political issues surely create a different social order of society. Gap between the rich and the poor become wider, economical burden and tighter competition become part of globalization’s effect that have already expanded countries in the world. Finally, this condition would create a burden for certain social spheres which uncapable yet in facing these phenomena. Various feelings like failed feeling, helplessness, and other problems make some people stress and having mental’s problem even commit to suicide.

So many disenchantments happen because of guilty feelings that appear because  unableness of people in facing the phenomena and some social problems. Starting with this guilty feeling, subject will feel uncapable, disappoint with themselves or probably with others, and the consequences are the appearance of this gulty feeling and stuffs. This guilty feelings do not bad matters. This feeling would be very useful depend on people’s respond toward guilty feeling that appear on themselves. This feeling should be accomodated thus it would not end in a negative condition. In this matter, we need to empower this gulity feeling into a positive matter by spuring on people’s spirit and getting them up to correct the condition. Islam as guidance and mercy for universe suggest people to gain this feeling in the daily life. Like what prophet’s Muhammad best friend said, Umar bin Khatab ra for muslim to hisab (account) on their sins in one day, thus this feeling hopefully can raise up the awareness of people to change the condition and cry for God’s pardon.

The process of this writing is based on literatur’s study in which the sources are come from printed media such as Al-Qur’an, hadits, Islamic books, Psychology books, magazines, and also from electronic medium like internet.

Finally, it is expected that empowering guilty feeling could be one of alternative choice in Islamic psychoterapy to solve mentality problems. By empowering this guilty feeling into positive matter, perhaps people could be more powerfull and even strong enough to do alteration inside of themselves and having better personality.

Keywords: globalization, guilty feeling, Islamic psychoterapy

 

* I sent this abstract in International conference, seminar and the 3rd Conggress of Association of Islamic Psychology (API) 9-10 April at UIN Malang and I’ll present it also in that conggress. Such an amazing experience, remembering that all of my favourite psychologists and writers will present their paper there :) wow!

 

Ini terjemahannya :) :

Pengaruh globalisasi dan perkembangan zaman pada masa ini tidak hanya membawa dampak baik namun juga dampak buruk bagi perkembangan hidup manusia. Berbagai data mengungkap bahwa terdapat peningkatan jumlah masalah stres, gangguan jiwa, depresi, bahkan kasus bunuh diri dari tahun ke tahun. Keadaan ini terjadi akibat banyak orang tidak mampu menyesuaikan diri  dengan keadaan sosial dan perubahan yang terjadi. Peningkatan teknologi, ekonomi, dan pengaruh isu-isu politik tentu saja menciptakan tatanan kehidupan yang berbeda di dalam masyarakat. Jarak antara yang kaya dan miskin semakin lebar, beban ekonomi dan kompetisi yang semakin ketat merupakan salah satu efek dari globalisasi yang sudah menjajah negara-negara di dunia. Akibatnya kedaan ini akan terasa sangat berat bagi lapisan masyarakat yang belum mampu untuk menghadapi fenomena ini. Berbagai macam perasaan seperti rasa gagal, rasa tidak berdaya, dan masalah yang terjadi mengakibatkan sebagian orang stres dan mengalami gangguan mental hingga bahkan melakukan bunuh diri.

Berbagai kekecewaan yang bertumpuk ini menurut hemat penulis berasal dari rasa bersalah yang dimiliki subjek akibat ketidakmampuannya dalam menghadapi jaman dan permasalahan sosial yang ada. Bermula dari rasa bersalah ini, subjek akan merasa tidak mampu, kecewa pada diri sendiri atau mungkin orang lain, dan akibatnya subjek merasa stress, tidak berdaya dan sebagainya. Rasa bersalah bukan merupakan sebuah perasaan yang buruk. Perasaan ini dapat menjadi sangat bermanfaat tergantung pada respon seseorang terhadap rasa bersalah yang muncul pada dirinya. Rasa bersalah ini seharusnya dapat diberdayakan agar tidak berakhir pada keadaan yang negatif. Dalam hal ini yang perlu dilakukan yakni memberdayakan rasa bersalah menjadi suatu hal yang positif dengan memacu seseorang untuk kembali semangat dan bangkit kembali untuk memperbaiki keadaan yang terjadi. Agama Islam sebagai petunjuk dan rahmat bagi seluruh alam justru menganjurkan manusia untuk memunculkan perasaan ini dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana perkataan sahabat Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khatab bagi umat muslim untuk melakukan hisab (perhitungan) terhadap dosa yang dilakukan sehari-hari, maka rasa bersalah ini diharapkan muncul dan membangkitkan kesadaran manusia untuk berubah dan memohon ampunan pada Allah SWT.

Penulisan karya tulis ini dilakukan dengan metode studi pustaka, yakni sumber penulisan diperoleh dari media cetak seperti Al-Qur’an, hadits, buku-buku yang mengkaji agama Islam, buku-buku studi Psikologi, majalah, dan juga melalui media elektronik yakni melalui internet.

Pada akhirnya diharapkan bahwa memberdayakan rasa bersalah dapat menjadi salah satu cara dalam Psikoterapi Islami untuk menyelesaikan masalah kejiwaan yang terjadi pada manusia. Dengan mengolah rasa bersalah ini ke arah yang positif diharapkan seseorang akan menjadi kembali berdaya dan bahkan melakukan perubahan dalam dirinya dan memiliki pribadi yang lebih baik.

Kata kunci: globalisasi, rasa bersalah, psikoterapi Islami

Any comments? Perhaps yes. thank youuu ^^