Random

Random

“Random” itu berarti kamu sedang tidak tendensius sama sesuatu.

“Random” itu mengajarimu untuk tidak berharap lebih, sebelum benar-benar uji coba.

“Random” itu menjagamu, dari rasa kecewa ditengah jalan, karena ekspektasi yang ternyata berlebihan.

“Random” itu menggelitik, karena membuatmu penasaran dengan proses dan hasil akhir penelitan.

“Random” itu membuktikan bahwa kamu menyiapkan ruang untuk sesuatu bernama “eror” dan tentu saja sesuatu lainnya yang disebut “valid”.

“Random” itu bukan berarti ngawur. Udah pernah dengerkan, yang namanya simple random sampling dan multistage random sampling?

“Random” itu cantik sekali, karena Allah yang buat pola-polanya.

“Random” itu…. adalah salah satu cara.

Menghitung Hari

Menghitung Hari

Di asrama saya, ada cukup banyak tempelan. Isinya? Ya.. macem2.. mulai dari mimpi-mimpi kami, kata-kata motivasi (entah kutipan dari buku, hadits, atau kalam Allah), chart hafalan kami tiap bulan, doa-doa dan artinya, jadwal2 kajian di penjuru kota Jogja, jadwal piket masak, piket bersih-bersih, sampe nota2 blanja. Dan tentu saja. Foto2 para penghuninya. :D

Ada sebuah tempelan yang tidak pernah bosan2 saya baca, tiap lewat atau berdiri di depannya. Ia ditempel di dekat pintu keluar garasi kami. Begini isinya :)

Tak Sekedar Rumah

bukan surga, tapi serambinya

rumahku hanyalah sebentuk bait

tempat melabuh rindu, membagi tawa dan pangkuan

lalu wangian surga semilir bersama tahmid

tempat menegak malam dengan dzikir menggigil

dan tangis pertaubatan

rumahku adalah rasa aman dalam genggaman jari Ar-Rahman

rumahku adalah juga derak kekhawatiran,

agar tiada lena dalam fana

rumahku adalah kutub yang mendamai hati dan sesenyum rasa

“Masuklah, berselimut, rehat..”

terkadang ia mentari yang menyala, menegur hati, dan menggerak

“Keluarlah, dakwah, jihad!”

rumahku perhentian, tempat iman diperbaharui dan ruh diisi ulang

lalu aku harus keluar membukti amalan

rumahku, menawan tentram, menggerak bandang

rumahku mungkin bukan surga, tapi Insya Allah serambinya.. *

Rumahku, 

Rumah Al-Qur’an.. :)  

Seperti pagi ini, saya kembali membacanya. Dan sepanjang jalan tadi saya menghitung hari sudah berapa lama ada di RQ.

Sehari, dua hari, seminggu, tiga minggu, sebulan, dua bulan… Ternyata sudah dua bulan lebih dua puluh satu hari.

Taukah rasanya melalui waktu-waktu di sini? Tidak ada yang tidak baik. Tidak ada yang tidak istimewa, semuanya unik dan sangat berharga.

Semakin bertambah hari, rasanya harapan dan cita-cita kami makin membumbung tinggi. Dan saya, dan tentu saja para santri RQ lainnya, bersama-sama menghitung hari. Karena hitungan hari berarti hitungan hafalan kami.

Menghitung hari menjadi sesuatu yang mendebar-debarkan.

Mencoret tiap hitungan tanggal yang dilewati, berarti membalik sebuah halaman baru lagi.

Membalik lagi. Menambah lagi.

Insya Allah ^-^

NB: * dikutip dari buku Bahagianya Merayakan Cinta karya Ust. Salim A Fillah.

NB lagi: RQ libur seminggu… sungguh, hal yang langka. Maunya langsung terbang, pulang ke Padang.. tapi.. yah, sepertinya memang masih harus di sini :) yawis lah.. di RQ ini,

“rumahku mungkin bukan surga, tapi InsyaAllah serambinya…” (amiin)

Obedience

Obedience

Terlaluh.. bulan ini saya gak upload apa2 di blog -.-,

Sebenernya saya mo upload yang lain, tapi tiba2 kepikiran aktivitas pagi tadi.

Jadi, pagi tadi saya nemenin adik2 tingkat ke LP (Lembaga Pemasyarakatan). Maklum udah mau musim PKM, pada sibuk nyari inspirasi, kemarinnya ke RSJ, hari ini ke LP. Dan yah, disitu kita dikasih kesempatan buat ngobrol2 sama WBP (warga binaan pemasyarakatan). Semuanya dibagi jadi kelompok2 gitu. Sementara para adik2 ini mulai wawancara, saya jalan2.. lihat2 kira2 kelompok mana yang menarik untuk saya “timbrungin”. Dan di tengah jalan-jalan itu saya terhenti.

Shock!

Saya mengenal salah satu wajah dari WBP (napi) yang sedang di wawancarai oleh adik2 tingkat. Karena penasaran tingkat tinggi saya segera mendekat, dan bergabung di dalam kelompok itu. Dan u know who siapa orang itu?

Saya juga nggak tahu. -_____-  Memang bukan  orang yang saya maksud.  Tapi wajah si bapak di LP itu sangaaaaaaat miriiiiiiiip dengan seseorang yang akrab saya lihat wajahnya. Mirip banget sama seorang ustadz yang sering ngisi di salah satu masjid di daerah UGM.

Walhasil saya ikut ngobrol bareng2 di kelompok itu. Ada 2 orang WBP yang diajak bincang-bincang.

Nggak ada yang nyangka, wajah mas-mas yang- sepengamatan saya, sangat terlihat ramah, ceria, necis, dan murah senyum itu dipenjara akibat kasus pembunuhan. Lalu, bagaimana dengan si bapak yang mirip ustadz tadi? Dari awal saat saya “nguping” di kelompok itu saya menduga bahwa si bapak adalah orang berpendidikan. Bahasanya… wuih, kayak mahasiswa tingkat akhir yang lagi bikin skripsi. Bahasa formal sesuai EYD. Dan ternyata setelah saya tanya, beliau adalah seorang kepala desa (dulunya) di sebuah desa di DIY. Nggak tanggung2, sudah menjabat dari tahun 1995-2010. Dan beliau ada di sana akibat tipikor (tindak pidana korupsi).

Bapaknya akhirnya bercerita bagaimana beliau bisa ada disitu? Beliau dipenjara akibat tidak tahu bahwa kebijakannya  sebagai kepala desa akan menyalahi kebijakan pemerintah dan digolongkan sebagai tindak korupsi. Saya tidak terlalu concern sama alasan mengapa beliau dipenjara. Tidak pula  tentang kisah tentang masa hukuman beliau yang diperpanjang akibat tidak ada dana untuk memenuhi tuntutan perdata. Saya tidak tahu apa yang sesungguhnya terjadi. Pengadilan yang tidak jujur atau si bapak memang bersalah? Sudahlah bukan kapasitas saya, anak hukum lebih tahu dari saya. dan yang pasti Allahu’alam. Allah lebih tahu, dan Allah akan mengadili semuanya dengan sangat adil, kelak.

Dan saya lebih tertarik untuk mengamati perilaku si bapak. Kaki yang terus menerus bergoyang, mata yang sesekali saja mau memandang ke arah kami, dan tangan yang sesekali mengepal. Sepertinya penjara telah merontokkan banyak aspek percaya diri si Bapak sebagai seorang kepala desa. Meski bgitu..  tak lama, si bapak mulai bercerita lebih dalam, dan bahkan hampir menangis(dan mungkin akan benar2 menangis seandainya sesi kami saat itu tidak terpotong waktu). Terutama saat beliau bercerita tentang keluarga. Dan saat itu si bapak memberi kami sebuah pesan yang sangat terngiang-ngiang di kepala saya, dan membuat pagi saya jadi kelabu. Karena ikut terbawa sama perasaan si bapak.

“Dik, kita nggak tahu, akan ada dimana kita hari ini, besok, dan seterusnya. Saya sungguh nggak nyangka, bisa ada di sini. Sama sekali nggak pernah mikir akan masuk ke sini, apalagi tinggal di sini. Saya sempat stress. Saya sering berpikir untuk kabur dari sini. Tapi anak-anak saya justru menyuruh saya sabar, dan tangguh untuk menghadapi permasalahan ini. Padahal anak-anak saya ada yang sampai harus berhenti kuliah gara-gara Bapaknya ini dipenjara. Saya benar-benar shock, saya jadi kades di desa, ide saya yang saya rasa baik untuk masyarakat justru dianggap korupsi. Intinya, apapun yang kalian lakukan di dalam hidup ini, hati-hatilah. Jangan suka sembrono, karena kita ndak tahu, perilaku kita akan membawa kita kemana. Jangan sampaaaai kalian mengecap rasanya hidup di LP. Jangan sampai.. Bapak doain nggak ngerasain hidup di sini. Saya benar2 kapok di sini. ”

Mungkin simple ya, kesannya. “BERHATI-HATILAH!”

Tapi poin lain yang menohok adalah bahwa benar sekali kita nggak tahu  akan ada  dimana kita 2 jam nanti, besok, dan besoknya lagi. Kita nggak tahu sekarang kita jadi apa, besok tiba-tiba jadi seseorang yang lainnya. Mungkin sekarang kita punya pekerjaan, punya jabatan, punya pandangan yang baik di mata orang. Punya keluarga, sahabat, kesibukan, dan sebagainya. Tapi kita benar2 nggak bisa memastikan akan ada apa di esok pagi kita. Kita hanya bisa berencana, dan berikhtiar maksimal untuk memenuhi rencana kita.

Jadilah seharusnya, Al-Fatihah yang selalu kita baca saat sholat benar-benar kita resapi. Dan benar-benar kita maknai artinya. Bukan sekedar hafalan reflek yang diucapkan  berulang kali oleh bibir. Bukan pula  sebuah bacaan yang wajib dibaca di tiap  rakaat sholat kita. Tapi ada kepasrahan total kita pada Allah saat membacanya. Dan ini akan menyangkut tauhid. Jadi ingat kata-kata Sayyid Quthb dalam buku beliah Ma’alim fi Ath-Thariq (yang sempat dicekal dan dilarang peredarannya) bahwa “suatu akidah haruslah memenuhi relung hati dan menguasai sanubari. Akidah menghendaki manusia tunduk sepenuhnya hanya pada Allah.”

Personally, ini renungan buat diri saya sendiri. Dan supaya teringat, saya muraja’ah lagi di blog. Jadi, mari kita tinggalkan sikap takabur kita, rasa posesif kita sama harta dunia kita, dan lain-lain. Karena pada hakikatnya semuanya milik Allah bukan? Dan kita hanya dititipi. Bukan benar2 sesuatu yang abadi untuk kita miliki.

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.

Yang Maha Pengasih Maha Penyayang.

Pemilik Hari Pembalasan.

HANYA KEPADA ENGKAULAH KAMI MENYEMBAH, DAN HANYA KEPADA ENGKAU KAMI MOHON PERTOLONGAN.

TUNJUKILAH KAMI KE JALAN YANG LURUS.

Yaitu jalan orang-orang yang telah Engkau beri nikmat kepadanya; bukan (jalan) mereka yang dimurkai, dan bukan (pula jalan) mereka yang sesat”

-at Rumah Al-Qur’an, setelah setoran hafalan dengan keroyokan-

Memantaskan

Memantaskan

Percayalah… :) , jika anda pergi sendirian ke Turki, anda tidak akan pernah merasa kesepian. Yakinlah bahwa perjalanan anda tidak akan biasa-biasa saja. Wisata ke Turki berarti wisata ruhani. Banyak sekali objek wisata yang berhubungan langsung dengan agama, dan definitely, bagi diri saya sendiri, ini sangat men-charger ruhiyah saya.

“U’ll change your mind about Islam after seeing the place”, kata salah seorang Bapak-bapak yang saat itu membantu saya menunjukkan arah jalan ke Hagia Sophia.

“Wow.. why is that so?” tanya saya.

“Just see the place..” ujarnya sambil tersenyum.

Tak lama kemudian, sejurus mata memandang, terlihatlah sebuah bangunan gagah yang disebut sebagai Hagia Sophia.

hagia sophia tampak dari atas

hagia sohhia tampak dari atas

Baru satu saja obyek wisata yang saya kunjungi, tapi kesannya.. luar biasa! Subhanalloh.. betapa peradaban umat muslim pada masa kekhalifahan Turki Usmani silam, sangat luar biasa. Arsitekturnya, baju, pakaian, peralatan perang seperti pedang, baju besi, semuanya menakjubkan. Ini jaman dulu lho sodara2.. dan mereka bisa membuat sesuatu yang sangat berkelas bahkan bagi orang2 masa sekarang, sama sekali tidak terkesan kuno, atau ketinggalan jaman. Mulai dari baju besi yang ada hiasan permata, pedang yang di tiap sudutnya berukir kaligrafi yang cantiiikkk sekali, perkakas makan yang berhias macam2, pakaian para Sultan yang tebalnya minta ampun (gede dan mewah sekali), dan lainnya (sayang untuk barang2 ini tidak boleh difoto). Ini beberapa foto tentang arsitektur bangunan di sana.

Perjalan ke Turki, menelurkan sebuah hikmah bagi saya. Bahwa sebagai seorang muslim, kita harus berani memantaskan diri. Memantaskan diri untuk menjadi yang terbaik. Untuk terus berubah menjadi lebih baik.

Hagia Sophia misalnya, dulunya adalah gereja Kristen Ortodoks milik Konstantinopel, sebelum ia jatuh di taklukan Turki Usmani. Pada masa kekhalifahan Turki Usmani (Mehmed II), gereja ini kemudian diubah menjadi masjid. Dan kini, setelah pemerintahan Turki Usmani berakhir dan berganti ke Negara Turki yang modern, hagia sophia berubah fungsi menjadi museum. Simbol2 agama Kristen yang sebelumnya diplester oleh Turki Usmani (karena dialihfungsikan menjadi masjid) perlahan dibuka. Jadilah bangunan itu separuh bernuansa Islam, dan separuh lainnya bernuansa Kristen. Dari bangunan ini saja bisa terlihat bahwa umat muslim masa itu, sangat nyeni sekali, tidak kalah keren dibanding ke-nyenian orang2 Kristen masa itu juga.

Atau di saat berjalan-jalan ke Topkapi palace, sebuah museum yang menyimpan pedang2 para Khulafaur Rasyidin serta barang2 peninggalan khalifah Turki Usmani. Barang2 milik para umat muslim ini benar2 tidak kalah  bagusnya dengan kekaisaran Romawi dan lainnya.

Tentu saja, masa peradaban Byzantium yang luar biasa megah dan besarnya, tidak bisa dilawan hanya dengan aksi yang biasa2 saja. Terlepas dari masalah berlebih-lebihan dalam beragama, saya memaklumi kalau pakaian, baju perang, perkakas makan, serta jubah para Sultan Turki Usmani masa itu sangat mewah dan elegan. Lah wong lawannya juga begitu. Inget kisah Nabi Sulaiman yang membuat istananya serupa dengan istana milik Ratu Bilqis? Mungkin kisah tersebut bisa menjadi salah satu contohnya.

Intinya, saya menganalogikan kondisi masa silam dengan masa sekarang. Betapa kalau kita lihat sekilas di negara Indonesia, tidak sedikit umat muslim yang masih berkecil hati dan belum mau memantaskan diri untuk menjadi lebih baik. Di satu sisi, Islam mengajarkan tawadhu, zuhud, dan sebagainya. Tapi terkadang sikap2 semacam itu terlanjur salah makna dan bertopengkan ucapan “Yah, kita seadanya saja.”

Pemikiran seadanya saja, atau “saya ingin menjadi diri saya sendiri”, atau “saya belum mampu..” terkadang sebenarnya hanya sebuah bentuk pemakluman diri kita atas ketidakberhasilan, atau ketakutan kita untuk menghadapi sebuah tantangan.

Belum mampu atau tidak mau membuat diri menjadi mampu terkadang menjadi rancu.

Mari kita mencontoh peradaban Islam masa lalu. Untuk menandingi kekuatan2 yang besar pada masa itu, para umat muslim masa itu pun berpikir besar. Mereka memantaskan diri mereka sendiri untuk menjadi lawan saing yang seimbang, mereka memantaskan diri mereka untuk akhirnya menjadi seorang pemenang.

Dan kalau melihat kondisi masa kini maka kita harus berani memantaskan diri. Terlepas dari sudah mampu atau belum mampunya kita. Terus saja belajar.

Jika lawan kita adalah para ilmuwan sekuler yang terlihat sangat brilian dan keren dengan hasil penelitian dan teknologinya, maka pantaskan diri kita untuk menjadi lawan tanding yang sesuai. Pantaskan juga diri kita untuk menjadi seorang ilmuwan yang sama levelnya, atau bahkan lebih baik.

Jadi inget kata2 salah seorang pengajar di RQ:

“Kalau ini rumah Al-Qur’an, maka buatlah rumah ini layak untuk disebut sebagai rumahnya Al-Qur’an, jaga kebersihan, kesucian, keindahannya. Kalau ingin menjadi hafidzah, maka bersikaplah layaknya seorang hafidzah, dekat dengan Al-Qur’an, bersikap santun, dst.”

Akhirnya, tulisan saya diatas membawa diri saya sendiri pada sebuah kesimpulan:

“Kalau punya cita-cita ingin masuk surga, pantaskan diri kita untuk bersikap selayaknya seorang ahli surga, bukan ahli neraka.”

Wallahualam :)

NB: Karena upload foto aslinya lama, saya gugling sendiri foto2 diatas, ini dia source nya urut dari atas ke bawah :) :

http://www.hagiasophia.com/

http://en.wikipedia.org/wiki/File:Hagia_Sophia_09.JPG

http://mosaicartsource.wordpress.com/2007/01/19/curving-swirling-hagia-sophia-dome/

http://www.world-city-photos.org/Istanbul/photos/Hagia_Sophia/Hagia_Sophia_Byzantine_architecture/

Secuil cerita tentang Fiksi.

Secuil cerita tentang Fiksi.

Seumur hidup, saya baru memperlihatkan karya fiksi saya pada orang lain sebanyak 2 kali. Saat lomba cerpen waktu SD, dan Alhamdulillah dapet juara satu. Entah kenapa saat itu sama sekali tidak tertarik untuk lebih mendalami dunia tulis-menulis. Selanjutnya saat mengirim karya untuk seleksi masuk FLP Jogja, saya ngirim cerpen. Di luar itu paling saya nulis cerpen atau puisi di pelajaran Bahasa Indonesia, atau di diary sendiri, dari pada maki-maki orang, saya nulis puisi.

Dan bulan Oktober kemarin,  anak2 FLP semua heboh untuk ngirim novel ke Republika. Lah saya, sibuk ngerjain paper untuk ke Istanbul. Lagi-lagi menulis non fiksi. Non fiksi. Non fiksi. Non fiksi. Saya pengen juga pinter nulis fiksi, tapi rasa-rasanya.. fiksi jauh lebih sulit menulisnya. Saya pengen bikin novel atau cerpen itu yang tidak hanya sekedar cerita tentang emosi antar tokoh. Kalau novel tentang cinta, saya nggak pengen nulis novel yang isinya cuman tentang cinta-cintaan para tokohnya, yang percakapannya melulu berhububungan dengan cinta atau permainan bahasa. Saya pengen menulis fiksi yang serba guna dan tahan lama. Boleh jadi ada sejarah dalam background ceritanya, ada permainan bahasa yang indah dalam tiap katanya, dan tentu saja, ada kisah hikmah dari itu semua. Syukur2 bisa ngasih pencerahan sama yang pada baca.

Well, it seems like I’m so prefectionist in dreaming about my fiction writing. Tapi secara tidak sengaja saya membaca sebuah postingan, yang ternyata itu adalah blognya senior FLP. Somehow, idealisme saya rada ada pembenarannya di sini. Hehe. Saya jadi semakin pengen menjadi penulis fiksi yang baik, yang benar2… serba guna dan tahan lama. Yang karyanya gak cuma habis sekali baca, tapi bisa dibaca di jaman kapan saja, even jaman cicit2 saya nanti.

Meskipun untuk ke sana, kita harus belajar menulis terus menerus, mungkin awalnya karya kita dianggap terlalu biasa, tapi biarlah, yang pasti kita harus selalu bergerak untuk membuat karya yang luar biasa.

Dan ini postiingan yang saya maksud :) . Murni copas dari blognya mas Ashif,

COLDPLAY: REFLEKSI SYAIR DAN PERANG PEMIKIRAN*

Sekedar share, setelah baca email yang dulu pernah ditulis d salah satu milis dan tanggapannya yg luar biasa.

-Viva La Vida-
I used to rule the world
Seas would rise when I gave the word
Now in the morning I sleep alone
Sweep the streets I used to own

I used to roll the dice
Feel the fear in my enemy’s eyes
Listen as the crowd would sing
“Now the old king is dead! Long live the king!”

One minute I held the key
Next the walls were closed on me
And I discovered that my castles stand
Upon pillars of salt and pillars of sand

I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign field

For some reason I can’t explain
Once you go there was never
Never an honest word
And that was when I ruled the world

It was the wicked and wild wind
Blew down the doors to let me in
Shattered windows and the sound of drums
People couldn’t believe what I’d become

Revolutionaries wait
For my head on a silver plate
Just a puppet on a lonely string
Oh who would ever want to be king?

I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign field

For some reason I can’t explain
I know Saint Peter won’t call my name
Never an honest word
But that was when I ruled the world

I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign field

For some reason I can’t explain
I know Saint Peter won’t call my name
Never an honest word
But that was when I ruled the world

-coldplay-

Teman2… apa kalian tidak tertantang? ini lagu penuh ghazwul fikri… Mereka berhasil membawa hal2 ideologis ke ranah budaya pop. bayangkan! ini dinyanyikan oleh anak2 kampus, anak sma, di negri aslinya mungkin jg anak sd…

” I used to rule the world”
hanya tak habis fkir… sebegitu hebatnya barat menghembuskan nafas ideologinya. mereka menggunakan semua daya kekuatan yg mereka punya… teknologi, budaya, politik… 

Syair yg ini…

“I hear Jerusalem bells are ringing
Roman Cavalry choirs are singing
Be my mirror, my sword and shield
My missionaries in a foreign field”

wah… hebat banget… jerusalem, romawi dan misionaris diabadikan dalam lagu pop… iya lagu pop alternatif… bukan qosidahan atau gendring…
mungkin dlm kebiasaan kita ini lagu tentang palestina n ahmad yasin yg dibungkus rapi pakai musik pop…

ck..ck… jadi inget salah satu upgrading kepenulisan jaman kapan… penulis bedah satu syair lagu n menunjukkan di titik mana letak ghazwul fikri itu… 
ini lagu yg lebih parah…
ghozwul fikri jelas2

lagu ini disetel di acara liputan olahraga pagi (u backsound sport7 dll), artinya lagu ini punya nafas spirit yg dlm, semangat! itu yang ditangkap kasat mata. dan itu yang digunakan barat dalam mendesain berbagai peluru ghazwul fikrinya. serba ideologis secara makna tapi profesional dalam packaging… coba dgr lagunya jg powerful n elegan…. ciri ini umum di produk2 budaya barat. da vinci code, angle n demon, the alchemist… pasti tmn2 udah bca…

sekedar refleksi bagi tmn2 pejuang (pena)… sdhkah tulisan2 kita seideologis itu? dan sudahkah seprofesional itu? 

ayo kit mulai brg2… bismillah… 

Jawaban Bang Ichal di milis ppsdms:

waduh mas, saya salah satu penikmat lagu ini nih. one of my fave song.

benar, lagu ini sangat bernuansa abad pertengahan dan kental dengan kata-kata religius sepert St. Peter yang merupakan pendiri kedua agama kristen setelah St. Paul.

menurut Coldplay sendiri lagu ini berkisah tentang akhir-akhir masa seorang raja yang kehilangan kekuasaannya. dimana besoknya dia akan di guilotine dan kepalanya ada di pring perak. dia mengingat kejayaan kerajaannya yang dulu tak lain adalah representasi dari Roman Empire. ayo, masih ingat, bahasa apa yang sampai sekarang merupakan keuturnan dari bahasa Romawi. yup benar. Perancis. so, ini lagu bercerita mengenai kejatuhan kerajaan Perancis. I would say this song is about the French Revolution and the King Louis XVI was very high roller until he was overthrown. coba liat cover CD dari lagu viva la vida ini. persis. covernya adalah lukisan mengenai revolusi perancis yang menghancurkan kekaisaran Perancis yang sudah dibuat oleh Charlemagne semenjak abad ke-7 yang merupakan reaksi atas kehadiran Muslim di Pottier.

so, betul sebagaimana yang dibilang Ashif, kita kudu mampu membuat lagu seperti ini. jangan seperti kuburan Band yang cuma C AM DM ke G ke C lagi. gak mutu. atau Wali yang cuma ibu-ibu, bapak-bapak, gak jelaasss. dan juga lagu Indo lainnya

gak cuma lagu, apa pun itu, mau lagu mau buku. inspirasi harus datang dari sejarah. so far, sejarah kita malah dijadikan inspirasi oleh Paulo Cuelho. beberapa muslim yang sudah mengembangkan sejarah Islam yang saya ketahui paling Tariq Ali dengan quartet Muslim Eropanya (The Book of Saladin, The Stone Woman, A Sultan in Palermo, Shadows of the Pomegranate Tree ayo siapa yang sudah baca). atau Orhan Parmuk dengan My Name is Red dan White Castle. atau juga si Amin Maalouf si perancis yang menulis Balthasar’s odyssey dan Samarkand. nah kesemuanya itu walaupun Muslim tapi sekular semua. dan gak heran tulisan mereka juga sekular abis di novel-novelnya. namun ada sejarah dibalik itu semua.

terus bagaimana dengan penulis Indonesia. tentu yang paling the best adalah Pram dengan Quartet Burunya yang gile pemahaman sejarahnya bagus banget. baru-baru ini paling es ito yang keren banget.

coba lihat novel-novel Islam. bukannya maksudnya menghina, tapi kayaknya kurang studi historis dan literatur. beberapa novel cuma mengangkat aspek emosi dan hubungan antar pemain saja tapi tidak mendalami dan mengelaborasi konteks atau panggung dari novelnya. coba lihat my name is red, sebuah kisah detektif yang kaya akan nilai budaya. coba lihat balthasar odyssey yang bercerita tentang pencarian hakikat jati diri tapi kaya akan deskripsi mengenai budaya Islam abad pertengahan tatkala di Eropa terjadi perang 30 tahun. atau juga stone woman yang bercerita kegundahan seorang wanita terapit di arus modern dan arus tradisionalisme yang kaya akan cerita sejarah mengenai keruntuhan kekhalifahan Turki Utsmani di akhir abad ke-19 dimana begitu banyak penyimpangan oleh penguasa kala itu.

so, siapa diantara kita yang sudah tamat baca history of civilisation- nya karya Arnold Toynbee. siapa yang sudah baca Mukadimah ibnu khaldun (udah ada tuh terjemahaannya) . siapa yang sudah baca History of God nya Armstrong atau Perang Salib karya Sir Philip (siapa lupa). siapa yang sudah baca buku Alexis DeTocqueville tentang demokrasi di Amerika. atau minimal bukunya Marcopolo yang berjudul the travels of Marco Poloatau yang aslinya berujudul Oriente Poliano.

atau untuk Indonesia sendiri, adakah diantara kita yang sudah baca Summa Orientanya Tome Pires? atau yang paling minimum nih, Nusantara karya yang ditulis oleh ahli Indonesia asli belanda, Bernard H.M. Vlekke. atau paling minim nih, Islam, Doktrin, dan Peradabannya si Nurcholish Madjid. udah baca kan? nah mari kita serius belajar sejarah.

seperti yang dikatakan Toynbee, History is a vision of God’s creation on the move. agar kita dapat mengambil hikmahnya…

post scriptum.
beberapa buku diatas, saya dapatkan secara elektronik loh, so E-Book juga boleh dong. hari gini gak pake e-book?

buat ksatria UI, seluruh buku diatas, saya punya, so yang mau baca tinggal bilang.

nah, mungkin di regional masing-masing kudu baca lagi nih buku-buku babon ini biar pemahaman sejarah kita maknyus.

*http://ashif1st.blogspot.com/2011/10/coldplay-refleksi-syair-dan-perang.html

Really nice discussion!!! ;D

-Rumah Al-Qur’an, 3 Muharram 1433 H-

di sela-sela hiruk pikuk penduduk RQ yang mau ngampus :)

Kaca Mata Hitam

Kaca Mata Hitam

Kalau anda seorang muslim, dan berencana untuk travelling ke Thailand, satu hal yang saya sarankan. Kenakan KACA MATA HITAM. Terutama saat jalan2. Why? Karena setidaknya kaca mata hitam, menyamarkan pandangan anda dari banyak hal.

Thailand, sama sekali tidak masuk rencana perjalanan kami (saya dan 3 orang teman lain) kala itu. Singapura dengan Merlionnya agaknya jauh lebih “menggiurkan” untuk jadi tempat wisata bagi manusia jenis anak muda macam kami. Tapi, karena terbatasnya waktu, prioritas dana, dan lainnya, akhirnya kami memutuskan untuk pergi ke Thailand lewat jalur darat, sehingga melewati apa yang kemudian biasa disebut- kota perbatasan.

Awalnya, beberapa orang dosen kami yang sedang di Malaysia juga agak keberatan saat kami mengatakan bahwa akan pergi kesana lewat jalur darat. Mengapa begitu? Pertama karena di Thailand sangat sedikit yang bisa bahasa Inggris, kedua karena disana semua infrastruktur seperti arah jalan, nama jalan dll tertulis dengan bahasa Thai yang mlungker2 kayak tulisan India, atau kalo kata saya sih mirip aksara Jawa. Dan terutama… karena kota perbatasan identik dengan kondisi yang tidak aman, perkampungan, dst *kata dosen loh..

Tapi yah, u know? Cara membuat seseorang makin penasaran terhadap sesuatu adalah dengan serta merta melarangnya.

Singkat cerita akhirnya kami pergi ke Thai dengan travel. Dan fungsi pertama kaca mata hitam bisa anda rasakan khasiatnya disini. Saat akan masuk mobil, saya melihat barang jahanam itu. “Bruk!” Sontak saya langsung melempar ransel saya ke atasnya. Seketika saya bilang sama kedua temen saya lainnya “Ih.. nggilani, ada majalah porno disitu. Tasku di sini aja, buat nutupin.” Majalah itu tidak terletak dibawah jok kursi mobil atau apa, tapi memang terpampang rapih seperti seolah-olah itu majalah BOBO atau apa yang bisa dibaca berbagai usia. Suram, untung teman saya yang laki2 tidak lihat karena dia duduk di depan. Rasanya ingin saya pukul-pukul supir travelnya majalahnya.

Well. Mari kita tengok fungsi kaca mata hitam lainnya.

Saat itu kami tengah berjalan-jalan di sepanjang pasar tradisional, masih di Thailand. Awalnya tidak ada yang menyadari, tapi tiba2 saat itu kalau tidak salah, Imanuri, temen putra yang ikut berjalan-jalan bersama kami tiba2 berucap,  “Astaghfirullloh…! wes, mlaku lurus wae, rasah mengo2..” (Sudah, jalan lurus saja, tidak usah tengak-tengok). Kenapa begitu? Karena ternyata disepanjang jalanan pasar itu, selain menjualkan pernak-pernik segala macam, mereka juga menjual vcd porno (dengan bebasnya), yang membuat Imanuri sontak beristighfar. Bukan cuma porno yang perempuan, tapi juga covernya porno versi laki2.. alias gay, atau mungkin semacam gigolo begitu. Dan juga waria. Lantas kami cepat2 berjalan dan nggak jadi liat2 barang.

Kebermanfaatan kaca mata hitam ini akan sangat terasa juga saat di dalam bis. Saat itu kami tengah dalam perjalan akan pulang ke Malaysia.  Untungnya saat itu Imanuri sedang tertidur *kayaknya sih. Dan saya sendiri duduk di kursi jok belakang. Berseberangan dengan saya, tepat di samping saya (beda baris gt), ada seorang biksu2.

Saya sih menghabiskan waktu sambil baca2 Qur’an dan buku saat itu. Namun sebagian besar orang sedang menonton sebuah film yang disetel di  bis. Termasuk pak Biksu ini. Mmm… saya lupa judul filmnya apa, tapi ceritanya tentang semacam kota yang perlahan-lahan seluruh penduduknya menjadi vampir. Ada banyak sih film Hollywood yang mengupas vampir, entah ini yang judul apa. Well.. filmnya memang sepertinya bagus, ada klip-klip yang cukup menegangkan. Tapi sodara.. sodara… ditengah film action-horor begitu, tiba2 muncul adegan porno yang definitely saya yakin pasti bakal disensor klo di Indonesia dan tidak akan di setel di bis umum begini. Hyaaaaaaa.. apa-apaan ini, satu bis kan hampir sedang menonton film yang sama? Gila. Saya langsung menelungkupkan selimut ke kepala dan pura-pura tidur. Hal2 kek begini jadi konsumsi publik ternyata.

Dan ke-parno-an ini terus berlanjut. Pada brosur2 iklan hotel pun secara terbuka ditawarkan penawaran “girls in lounge” ya intinya temen cewek buat melayani anda.

Maaf seribu maaf ya Thailand, saya tidak bermaksud menjelek-jelekkan anda. Di balik hal2 seperti tadi kami juga menemukan hal-hal baik lainnya. Salah satunya yaitu tentang “muslim di Thailand”. Saya sendiri cukup kaget saat mengetahui ternyata cukup banyak yang mengenakan jilbab di negeri ini. Dan tidak susah juga menemukan rumah makan muslim. Hanya saja memang saya ingin membahas topik tentang porno dan sejenisnya.

Definitely, anda tidak hanya memerlukan kaca mata hitam saat pergi ke Thailand. Ke Australia, USA, Belanda, yah pokoknya ke negara-negara yang memang mentolerir hal macam itu pun mungkin anda butuh kaca mata hitam. Tapi… tunggu dulu!  Meski berkaca mata hitam begitu…  agaknya mata kita masih tetap bisa melihat “LUAR” bukan? Betul, betul sekali kawan. Kalau anda mengartikan kaca mata hitam sebagaimana aslinya, tentu saja tidak terlalu berguna. Malah mata anda akan lelah karena ber-kaca mata terus kemana-mana.

Thus, kaca mata-i hati anda.. Bukannya lantas kita tidak mau pergi ke luar negeri gara2 hal-hal tersebut. Kaca mata-i hati kita, hijabi lah hati kita dengan kaca mata hitam yang sangat gelap sama hal2 semacam itu. U know what teman? Alarm terbaik menurut saya adalah hati. Secara fitrah Allah menciptakan hati kita untuk condong pada hal-hal yang baik dibanding yang buruk. Yang condong kepada hal yang buruk bukan lah hati. Tapi nafsu.

Saat ingin melakukan hal2 yang tidak baik, serta merta sebenarnya hati sudah membunyikan alarmnya. Tidak merasa begitu? Yah.. mungkin memang kita perlu sesekali melembutkan hati sehingga peka terhadap hal semacam ini. Rasanya dapat berupa “slentingan” perasaan tidak enak, keragu-raguan kita terhadap hal2 buruk yang sebelumnya ingin kita kerjakan, atau perasaan tidak tenang saat melakukan perbuatan tersebut.

Seorang bandit kelas kakap sekalipun, saat akan melakukan keburukan, alarm hatinya sedang bersuara. Buktinya, si bandit dengan segala macam cara mempersiapkan perencanaan agar tidak tertangkap misalnya. Sejatinya itu adalah bentuk perlawanan nafsu pada alarm yang disuarakan hati. “Amankan aku!” Begitu mungkin kata nafsu pada akal.

Dan oleh karena itulah dalam Islam bisa kita temukan 3 jenis kepribadian:

Nafs Ammarah

Orang yang hatinya mati. Nafs-nya memegang kendali atas akalnya. Kata ammarah ini dijelaskan dalam QS. Yusuf: 53

“Dan aku tidak (menyatakan) diriku bebas dari kesalahan, karena sesungguhnya nafsu itu selalu mendorong kepada kejahatan (ammarah), kecuali yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun Lagi Maha Penyayang.”

Nafs Lawwamah

Orang yang hatinya sakit. Nafs dan akal selalu berseturu untuk jadi no. 1. Tentang lawwamah bisa kita lihat di QS. Al-Qiyamah: 2.

“Dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali dirinya sendiri (lawwamah).”

Nafs Muthmainnah

Orang yang hatinya sehat. Hati mengungguli akal. Si muthmainnah ini bisa kita tengok dalam QS. Al-Fajr: 27.

“Wahai jiwa yang tenang (muthmainnah)”

Well.. termasuk mana kah anda?

Yah, semoga hati kita terus dibunyikan alarmnya oleh Allah.. jangan sampai, saking seringnya kita berbuat maksiat dan dosa, semua tindak tanduk yang buruk, terasa biasa-biasa saja bagi kita. Naudzubillah!

-Hari libur RQ, akhirnya bisa ngepost juga :D -

Do Utmost!

Do Utmost!

Sudah lumrah kalau anda temenan sama anak Psikologi, lalu dijadikan “kelinci percobaan” untuk praktikum2 di Psikologi. Dan aneh rasanya kalau anak Psikologi tapi belum pernah mencoba bejibun tes yang banyak itu. Biasanya, anak angkatan bawah akan ditodong sama angkatan atas untuk jadi testee (yang di tes).

Termasuk saya, pas itu.. saya masih imut2nya *hueeek. Masih semester 2.. Saat itu saya jadi testee untuk tes Kraeplin, sebuah tes yang sangat sering digunakan dalam rekruitmen kerja, PLN,misalnya, menggunakan tes ini dalam rangkaian tes seleksi karyawan. Initnya tes kraeplin mengungkap “maximum performance” seseorang, artinya dari situ terungkap 4K which are kecepatan, ketelitian, keajegan, dan ketahanan kerja kita.

Bentuknya.. seperti apa tes kraeplin itu? Err… agak bikin mulas kepala… tidak ada satu huruf pun di dalam tes kraeplin. Isinya Fuuuuuuuuuullll angka yang tersusun rapih dalam bentuk kolom. Angkanya memenuhi kertas yang besarnya 2 kali kertas A3 kira2.. silahkan pusing2 mata. Dan saya turut berduka cita sama mbak2 yang dulu itu ngajakin saya utk jdi testee.. Maaf lahir batin, soalnya.. mbaknya pulang hingga petang gara2 ngitung skor saya.. saat itu saya berhasil menjawab banyak di tes kraeplin. Apa artinya? Alhamdulillah, entah benar atau salah hasil tes itu, saya bersyukur bahwa saya dari hasil tes itu saya memiliki 4 K yg baik. Further more, saya digolongkan abnormal, karena klo di kurva normal, saya berada di grafik yang titiknya masuk  abnormalitas ekstrim kanan…  selamat, anda tidak normal ternyata. Tapi inti postingn ini bukan itu.

Intinya, apa anda sudah tau kelebihan atau potensi yg anda miliki? Cari! Cari kalo belum tahu.. karena somehow, ini sangat membantu kita untuk memahami sesuatu, yang akan terungkap di akhir postingan

Relate sama cerita di atas, saya pengen cerita sama salah satu penelitian yg pernah saya lakukan, yaitu tentang religiusitas anak autis. Pernah melihat proses belajar anak autis? Atau ADHD? Mungkin pernah atau bisa ditemui dibanyak sekolah ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Tapi pernah kah anda melihat mereka belajar melakukan ritual ibadah mereka. Mengaji, sholat, wudhu? Sungguh, anda akan sangat tertampar kalau dengan kondisi normal yang anda miliki anda masih malas solat, males untuk ngaji, dan lain-lain.

Saat sholat biasanya guru pendamping ada dibelakang mereka, memeluk dari belakang, membantu mereka untuk memegang pergelangan tangan, rukuk, sujud, dan duduk tasyahud. Dan menghentikan gerakan2 yang sering tanpa sdar mereka lakukan. (Maaf saya belum sempat upload fotonya.)

Pernah lihat anak2 ini belajar mengaji? Subhanallah, dengan gangguan yang sedang dimiliki, sangat… sangat sulit bagi mereka untuk mengucapkan huruf2 arab itu.. aaaa…bbbbaaaa…jejejejejaaaaa… begitu kira2.. sangat terbata2. Wuih, tapi semangat belajar mereka jangan ditanya. Malah udah ada yang hampir khatam hafalan juz 30 dalam 1 tahun belajar mereka. Ini sangat luar biasa untuk ukuran seseorang yang memiliki kesulitan verbal dan kognitif.

Cerita lain terjadi hari ini. Hari ini waktunya monitoring individu. Akibatnya, pagi ini Rumah Al-Qur’an dihiasi air mata beberapa orang santri, yang begitu saja keluar saat sedang setoran hafalan. Beberapa dari kami ada yang menangis.. akibat menghadapi tantangan untuk menyetorkan sebuah surat sungguh sulitnya. Berulang kali salah, dipotong oleh musyrifah, diulang, dipotong lagi karena mad yang kurang panjang, membenarkan… lalu dipotong lagi karena salah… Fiuuuh. Sampai tiba2 salah seorang menunduk di meja, dan menangis diam2.. karena belum lancar…

Saya dan beberapa teman lain melihat dari kejauhan. Ya Allah, saya terharu sama beliau… terenyuh karena semangat dan jiddiyah (kesungguhan) mbak Eka saat menghafal. Memang surat itu panjang, dan saat saya menghafal dulu saya juga sempat jengah, ya Allah, angel banget.. gak lancar2… tapi perasaan itu hanya sebentar, dan tidak sampai menangis, seperti beliau.

Tidak berapa lama kemudian giliran Nabila, pasangan menghafal saya. Setelah balik ke ruang utama, Nabil menyusul menjadi orang yang menangis untuk kedua kalinya… Target tilawah 5 juz/ hari yang harus kami lakukan, berubah khusus untuknya. Nabil punya kewajiban untuk membaca 1 juz saja, dan 4 juz lainnya digunakan untuk muraja’ah (mengulang hafalan). Saya mengikuti sepenuh nya proses belajar Nabil, kesulitan2nya pada beberapa huruf, dan seterusnya. Yang ternyata bagi saya, kesulitan yang dialami Nabil adalah hal yang bisa saya lakukan dengan baik. Dan Nabil tiba2 sja merebes mili (nangis).

Saya tertampar pagi ini, betapa bagi teman2 saya beberapa hal merupakan sebuah dinding tantangan yang harus mereka jebol. Sementara saya? Sudah ada pintu, tinggal masuk saja. Betapa saya bisa mendapat nilai setoran 9 berulang kali, sementara bagi yang lain unutk mendapatkan 8 saja harus belajar terus menerus malam harinya. Tidak tidur, mendengar terus menerus rekaman suara sendiri, dan lainnya.

Saya tidak bermaksud sombong sama kelebihan saya dalam postingan ini. Sungguh bukan itu poinnya. Tapi, saya sedang menyadarkan diri saya sendiri. Bukannya memaksimalkan potensi, saya malah leha2.. dan tidak lebih bersungguh-sungguh dibandingkan kawan2 lain di asrma ini. Padahal saya memiliki satu tiket lebih dulu, yang harusnya bikin saya much, much, much better… Harusnya sama kencangnya berlari seperti mereka ber-6.. sama besarnya kesungguhannya seperti mereka ber-6.. harusnya.

Padahal sejak tes Kraeplin yang saya lakukan dulu, saya jadi sadar sama potensi saya. Dan ternyata sampai sekarang saya cuma melirik dan icip2 sama amanah yang sudah dikasih Allah ini. Bukannya akselerasi, tapi malah santai2.. Astaghfirullah.

Bersyukur sudah tentu akan menjadi sebuah nilai yang bisa kita dapatkan saat kita mengetahui kelebihan dan potensi kita. Akan tetapi lebih dari itu, ada sebuah nilai lain yang sama pentingnya.

Menghargai adalah salah satu hal yang bisa tumbuh, saat kita sudah mengenali potensi diri kita. Hargai diri sendiri dengan bersungguh-sungguh dalam bekerja. Sekecil apapun persoalannya. Bukankah Allah menilai segalanya?

Lebih jauh lagi, belajarlah untuk menghargai kerja keras orang lain. Boleh jadi bagi kita mudah (krn bagi kita ini kelebihan), namun bagi mereka, hal ini bukan main susahnya.

Thus… sudahkah kita bersungguh-sungguh dalam bekerja hari ini? Jangan kecewakan Allah dengan nikmat yang sudah dititipkan-Nya :)

Jangan kebanyakan leha-leha dan menunda-nunda :)

“Maka apabila engkau telah selesai dari suatu urusan, bersungguh-sungguhlah (tetaplah bekerja keras) untuk urusan yang lain”. (QS. Al-Insyirah: 7)

Doa Hifdzul Qur’an :)

Doa Hifdzul Qur’an :)

Sebenarnya ada banyak doa agar kita bisa dekat dan hafal dengan Al-Qur’an. Berikut ini salah satunya. Dan artinya sangat, sangat, sangat indah :)

ا للّهُمَّ انْ تَجْعَلَ الْقُرْآنَ الْعَظِيْمَ رَبِيْعَ قُلُوْ بِنَا وَ جَلَآءَأَحْزَا نِنَا وَنُوْرَ صُدُوْرِنَا وَ ذَهَابَ غُمُوْمِنَا وَهُمُوْمِنَا

اللّهُمَّ اجْعَلْنَا مِنْ أَهْلِ الْقُرْآنَ الَّذِيْنَهُمْ أَهْلُكَ وَخَآصَّتُكَ يَآأَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ

“Ya Allah.. jadikanlah Al-Qur’an-Mu Yang Agung, taman bunga hati kami…

penghilang rasa sedih kami, (menjadi) cahaya hati kami, dan pengusir gundah gulana kami.

Ya Allah.. jadikanlah kami keluarga Al-Qur’an,

yaitu orang-orang yang menjadi keluarga-Mu dan yang Engkau khususkan.. Yaa Arhamar Raahimiin…”

Turkey on Fire (1)

Turkey on Fire (1)

Saya baru tahu kalau di Turki sedang ada gempa besar saat semalam teman saya sms dan menanyakan kabar. Dan setelah searching ternyata benar2 suram. Gempanya benar2 parah, korbannya tidak sedikit.  Kata Kompas hampir 1000 orang tewas. Silahkan cek webnya langsung.

Suram sekali karena Provinsi Van di bagian Timur Turki ini (yang terkena gempa) banyak dihuni oleh Suku Kurdi, yang sekarang sedang gencar2nya mengadakan perlawanan dengan pemerintah Turki. Dan tanggal 20 Oktober 2011 kemarin antara kedua pihak (pemerintah dan suku Kurdi) terjadi pertempuran cukup parah, sehingga menewaskan 26 tentara Turki. Sebenarnya kalau mau diekspos dari Suku Kurdi mungkin bisa jadi lebih banyak, jika dihitung dari awal perlawanan mereka.

Sedikit cerita tentang suku Kurdi, suku ini terkenal dengan bangsa tanpa negara, begitu seingat saya ungkapan untuk mereka dari sebuah majalah ISlam. Mereka tersebar di Suriah, Irak, Iran, dan tentunya di Turki.  Di berbagai negara ini mereka mendirikan partai-partai tertentu dengan tujuan untuk meminta kemerdekaan dll. Info lebih lengkap saya nemu blog yang sangat bagus. Sila klik di sini.

Dan hari itu, saat di bagian lain negara Turki sedang berduka, di Istanbul sedang ada aksi besar2an mengecam tindakan suku Kurdi yang menewaskan 26 tentara Turki. Saat itu masih pagi, dan saya sedang di jalanan kota Taksim untuk pergi ke tempat konferensi. Pas itu banyak orang memasang bendera2 di sepanjang jalanan.. Akhirnya saya poto2 mereka tanpa tahu sebenarnya ada akan ada acara apa sampai semarak itu jalanan.

Dan ternyata akan ada aksi– atau menurut saya lebih tepatnya ini disebut propaganda. Jalanan yang memang sebelumnya ramai menjadi macet, bukan buat mobil atau angkutan saja, tapi pejalan kaki pun terpaksa berhenti semua.

Ya itu tadi, ada aksi, semacam long march di jalanan kota Istanbul. Pas saya tanya sama salah seorang disamping saya, dengan cepat dia menjawab : “Ada teroris.. kita akan melawan teroris..”. Saya terhenyak, teroris? Golongan macam apa yang disebut teroris di Turki? Dan ternyata yang dimaksud adalah suku Kurdi. Bukan bermaksud mengeneralisir jawaban spontan tadi, hanya saya kok agak kurang setuju, tiap ada yang berontak dikit, langsung disebut teroris. Kata2 itu kan produk keluaran Amerika, apa-apa, kalau terlihat konservatif lalu dicap sebagai teroris. Opini teroris ini somehow benar2 melekat di kalangan masyarakat.

Kalau anda mencoba membaca sejarah suku Kurdi, emm.. rasanya menyedihkan sekali. Perjalanan hidup mereka yang berpindah-pindah dan mencari “nama” itu tidak memakan sedikit korban. Dan FYI. Salah satu panglima perang Islam yang terkenal yaitu  ”Shalahudin Al-Ayubi” itu juga keturunan suku Kurdi, sang ayah-  Najm ad-Din- adalah suku Kurdi.

After all.. kalau ada pemberontakan gini saya kepikiran sama anak-anak dan wanita. Saya inget pesen umi asrama saat akan ke Turki, “ati2 ya Hus kalau nanti naksir orang Turki, teliti betul jangan2 dia orang Kurdi..” seloroh Ummi sambil ketawa. “Loh, lah kenapa mi kalau orang Kurdi?” saya nggak dong korelasinya saat itu. Dan ummi menjawab “temen ane.. kuliah di Mesir, ktemu orang Turki, terus nikah, taunya orang Kurdi. Kasian banget nasibnya, ditinggalin terus sama suaminya. Ditinggal berontak, keliling kemana-mana..” jelas Ummi.

“Oh…”

Yah, itu perkara suami isteri ya. Lah kalau udah punya anak, dan banyak. Miris lah bayanginnya. Rasanya saya jadi bingung dengan perjuangan jenis ini, yah.. nggak tau mana yang bener mana yang salah. Belum baca lebih banyak artikel. Tapi apa antara perjuangan itu dan amalan (menyangkut hak dan kewajiban sebagai individu sudah terpenuhi?) bisa selaras? Nggak tahu juga.

Ini dia beberapa foto yang berhasil saya tangkap. Saya ngerekam juga. Yang bikin merinding adalah aksinya, di sini bukan demo sambil marah2 dan teriak2 menghina yang mau dihina. Tapi disini teriaknya neriakin nama2 Allah. Allahu akbar… syahadat dan seterusnya.. Mirip seperti aksi untuk Palestina begitu suasanananya. Dan saya rasa propaganda yang dimulai oleh entah oknum siapa itu berhasil. Buktinya? Awalnya hanya beberapa yang ikut aksi.. Tidak sampai satu jam, bermunculan penjual2 bendera, atribut, dan segala bentuk lambang lainnya. Sekajap saja, orang2 yang mulanya tidak ikut aksi lantas bergabung di dalamnya, mulai dari bayi- nenek-nenek pakai bendera atau ikat kepala dan ikut berdesak-desakan meneriakkan seruan2 yang tidak saya ketahui kata-katanya. Isinya kurang lebih permintaan pemerintah agar bertindak tegas terhadap suku Kurdi yang telah menewaskan 26 tentara Turki. Let’s see the moment :

Ah, maaf ya tulisan saya loncat-loncat dan dijejali terlalu banyak info :) Tapi bagaimana menurutmu tentang perjuangan suku Kurdi ini? For sure, pertikaian ini tidak bisa disamakan dengan kasus Palestina. Wallahualam bis showab.

PS: Oh ya, saya juga menangkap hal-hal minor di luar hiruk pikuk aksi ini. Moga2 bsk bisa saya tulis.. :)

Istanbul, 23 Okt 2011

SMS bersejarah :)

SMS bersejarah :)

Pas mau delete all messg.. ada satu messg yang sayang banget untuk saya hapus. Akhirnya saya putuskan untuk menulisnya di sini. Gara2 sms ini life mapping saya untuk beberapa tahun ke depan berubah drastis. Belum banyak yang tahu sih, I guess akan ada yang sedikit kecewa dengan kabar ini. Biar waktu saja yang memberi tahu.. *waks ;P bahasanya…* Dan ini sms berharga yang saya maksud :)

“Assalamu’alaykum wrwb. Dengan berbagai pertimbangan, kami pengelola Rumah Al-Qur’an (RQ) memutuskan untuk menerima anti sebagai santri mukim. Briefing santri dilaksanakan Sabtu, 22 Oktober jam 09.00-10.00 di Rumah Al-Qur’an. Moga dimudahkan untuk hadir. Jazakillah..”

Pas baca sms ini saya malah blank. Nguiiingg… tapi terus sujud syukur sambil terus mbatin ini nggak salah kirim kan? Broken parah lah saya kalo ternyata salah kirim T.T Akhirnya saya putuskan untuk mengirim sms ke panitia. “Bener nih mbak, saya keterima???”, berkat sinyal XL yang Xlalu lagi bermasalah, sms jam 18.30 baru diterima pukul 21.00.. Saya digantung sama XL.

Akhirnya ada reply dari musyrifah sana. It’s true, I’ve been accepted! Alhamdulillah…

Bagi saya keterima di sini sungguh bener2 nikmat yang besaaaar dari Yang Maha Besar. Dari sekian banyak yang mendaftar, RQ hanya menerima 7 orang santri. Hidup ke-7 orang ini gratisss! Malah dikasi uang saku segala. Selama 3 tahun…. Tiga tahun sodara2.. Tiga tahun untuk 30 juz!

RQ ini adalah proyek IKADI (Ikatan Dai Indonesia) dan di bawah bimbingan Lembaga Tahfidz Al-Hikmah Jakarta, specifically kami dibina langsung oleh Ust. Riyadhus Shalihin. Lebih jelasnya saya juga belum tahu, lah wong hari ini briefing dan saya malah kemana.

Definitely, mimpi untuk daftar Indonesia Mengajar, mimpi kuliah di ISTAC atau di Leicester University, England akan ter-postpone… There must be someone who disappoint actually.. Maaf ya, saya memilih ini.

Dan sedikit banyak acara di Turki ini menggalaukan saya. Di sini saya ketemu sama para master degree -PHd candidate, dan juga Professor2 yang kerennya masyaAllah.. Nuansa akademisi, penelitian, jelas sekali.. diskusi tentang penemuan dan fakta2 terbaru dalam dunia Psikologi, tentang perkembangan praktisi di berbagai lingkup negara, semuanya.. hot news. Demi membayangkan ketidakberlangsungan studi formal saya selama 3 tahun ke depan demi fokus menghafal Al-Qur’an, sedikit banyak bikin agak… yah, gimana gitu. Ah.. kapan lagi saya ketemu orang2 ini ya? Kapan lagi saya bisa ada di antara mereka ya? Mana pas disini peluang beasiswa bejibun banyaknya, apalagi kalau mereka tahu kamu masih undergraduate student and potentially need scholarship, surely.. pintu beasiswa menganga dimana-mana.

Tapi.. saya nggak segalau itu kok. Tulisan di atas mungkin karena efek lampu temaram lobby hotel yang bikin saya jadi nulisnya rada melo *haha, ngeles ;P*

Bagaimanapun juga, saya akan lebih ngerasa nyesek kalau nanti waktu S2, S3.. ngomong ngalor ngidul soal manusia, soal jiwa (psyche= jiwa), soal hidup.. tapi malah nggak dong obatnya semua masalah dalam hidup. Even informasi tentang alam raya, teknologi, semuaanya dari buku itu. Dari Al-Qur’an. Sebenarnya bisa saja melanjutkan S2 di UGM, sambil nyantri. Tapi ndak taulah nanti..

Thus.. bismillah! Saya malah jadi makin mantep untuk nyantri di RQ. Tiga tahun dan pakai uang umat??? Bukan perkara sederhana! Setiap suap yang saya makan, tetes air yang saya keluarkan, sabun cuci yang saya pakai, bensin yang saya habiskan.. semuanya uang umat. Wakaf dari banyak orang. Semoga berkah, dan semoga lagi.. semoga saya bisa mempertanggungjwabkan uang-uang ini semua. Harta-harta ini semua. Lagipula boleh lah meniru Steve Jobs, yang mutusin untuk nggak melanjutkan studinya. Ya kan? :) Toh 3 tahun ngapal bukan berarti saya nggak bisa nambah ilmu? Banyak sekali buku2 Psikologi, atau yang lainnya.. yang selama ini baru saya baca, baru dipahami sedikit, belum sampai pada tahap mengkritisi. Toh saya mau men-seriusi wirausaha yg sdh ada. Toh saya juga masih kuliah satu lagi. Dan toh-toh lain yang banyak kalau mau di list.

Jadi inget kata temen akrab saya yang kemarin baru pulang dari Amerika, dan beasiswanya bikin saya mupeng juga. Kata Dwi “Hus.. ini mah luar biasa, ini beasiswa dari Allah langsungg!”. Terimakasih wi, sudah menguatkan! Meski kalau dipikir ulang, beasiswa Dwi ke USA kemarin dari Allah juga kan ya -_____-, ahha.

Dan lagi pas ngomong sama Bapak Ibu, mereka setuju2 wae.. Dan FYI bapak saya sempet mengusap-ngusap mata pake tisu pas saya cerita. Ahahaha, ternyata bakat melo ini turunan Bapak! Tanggung jwab Pak! :P

Yap, mari menanti betapa indahnya hari-hari, bulan-bulan, tahun-tahun yang akan datang! :D

“Barangsiapa membaca Al-Qur’an dan mengamalkannya, maka pada hari kiamat akan dipakaikan kepada keduaorangtuanya sebuah mahkota yang berkilau, yang sinarnya lebih baik dari sinar mentari, maka keduanya berkata: Mengapa kami diberi mahkota ini? Maka dikatakan: Karena anakmu mengambil (membaca dan mengamalkannya) Al-Qur’an”. [HR Abu Dawud, dan Al-Hakim]

“Sesungguhnya Allah mempunyai keluarga di antara manusia, para sahabat bertanya. Siapakan mereka ya Rasulullah? Rasul menjawab, para ahli Al-Qur’an. Merekalah keluarga Allah dan pilihan-pilihan-Nya.” [HR Ahmad]

Amiiiiiiinnnn, jadi… sampai jumpa Indonesia Mengajar, ISTAC dan Leicester.. may see u someday. InsyaAllah! :D